Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Kenangan. Show all posts

15 Aug 2013

Oleh-oleh

Wal-Hasil jalan berdua, eh bertiga nding sama Choirun Nisa dan Adawiya. Meskipun masih saudara tapi rasanya masih malu gimana gitu, wong udah sama2 gedhenya kok. Beda nek masih kecil dulu, jalan-jalan berdua cuma pake celana pendekpun nggak masalah, wong anak kecil. Tapi nggak apalah, yg penting nggak nglakuin yg macem-macem.

Hari ini aku bersama Choirun Nisa pergi ke rumah guru-guru SD kami, namun tak satupun kami jumpai, ada yang sedang resepsi pernikahan, ada yang lg pergi, ada juga yang emang masih mudik. Justru kami malah ketemu sama mantan tukang kebun SDN Wotsogo 2, SD tempat kami belajar dahulu.

Namanya akrabnya Pak Bin, orgnya baik bgt. . . .seingatku memang beliau ini nggak pernah sekalipun mengeluh, selalu saja senyum dan candaan yang keluar dari bibirnya. Tadi, Pak Bin ini berkisah banyak soal hikayat hidupnya, dari dulu aku selalu tertarik dengan dongengan dan cerita2 Pak Bin. Sejak masih SD aku selalu menduga2 nama aslinya, aku dulu sempat mengira namanya Pak Bin-tang, namun ternyata dugaan itu salah. hehehe. . .

Aku anggak beliau ini org yg cukup sukses di bidang pertukangan kebun, mengapa?? Meskipun beliau cuma tukang kebun namun beliau ini telah dengan sukses mengantarkan anak2nya meraih gelar sarjana. Salut. Dan tadi, beliau sempat membagi resep kesuksesannya itu, makasih Pak Bint.

***

Akhirnya aku bisa berjumpa kembali dengan sobat sekaligus kakak sepermainanku sejak TK dulu. Mbak Ima. Udah gedhe ternyata si mbakku yg tomboi ini. Cantik lagi.

Seiring beputaenya bumi, semua jadi ikut berubah, dan tak ada yg bisa mencegah, aku rasa baru kemarin aku TK dan diajak main sama Mbak Ima, tapi hari ini kita ketemu udah sebagai remaja muda yang . . . .beda bgt dg jaman dulu  . . . .

 

 

(*)Nostalgia dengan mbak ima membuatku berjalan2 di masa Tk-ku dulu 

18 Apr 2013

Seperti Seharusnya.


Tak ada do'a yang tak terdenganr oleh-Nya. Ya, aku percaya benar akan hal itu. Semua do'a pasti terkabul. Entah sekarang atau esok. Jangan khawatir.
Liburan UAN kelas XII Aliyah tahun ini adalah sebuah peristiwa yang sungguh merupakan kejutan untukku. Kupikir liburan kali ini telah menjawab semua permohonan yang pernah aku panjatkan, sekaligus ujung dari beberapa problema yang sempat menghantuiku. Hari ini semua terjawab sudah.
Pertama, soal Dewi. Tak ada lagi yang harus aku risaukan tentang dia. Itu adalah jalan yang ia pilih sendiri. Di liburan ini, aku benar-benar tahu bahwa dia menyimpan sebuah perasaan padaku. Ya, aku tahu itu dari beberapa temannya yang menceritakan gelagat aneh si Dewi, termasuk diary tentang aku yang ia tulis.
Ok. harus aku jelaskan dulu, aku memang kagum pada si Dewi. Sekali lagi kagum. Ya, kagum sodara-sodara. Mengapa? Karena kupikir ia adalah barometer baru yang harus aku taklukan. Awalnya aku menganggap ia adalah partner kerja, karena ia satu departemen denganku. Jujur, di mataku ia begitu hebat dengan style bicaranya. Kupikir aku harus banyak belajar darinya.
Namun suatu ketika, aku terjebak dalam perasaan aneh bernama asmara, aku sempat suka pada Dewi, sebelum akhirnya aku tahu bahwa si dewi ternyata sudah memiliki pacar. Aih, malang nasibku. Selain itu, di saat-saat seperti itu aku justru malah teringat pada Nia. Kekasihku semasa SMP. Hatiku lebih condong pada Nia, dan cenderung melupakan perasaan bodohku pada Dewi. Ya meskipun aku tak tahu apakah Nia masih ingat pada atau tidak. But it's no problem.
Masa-masa sulit akhirnya kutemui, banyak berita simpang siur tentang aku dan Dewi beredar. Dan hampir tiap malam aku berdo'a semoga Nia masih mengingatku, karena hatiku benar-benar kalut oleh rinduku padanya. Pada Nia bukan pada Dewi.
Banyak pula masalah-masalah internal yang aku dapati selama berteman dengan si Dewi, mulai dari kesalah pahaman, hingga masalah yang aku tak tahu sabab musababnya. Aku, Nia dan Dewi. Kisah yang begitu rumit sepertinya.
Dan hari ini semua lunas terjawab. Di liburan kali ini, aku sempat bertemu dengan Nia, dan subhanallah, ternyata Nia bukan hanya masih mengingatku, bahkan she still love me. Oh. So sweet ya Rabb.
Semua berjalan seperti seharusnya. Hatiku kembali terisi oleh Nia, begitupun hati Nia, kini terisi olehku. Ah, tidak. Kami tak berpacaran. Kami punya prinsip agar tak terlalu sering berkomunikasi, apalagi berjumpa. Karena dengan kebiasaan itu, halhal yang harusnya istimewa bisa berubah menjadi biasa. Tak lagi terasa indahnya. Intinya, aku menjaga hati untuk Nia dan juga sebaliknya.
Aku tak menyangka, ternya kesahrianku menulis nama “Nay” di pojok buku tulis akan berbuah seperti ini. Kebetulan? Ah maaf, aku tak begitu percaya dengan kebetulan. Karena aku yakin takdir memang berjalan dan tak pernah salah, jadi tak ada yang pantas disebut sebagai kebetulan.
Bahkan bukan hanya diriku, Ega kini juga merasakan hal yang membuat hatinya tenang. Seorang lelaki muslim berwajah arabic keturunan Minang telah menggandenganya, begitu juga dengan Evi. Anin kini sukses dengan karya-karya seninya. Sementara aku masih sukses menulis takdirku sendiri. Mengubah ambisi menjadi target.
Love n miss 4 u, Nay.

21 Feb 2011

Dalam Hati Untuk dibagi


Hah.. . . . . .sial-sial tugas numpuk, PR banyak nggak ada temen buat bantu ngerjain wah malang sekali nasib penulis blog ini. Yah. . .yah. . “BELAJAR MEMANG SUDAH JADI KEWAJIBAN MURID” itu sih kata guru-guru di kelasku. . .tapi, apa mereka tak tau kesibukan lain dalam hidupku? Lagi pula setiap pandangan matakan kalau menurutku itu juga belajar, dan menurutku lagi belajar itu bukan kewajiban tapi hak (wah sok tau padahal ulangan PKN tentang Hak dan Kewajiban aja Remidi). Aku punya dasar bilang begitu, menurutku untuk yang ketiga kalinya setiap orang berhak untuk belajar dan terus belajar meskipun pada kenyataannya itu nanti akan jadi kewajiban karena banyak diantara orang-orang lebih tepatnya anak-anak yang belum dapat kesempatan untuk belajar di sebuah forum atau lembaga resmi. Jadi pada intinya anakanak yang dapat kesempatan belajar di sekolah perlu mensyukurinya dengan rajin belajar. INGAT BERSYUKUR bukan wajib.
Kalau boleh cerita dikit nih, jujur aku terkadang bosan banget belajar di kelas yang yah. . . .Cuma gitu-gitu aja. Buka buku, ngerjakan soal, ulangan . . .menurutku itu cukup untuk membuat anak dengan otak rendahan seperti aku jadi cepat bosan. Apa lagi kalau gurunya juga nggak asik plus ngomongnya slowly banget. . . .wah jadi tambah ngantuk. Terlebih jika si guru yang katanya “pandai” itu nggak punya selera humor dan primitive (masih sering nyuruh anak-anak nyalin buku) wahwah tambah pengen cepet-cepat pulang terus tidur.
Terkadang aku bertanya apa sebenernya semua guru yang mengajar di sekolah itu bener-bener paham yang mereka ajarkan ke aku dkk? Atau cuma purapura tahu biar dianggap pandai sama muridnya? Wah-wah maaf nih sebelumnyabukan maksudku mau menjelek-jelekkan guru ntar bisa kualat aku. Tapi aku pernah liat temen-temenku tiba-tiba langsung bingung nyembunyikan Hp mereka di tempat-tepat rahasia di dalam kelas lantaran mereka semua tahu nanti siang akan ada operasi Hp. (saat itu dalam tata tertib jelas-jelas tertulis dilarang membawa Hp) Wah bodoh benar ini yang mau sweeping pelanggar tata tertib. masa mau sweeping kok sudah dibocorkan dulu. Yang paling buat aku terheran-heran, waktu beberapa orang guru yang aku ketahui sering memergoki anak-anak melanggar tata tertib eh. . . .malah di biarkan, padahal guru-guru terebut sering mengobral kalimat-kalimat teguran untuk para siswa. Memang dari segi akademis beberapa dari mereka lebih pandai, namun kalau hanya segi akademis saja menurutku itu belum bisa disebut pandai lagi pula hal-hal semacam yang saya sebutkan tadi itu tidak ada hubungannya sama sekali tapi lebih ke moral sosial (katanya guru IPS ku sih "MANUSIA" termasuk makhluk sosoial) meskipun dalam kenyataannya banyak yang mengabaikan itu. Sifat sosia itu sepertinya muncul paling jelas hanya waktu ujian atau ulangan saja.
Namun tidak semua yang ada di sekolahku membosankan, karena di sana ada cewek yang aku kagumi, guru-guru idolaku yang selalu ngasih jalan cerah untuk aku, ada wali kelas yang perhatian sama aku dan teman-temanku, bahkan biliau menganggap kami anak kandungnya, ada teman-temanku dengan segala keunikan masing-masing sehingga ada puluhan perbedaan yang menambah segar suasana dan yang terpenting ada sumber ide untuk menulis dan berkarya. Mungkin tanpa mereka aku tidak bisa menulis sekaligus memposting tulisan ini. Terimakasih semua.........

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More