Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label Jejak Dan Untaian Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Jejak Dan Untaian Kenangan. Show all posts

15 Aug 2013

Oleh-oleh

Wal-Hasil jalan berdua, eh bertiga nding sama Choirun Nisa dan Adawiya. Meskipun masih saudara tapi rasanya masih malu gimana gitu, wong udah sama2 gedhenya kok. Beda nek masih kecil dulu, jalan-jalan berdua cuma pake celana pendekpun nggak masalah, wong anak kecil. Tapi nggak apalah, yg penting nggak nglakuin yg macem-macem.

Hari ini aku bersama Choirun Nisa pergi ke rumah guru-guru SD kami, namun tak satupun kami jumpai, ada yang sedang resepsi pernikahan, ada yang lg pergi, ada juga yang emang masih mudik. Justru kami malah ketemu sama mantan tukang kebun SDN Wotsogo 2, SD tempat kami belajar dahulu.

Namanya akrabnya Pak Bin, orgnya baik bgt. . . .seingatku memang beliau ini nggak pernah sekalipun mengeluh, selalu saja senyum dan candaan yang keluar dari bibirnya. Tadi, Pak Bin ini berkisah banyak soal hikayat hidupnya, dari dulu aku selalu tertarik dengan dongengan dan cerita2 Pak Bin. Sejak masih SD aku selalu menduga2 nama aslinya, aku dulu sempat mengira namanya Pak Bin-tang, namun ternyata dugaan itu salah. hehehe. . .

Aku anggak beliau ini org yg cukup sukses di bidang pertukangan kebun, mengapa?? Meskipun beliau cuma tukang kebun namun beliau ini telah dengan sukses mengantarkan anak2nya meraih gelar sarjana. Salut. Dan tadi, beliau sempat membagi resep kesuksesannya itu, makasih Pak Bint.

***

Akhirnya aku bisa berjumpa kembali dengan sobat sekaligus kakak sepermainanku sejak TK dulu. Mbak Ima. Udah gedhe ternyata si mbakku yg tomboi ini. Cantik lagi.

Seiring beputaenya bumi, semua jadi ikut berubah, dan tak ada yg bisa mencegah, aku rasa baru kemarin aku TK dan diajak main sama Mbak Ima, tapi hari ini kita ketemu udah sebagai remaja muda yang . . . .beda bgt dg jaman dulu  . . . .

 

 

(*)Nostalgia dengan mbak ima membuatku berjalan2 di masa Tk-ku dulu 

9 Aug 2013

Cleaning My Heart


,,semua sudah terjadi. Menangis untuk hari kemarin adalah hal bodoh yang harus aku tinggalkan. Menatap hari esok, kupikir jauh lebih berguna daripada hanya diam seperti ini. Harus ada perubahan.
Untuk semuanya saja, maaf aku tak bisa menjadi apa yang kalian inginkan. Untuk sahabatku, maaf aku tak bisa menjadi sahabat terbaikmu, bahkan aku merusak tali persahabatan kita dengan sebuah hal bodoh yang seharusnya tak pernah kuungkapkan, terkadang berbohong memang aku perlukan, semisal untuk hal-hal seperti ini.
Untuk orang yang menyandarkan hatinya pada padaku, aku juga minta maaf, karena aku tak lagi kuasa untuk kau jadikan tempat bersandar. Aku tahu, di luar sana ada ribuan manusia yang jelas-jelas jauh lebih baik dariku, sebab itu, sekarang pergilah! Jangan penjarakan hatimu dalam tubuhku, karena aku bukan tempat yang baik untuk kau jadikan dermaga, terlebih menambatkan jangkar dan berhenti. Carilah apa yang menurutmu baik, kita tetap teman, tapi aku akan mencoba untuk menghapus semua hasrat itu hari ini. Aku tak mau lagi menahanmu, toh aku juga tak kuasa untuk menahanmu.
Temanku sempat berkata padaku, "menulis nama seseorang di setiap sudut ruang nyatamu, adalah hal paling riil yang membuktikan bahwa kau mencoba memaksa dirimu untuk mencintai pemilik nama itu, cukup simpan saja namanya dalam dada, dan biarkan dia tersenyum di sana. Tak perlulah berjanji manja, karena itu adalah akhir dari kebersamaanmu suatu ketika". Maaf hati.
Sering kali aku mengucapkan kata maaf, dan itu justru membuatku terlihat begitu bodoh. Ya, sangat bodoh. Seharusnya kata maaf itu tak perlu tercipta di dunia ini, karena maaf dalam lamunku adalah simbol kebodahan yang telah kau perbuat, dan baru kau sadari hari ini, dan sebelum itu kau tak pernah mau berfikir bahwa ketika sudah melakukan sesuatu kau perlu kata maaf untuk mengulangi semua, berharap orang-orang di sekitarmu mau melupakan kebodohanmu.
Hari ini, aku masih tak mengerti apa yang harus aku perbuat lagi. Aku tak bisa memaksa hati. Dia seolah-olah berjalan sendiri tanpa menuruti apa yang aku instruksikan dari otak. Seenaknya saja.
Hari ini, aku seolah-olah berlagak menjadi orang paling menyesal di dunia karena telah melakukan sebuah kesalahan besar. Namun aku tak tahu bagaimana dengan hari esokku, akankah masih sama atau sudah melupakan semua ini.
Untuk sahabatku, Anin. Tanpa peduli seberapa bencinya dirimu padaku sekarang, sesuai dengan pilihan hati, kamu tetap akan menempati tempat bernama "Ruang Sahabat" dalam hatiku. Meski esok atau seterusnya tak lagi kudengar suara candamu, suara marahmu, suaramu ketika meremehkanku, aku akan tetap menyimpan semua nada yang pernah terlantun dan sempat kita lewati sebagai seorang "teman".
Untuk sahabatku, Anin. Mungkin, bahkan memang aku tak mungkin dapat melebihi dirimu, tapi setidaknya melihat seorang temanku dapat membusurkan senyumnya, itu sudah cukup untukku. Sudah cukup untuk membuatku juga tersenyum, meskipun kamu tidak tahu. Aku yakin kamu tidak akan pernah tahu, karena aku menyembunyikannya sejak aku mulai mengenalmu.
,,ah bukan. Bukan, aku bukan bermaksud untuk memaksamu melupakan kebodohanku tempo hari. Itu semua terserah kamu. Aku selalu percaya, menjadi pemuja rahasia, itu jauh lebih baik. Tersenyum dengan sembunyi-sembunyi saat kamu bahagia itu lebih baik, karena aku memang orang yang gagal dalam banyak hal, termasuk menjadi temanmu.
,,ah bukan. Bukan, aku bukan mengutuki diriku sendiri.
Untuk sahabat diamku, aku akan selalu merindukan merajut kisah bersama dirimu.
Tersenyum untuk sahabatku, meski tak terbalas tak apa, karena ssahabat bukan menggunakan rumus aksi reaksi. Bahkan Enstein sekalipun tak akan sanggup membuat rumus yang pas itu sebuah persahabatan.
Untuk sahabatku, Anin. :-)

2 Jul 2013

Bertemu Sobat Terbaikku

Satu Momentum Indah!
Akhirnya kita bertemu gays. . .
Sobatku, senang rasanya berjumpa kembali denganmu, meskipun aku harus rela meluangkan waktu cukup lama untuk menunggumu bangun dari tidur pagimu, tak apa, aku tetap senang -Menye-menye Mode ON-
Gayz, makasih buat oleh-oleh bukunya. Buku ganjel LCD, katamu kemarin melalui sms. Ternyata kamu nggak banyak berubah, cuma sedikit lebih gemuk, namun still beauty kok. . -opo kuwi??-
Maaf gayz, aku bener nggak tega bilang kabar itu ke kamu. Terlebih saat kamu banyak bercerita soal cowokmu, namun aku yakin suatu hari nanti kamu akan tahu dg sendirinya, dan semoga saja saat kau mengetahui hal itu, kamu sudah siap. Ya, semoga saja.
Anin, mungkin tadi sengaja datang terlambat, barangkali dia berpikir aku akan jengkel dengan keterlambatannya, namun sorry-sorry wae. . .wis kebal dg wataknya si Anin. Gadis dengan kacamata berframe mirip punya Dewi.
-
Menjengkelkan benar rupanya hari ini,niat arep ngenet ning Abadi, eh malah lahan privateq wis dipakai orang.....-Sial-
eh, tadi aku papasan sama Maya n Mbak Wieke, ya Allah,makin cantik aja mereka berdua. Maya sekarang juga pakai kaca mata, haloah. . .wis pada berevolusi dhewe2. . .

(Suwe gak ngonthel, pegel bgt rasane)

1 Jul 2013

Menyapu Panggung Kenangan


Alhamdulillah, pukul 14.15 tadi wis sampai lagi di rumah. Liburan kurang lebih 5hari wis habis aku buang nikmati di Kota Pahlawan. Nggak terasa sebentar lagi tgl 5 Juli, artinya tak lama lagi aku harus kembali ke pondok. Piyeee ngono rasane.
Sepanjang perjalanan pulan tadi, aku berkali-kali tersenyum dalam hati. Ya, banyak memoar2 lama yang kembali terbuka. Semisal soal gadis masa kecil (pas aku kelas 5 SD) yg kalo nggak salah namanya Yolanda. Ya, tetangganya lek Rina ini dulu suka iseng2 deketin aku... wkwk malah pernah sampai dikipasin dan esoknya aku demam -Dasar bocah-. Namun sayang, kemarin pas aku ke Surabaya lagi, Yolanda wis nggak ada di rumah. Ya saudara2 dia pindah rumah. Sekali lagi PINDAH RUMAH!!. Tapi tujuanku ke Surabaya (Sby) sebenernya nggak buat menemui si Yolanda, aku cuma pengen liburan ae.... sekalian liat megaproyekku Pakuwon City (OK, yg ini Fitnah).
Selain si Yolanda, masih banyak lagi kenangan yang tadi kembali aku tapaki. SDN Kebonsari contohnya, yapz dulu semasa SD aku sering berkunjung ke tempat itu. Aku sering mewakili Jatirogo untuk maju dalam beberapa bidang lomba, seingatku ada kurang lebih 4 kompetisi yang aku jalani di SDN Kebonsari, setidaknya SDN itu pernah menjadi saksi bisu si Rama Kecil. . .
atau yang lebih mengesankan lagi adalah Jalan Pramuka dekat kantor polisi Tuban. Yupz... itu adalah kenangan yang paling menjengkelkan semasa aku SMP, aku ingat betul aku pernah ke sana, ke Gd. Juang 45 tepatnya dalam guyuran hujan. Maksud hati ingin ikut seminar anti narkoba, eh jebul mak jebul malah ada perubahan jadwal... ASEM tiwas kesel2 mangkat bahkan hampir ae berantem sama kondektur, eh malah nggak jadi. Nasib2. Untunglah hari itu ada Kak Galuh. Dialah malaikat penolong kami, melihat aku dan Bagus Firman Suboyo kehujanan mirip kucing kampung, sepertinya tumbuh rasa iba di hati Kak Galuh, al-hasil kami diajak ke Gd. Pramuka yg saat itu baru saja dibangun. Baru Jadi. Dan siangnya kami pulang dengan wajah kecewa. Huft!!! MENYEBALKAN!!
Namun sodara2, masih ada kenangan yang lebih menyebalkan dari itu. Ya, kenangan yg tak alami bersama Anin, Ega, Rina Rosi dan si Smohai Firman. Yah itu, kenangan eh lebih tepatnya tragedi tentang mading dg tema layout “ONGKEK KALAWARTA”!! Yezz, kegagalan pada mading itu sempat berhasil melukis wajah frustasi di wajah Pak Dad. Sampai2 kami semua khawatir nek Pak Dad bunuh diri nyemplung ke laut.... Lebih sialnya, pas pulang mobil box sing di sopiri oleh beliau melaju dengan kecepatan tinggi dan pada akhirnya BRRAACKKKKH!! Hampir ae nabrak truk bemuatan. Akibat dari kejadian ini memang sih nggak ada korban jiwa, tapi 4 orang dari kami sukses terkolep-kolep mabuk dan “hweekkk” muntah saudara-saudara. Dalam mobil itu cuma aku n Rina sing sukses nggak muntah -Kondang Pow Ra??-
sebenarnya masih banyak kenangan2 yang baru saja aku tapaki ulang tadi, namun aku pikir beberapa kenangan itu biarlah tetap aku simpan di hatiku saja. Cukup aku dan mereka saja yang tahu. Kenagan itu untuk di kenang, karena kenangan memang sebuah cerita untuk dikenang, cocok untuk dilamunkan ketika selendang merah dilangit mulai dibentangkan.
NOW_PLAYING_@EBIT_G_ADE_Berita Kepada Kawan

18 Dec 2012

Adaptasi


Aku jadi lebih percaya denga adaptasi jauh sebelum hal itu dijelaskan di bangku kelas 4 SD dulu, karena aku sendiri memang mengalaminya dalam kehidupanku, bahkan sebelum aku pandai menulias a. . . .b. . .c. . .
Witting tresna jalaran saka kulina, sip. Itulah yang aku maksud. Semasa kecil aku adalah anak yang tidak suka mendengar suara yang kerasnya melebihi suaraku, karena aku menganggak itu adalah suara seseorang yang memarahiku. Tak terkecuali dengan suara tape yang kau tahu tak mungkin pelan, namun lama waktu mengalir telinga ini malah jadi terbiasa mendengar suara genjrengan dan vokal Iwan Fals yang tiap hari tak pernah absen bernyanyi dalam radio, begitu juga dengan suara band Koes Plus dan Peterpan.
Entah mengapa, mungkin karena memang terbiasa aku jadi hafal lagu-lagu mereka, bahkan hingga hari ini, dan entah mengapa pula aku belum merasa bosan dengan suara mereka.
Mungkin pada hakikinya benar, kau hanya perlu mengetahuinya sekali kemudian menyukainya sehingga kau mudah mengingatnya dan saat itulah kau sedang merasakan cinta.

Jendela Jeruji


Kenangan menarik saat aku masih duduk di bangku TK dengan seragam polisi yang membuatku selalu percaya diri sekalipun saat itu akumasih cengeng, bahkan tinggiku tak melebihi tinggi kursi tempatku duduk sekarang.
Aku ingat betul saat itu tepat di belakang rumahku yang kini di tempati pamanku, masih beroprasi kereta api dengan beberapa gerbong yang turut berjama'ah di belakang lokomotifnya.
Seumur hidup (hingga kini, kan aku belum mati) aling tidak aku pernah menaiki kereta api tersebut sebelum berhenti beroperasi karena suatu hal yang aku sendiri tak tahu.
Sepulang sekolah, waktu itu aku sedang asik bermain ala anak TK dengan sepupuku, Mbak Ima. Di tengah asiknya permainan terdengar suara kereta api yang hendak beranjak dari stasiun, dengan buru-buru kami berdua memasukkan kepala kami ke jendela dengan jeruji yang berbaris horisontal demi melihat kereta.
Kepala kami masuk bersamaan, namun sial teori kecil kami yang mengatakan “sesuatu yang masuk pasti bisa keluar” terpatahkan begitu saja, karena kepala kami berdua terjepit dan sialnya tak ada orang di rumah saat itu, jadi hingga sore hari itu kepala kami terperangkap, wal-hasil, jendela harus jadi korban. '-'

Berubah!


Hmm . . . lucu juga jika ingat di waktu kecilku begitu terobsesi dengan film-film fantasi seperti “Power Ranger”, “Kamen Rider”, “Kabutaku”, “Doraemon” (bahkan yang ini masih terbawa hingga kini, dan masih banyak lagi film-film lain yang membuat otak seolah-olah ingin bisa bahkan menyamai apa yang aku lihat saat itu.
Satu hal yang paling berkesan yakni saat yang aku lihat aku bayangkan jadi latar dalam film power ranger, al-hasil. . he. .he . . jadi berlaga sok pahlawan dengan atribut seadanya sebagai senjata. Namanya juga anak-anak.
Khayalan dari seorang anak jauh dari sebuah bahkan jutaan batas. Dulu aku menganggap hidup itu sesimpel mengeluarkan alat dari kantong doraemon jika menghadapi masalah, namun kenyataannya hidup serumit teka-teki dalam kartun faforitku, Detektive Conan. Bagaimana dengan hidupmu?

Mata Kecil


memori pertamaku saat itu mungkin sudah sangat berfungsi, saat aku masih sering digendong oleh orang yang sering aku panggil “ibu”. Aku ingat saat malam aku kecil selalu membangunkan ayahku dari lelapnya malam untuk menuruti keinginanku mencari buah mangga yang terjatuh dari pohonnya alias “codotan”. Aku ingat betul saat itu warga dusunku masih sangat rukun mudah mengikhlaskan sesuatu termasuk buah yang jatuh tadi, dan apakah kau tahu apa yang dilakukan ayahku jika malam itu tak ada codotan? Ayahku menggendongku kemudian mengajakku ke garu/os ronda lalu memintakan cemilan mereka untukku. Munkinakah itu masih bisa terjadi saat ini?
Drum/tong air dari besi juga jadi saksi masa kecilku yang nakal, drum dengan air yang tak pernah hangat itu menjadi alat hukuman untukku. Kau tahu, aku selalu dimaukkan ke dalamnya jika sikapku dianggap sudah kelewatan oleh orang tuaku. Kau perlu tahu aku sangat rindu masa-masu itu.
Aku kecil sekarang ada dalam sanubariku, menjadi kenangan dan terkadang jadi lamunan saar matahari hampir tenggelam.

Srigala Kecilku


Seperti yang pernah ku tulis “Setiap Jiwa Punya Srigala”, begitupun dengan diriku, kerana aku juga punya jiwa. >_< Sekalipun saat itu masih kecil tapi aku rasa srigala dalam diriku sudah sering hadir, bahkan menguasaiku.
Suatu ketika, saat setelah beberapa minggu aku mendapat title kakak, rasa cemburu pada adikku mulai muncul. Kau tahu semenjak saat itu aku menjadi pisau yang selalu dijauhkan oleh ibuku dari adikku. Aku tahu mereka sayang juga padaku, namun sayang itu terlambat karena aku sadar akan hal itu setelah usiaku +7 tahun, dan sungguh sial aku terlanjur meletuskan kecemburuanku itu.
Suatu sore di bawah lampu putih panjang, tanpa sadar aku raih tangan kiri adikku, dan kau tahu apa yang terjadi? Srigala itu menggigit tangan mungil tek berdosa itu. Hey! Bukan aku yang melakukan, tapi sial memang mulutku yang saat itu menempel di tangan kirinya.
Jeritan tangis bayi kecil dengan popok dan baju berenda membuat dua tamparan mendarat di kedua pipiku, dan aku tahu suara tangisanku saat itu ternya la lebih tinggi dari adikku, tak ada yang menolongku saat itu, semua memeluk adikku. Mungkin mereka tahu aku tak seharusnya seperti itu, atau mungkin mereka menghukumku dan membiarkan aku dipelukan srigala.

Subtitusi Preman


Ini sebuah kenangan dari teman yang pernah duduk sebangku denganku saat kelas VIII tempo dulu.
Andreas Vernando Setiawan, laki-laki bertubuh atletis dengan kulit putih serta otak quad core menjadi sifat yang tersimpan dalam sikap diamnya Mungkin baginya diam adalah belajar, dan aku rasa pandangan hidupnya adalah semua hal dapat dihitung dengan pasti. Ia memang jarang berinteraksi, paling-paling berinteraksi kalo soal “curi” jawaban, itupun tidak sering.
Sulit memang jika ditulis bagaimana wataknya serta kesehariannya, yang pasti ia pernah mendapat gelar “preman” dari diamnya itu Mungkin ia sedikit bangga dengan gelar itu, karena semenjak saat itu ia jadi sering terlambat berangkat sekolah, andai kau tahu dirinya aku takkan sulit menceritakan hal ini padamu betapa santai anak satu ini.
Ia juga adalah seorang “tukang” paku saat kegiatan pameran seni rupa diakhir semester dulu.
Kenangan ini akan menarik jika kau pernah berjumpa dengannya, karena kenangan milik jiwa-jiwa yang terkenang

Srigala Kecilku


Seperti yang pernah ku tulis “Setiap Jiwa Punya Srigala”, begitupun dengan diriku, kerana aku juga punya jiwa. >_< Sekalipun saat itu masih kecil tapi aku rasa srigala dalam diriku sudah sering hadir, bahkan menguasaiku.
Suatu ketika, saat setelah beberapa minggu aku mendapat title kakak, rasa cemburu pada adikku mulai muncul. Kau tahu semenjak saat itu aku menjadi pisau yang selalu dijauhkan oleh ibuku dari adikku. Aku tahu mereka sayang juga padaku, namun sayang itu terlambat karena aku sadar akan hal itu setelah usiaku +7 tahun, dan sungguh sial aku terlanjur meletuskan kecemburuanku itu.
Suatu sore di bawah lampu putih panjang, tanpa sadar aku raih tangan kiri adikku, dan kau tahu apa yang terjadi? Srigala itu menggigit tangan mungil tek berdosa itu. Hey! Bukan aku yang melakukan, tapi sial memang mulutku yang saat itu menempel di tangan kirinya.
Jeritan tangis bayi kecil dengan popok dan baju berenda membuat dua tamparan mendarat di kedua pipiku, dan aku tahu suara tangisanku saat itu ternya la lebih tinggi dari adikku, tak ada yang menolongku saat itu, semua memeluk adikku. Mungkin mereka tahu aku tak seharusnya seperti itu, atau mungkin mereka menghukumku dan membiarkan aku dipelukan srigala.

UNIQ


Ini kisah ketika aku baru bisa bilang “R” dengan jelas dan fasih, entah di usia berapa aku saat itu, yang pasti aku masih ingat di tangan kiriku ada 3 benjolan yang berisi air, dan jika pecah akan kembali utuh lagi. Aku sudah berobat ke dokter, tapi naas penyakit “dompo” itu masih saja menempel di lenganku, hingga tetanggaku menyarankan untuk meminta bantuan duda beranak satu. Wal-hasil esoknya aku dibawa kerumah orang tersebut dengan membawa cikalan dan gula merah. Awalnya k pikir untuk apa, eh taunya dua barang tadi digunakan untuk dikunyah dan brush. . Disemburkan ke lenganku. Sumprit bau banget. . .mana orang itu bilang jangan dilap lagi. . .tapi الحمد لله esoknya langsung sembuh.
Beda lagi saat aku sakit cacar dan tak kunjung sembuh, inuku entah saran siapa memandikan aku dengan rinso, brr anget sih. . .
atau saat tangan kananku tak bisa ditekuk akibat jatuh saat belajar sepeda onthel. Teman ayahku kemudian mengoleskan minyak bulus dengan bau yang buff mulek-mulek ke sikuku, dan alhamdulillah sorenya langsung sembuh.
he. . he. . .mungkin sebenarnya ada banyak, tapi kapan-kapan aja dah.

Kebanggaan?


Entah hari apa itu, yang jelas dalam foto itu aku mengenakan seragam pramuka bersama temanku saat kejadian ini berlangsung.
Siang yang belum muncul diawali dengan guyuran air dari langit yang entah berapa butir yang membuat basah roda sepeda dan jalan yang saat itu baru saja diaspal. Pagi yang tak cerah itu, aku dan Frans mengayuh sepeda onthel yang kami anggap “keren” menuju ke SMA 1 Jatirogo, dengan tujuan mewakili SMP untuk ikut lomba blog di SMA dalam rangka ulang tahun sekolah yang berlokasi di Bader. <short story>
Awalnya ku pikir yang akan ikut lomba tersebut adalah semua sekolah di kota ini, eh taunya. . . . .yang ikut cuma 3 sekolah, dan juaranya 1-3 = bohong
last story, aku dan Frans memang pulang denga membawa piala juara pertama, teman-teman yang lihat tampaknya punya anggapan kami seorang blogger yg hebat karena yang merekatahu kami berlomba dengan banyak sekolah. Wkwkwkwk . . .jujur saja aku merasa seperti melakukan pembohongan pada temanku. (Kalo dulu ketahuan paling sudah buah ini muka jauh-jauh)

Someone?


Tokoh spesial selalu ada dalam hidupku, baik tokoh idola atau tokoh yang lebih dekat dari seorang idola. Bahkan dalam hidupku banyak tkh yang benar-benar aku idolakan. Saat aku ditimangan, ibuku adalah idola ertaaku, ketika malam ayah adalah idola dalam pelukanku, saat usiaku 5 tahun idlaku adalah mbak berambut panjang yang selalu menjadi temanku, saat aku di tanah orang yang kini telah pergi adalah idola baruku. Saat aku duduk di bangku SD kelas 4 rasul-Nya yang terakhir adalah idolaku, saat aku SMP seseorang dengan senyuman dari wajah dengan balutan jilbab yang tampak anggun juga jadi idolaku, juga dengan pria berkumis tebal yang selalu membuatku berinspirasi. Banyak lagi tokoh ekstern yang jadi idolaku yang kini berpengaruh dalam karakterku baik sedikit atau mungkin secara garis besar. Yang perlu kau ketahui, sekalipun aku banyak idola, aku tak pernah melupakan idola-idola lain karena mereka memang ada dalam karakterku.
Mungkin.

APSAS Part 1


Salah satu kenangan yang masih mendekan di waktu SMP adalah ketika Apresiasi Seni dan Sastra, dimana saat itu akulah yang jadi ketua penitia. Saat itu aku kelas IX-F, kelas yang selalu aktif dalam banyak kegiatan dan selalu menjalin kebersamaan sekalipun kadang tidak berhasil.
Kegiatan APSAS ini merupakan tradisi kelas “F” tipa tahunnya yang tak boleh dilewatkan. Yang aku ingat saat itu adalah bulan Nopember, bulan yang jadi puncak kesibukan mengatur banyak hal mulai dari stting panggung, lampu, persiapan untuk drama dll. Jujur saja aku sempat dibuat bingung saat berhadapan dengan masalah dana, karena dalam hal ini sekolah tidak membantu, semboyan “sekolah masih kaya” sempat dipatahkan oleh Bu Endah, karena sejatinya kegiatan ini memang murni milik siswa. Pada hari kenangan itu, banyak karya yang tampil, termasuk 2 drama dari kelas IX, dan dua drama dari adik kelasku. Sayang malam itu turun hujan yang sempat mempause acara sejenak.
Kau harus tahu, “Ini apresiasi seni BUKAN pentas seni. Ingat itu!” Pak Dadija Oetama

APSAS Part 2


Semenjak apresiasi November lalu, tampaknya sekolah lain mulai melirik kemampuan anak-anak yang kemarin baru saja menampilkan karyanya. Terbukti, beberapa waktu kemudian ada tawaran untuk tampil dan mengapresiasi dengan anak-anak SMA. Memang saat itu banyak kendala, ya aku ingat betul jadwal kegiatan jadi korban karena harus ditunda sampai beberapa kali. Namun pada akhirnya, tanggal 8 Januari 2011, Di Ruang kesenian SMP 1 Jatirogo meraung suara sastrawan dan sastrawati, tak ketinggalan saat acara itu ditengah-tengah kami hadir seorang sastrawan Bojonegoro yang entah siapa namanya <lupa>. Yang jelas ia melakukan monolog yang wow. . .membuat atmosfir ruangan jadi panas.
SMP 1 snediri hanya mengeluarkan satu darama dengan judul “Hilangnya Happy Ending Story Maker”, sedang SMA menampilkan 2 karya yakni monolog dan drama pantomim. Puncak acara ditutup dengan acara diskusi.
“Hidup ini simpel, sesimpel saat kita dilahirkan. . . “ Monolog Pencuri Cabai,

APSAS Part 3


Satu kisah lagi yang asih berhubungan dengan kegiatan APSAS, khususnya pengalaman bersama Bu Endah soal monolog. Dalam acara APSAS Nopember lalau harusnya selain sebagai tukang ngatur musik, aku juga tampil membawakan monolog yang berjudul “Racun Tembakau”, namun karena banyak kendala, sehingga harus dibtalkan.
Awalnya monolog ini akan dibawakan oleh Pak Miun, namun karena “ke rese-annya” ia mengompori Bu Endah agar menunjukku menampilkan monolog itu. Pikirku, sebenarnya nggak masalah sih, asal yang melatih Bu Endah. Paling tidak aku akan belajar bagaiman monolog itu.
Jadwal tayang yang makin sempit, sedang aku belum benar-benar menguasai naskah 8 lembar itu. Satu hal yang sempat membuatku jengkel adalah ketika aku mencoba marah tapi malah membuat orang tertawa dengan mimikku ini.Hingga pada hari H, ekspresi itu masih sulit kudapatkan sehingga apa boleh buat ilmu nekat tampil harus diasah. Tapi jujur saja jelang hari H aku agak pontang-panting saat beberapa persiapan belum benar-benar siap termasuk hal panggung, sehingga badan agak lemas saat itu. Hujan saat itu juga menjadi salah satu faktor aku tidak jadi tampil. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk seorang yang tak punya ekspresi

23 Dec 2011

APSAS Part 3


Satu kisah lagi yang asih berhubungan dengan kegiatan APSAS, khususnya pengalaman bersama Bu Endah soal monolog. Dalam acara APSAS Nopember lalau harusnya selain sebagai tukang ngatur musik, aku juga tampil membawakan monolog yang berjudul “Racun Tembakau”, namun karena banyak kendala, sehingga harus dibtalkan.
Awalnya monolog ini akan dibawakan oleh Pak Miun, namun karena “ke rese-annya” ia mengompori Bu Endah agar menunjukku menampilkan monolog itu. Pikirku, sebenarnya nggak masalah sih, asal yang melatih Bu Endah. Paling tidak aku akan belajar bagaiman monolog itu.
Jadwal tayang yang makin sempit, sedang aku belum benar-benar menguasai naskah 8 lembar itu. Satu hal yang sempat membuatku jengkel adalah ketika aku mencoba marah tapi malah membuat orang tertawa dengan mimikku ini.Hingga pada hari H, ekspresi itu masih sulit kudapatkan sehingga apa boleh buat ilmu nekat tampil harus diasah. Tapi jujur saja jelang hari H aku agak pontang-panting saat beberapa persiapan belum benar-benar siap termasuk hal panggung, sehingga badan agak lemas saat itu. Hujan saat itu juga menjadi salah satu faktor aku tidak jadi tampil. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk seorang yang tak punya ekspresi

APSAS Part 2


Semenjak apresiasi November lalu, tampaknya sekolah lain mulai melirik kemampuan anak-anak yang kemarin baru saja menampilkan karyanya. Terbukti, beberapa waktu kemudian ada tawaran untuk tampil dan mengapresiasi dengan anak-anak SMA. Memang saat itu banyak kendala, ya aku ingat betul jadwal kegiatan jadi korban karena harus ditunda sampai beberapa kali. Namun pada akhirnya, tanggal 8 Januari 2011, Di Ruang kesenian SMP 1 Jatirogo meraung suara sastrawan dan sastrawati, tak ketinggalan saat acara itu ditengah-tengah kami hadir seorang sastrawan Bojonegoro yang entah siapa namanya <lupa>. Yang jelas ia melakukan monolog yang wow. . .membuat atmosfir ruangan jadi panas.
SMP 1 snediri hanya mengeluarkan satu darama dengan judul “Hilangnya Happy Ending Story Maker”, sedang SMA menampilkan 2 karya yakni monolog dan drama pantomim. Puncak acara ditutup dengan acara diskusi.
“Hidup ini simpel, sesimpel saat kita dilahirkan. . . “ Monolog Pencuri Cabai,

APSAS Part 1


Salah satu kenangan yang masih mendekan di waktu SMP adalah ketika Apresiasi Seni dan Sastra, dimana saat itu akulah yang jadi ketua penitia. Saat itu aku kelas IX-F, kelas yang selalu aktif dalam banyak kegiatan dan selalu menjalin kebersamaan sekalipun kadang tidak berhasil.
Kegiatan APSAS ini merupakan tradisi kelas “F” tipa tahunnya yang tak boleh dilewatkan. Yang aku ingat saat itu adalah bulan Nopember, bulan yang jadi puncak kesibukan mengatur banyak hal mulai dari stting panggung, lampu, persiapan untuk drama dll. Jujur saja aku sempat dibuat bingung saat berhadapan dengan masalah dana, karena dalam hal ini sekolah tidak membantu, semboyan “sekolah masih kaya” sempat dipatahkan oleh Bu Endah, karena sejatinya kegiatan ini memang murni milik siswa. Pada hari kenangan itu, banyak karya yang tampil, termasuk 2 drama dari kelas IX, dan dua drama dari adik kelasku. Sayang malam itu turun hujan yang sempat mempause acara sejenak.
Kau harus tahu, “Ini apresiasi seni BUKAN pentas seni. Ingat itu!” Pak Dadija Oetama

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More