Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label Pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

12 Aug 2013

Ruang Gerak

 

Pilihan kadang membuat kita menyesal, namun tidak memilih justru akan membuat kita terpuruk, dan tak jarang menjadikan kita sebagai orang yang munafik.

Ok, kemarin hari-hari sulit untukku. Kehilangan salah seorang sahabat terdekatku dan dan kehilangan seseorang yang biasanya aku jadikan sandaran hati. Setidaknya untuk saat ini aku tak akan membhongi mereka tentang apa yang sedang menggelayut di hatiku. Kadang untuk menjelaskan hal yang sepele itu sulitnya minta ampun, dalam keadaan biasa tentunya tak mungkin seperti itu, namun pada keadaan tertentu tentu tak mudah menjelaskan apa yang seharusnya mudah untuk dijelaskan, karena sebuah alasan. Kupikir cukup aku saja yang tahu, karena aku tak mau memaksamu untuk berfikir sama denganku.

Semalam Egays merengek lagi padaku, sungguh itu adalah rengekan sahabatku yang selalu aku rindukan ketika di pondok. Beberapa waktu lalu, rengekan Ega itu memberiku sebuah pelajaran berharga. “Percuma saja merengek atau menggerutu pada hal yang jelas-jelas tidak akan berubah dengan gerutuan itu, sia-sia belaka. Tak usah menagisi hari kemarin, karena kita hidup di hari ini.” Namun Gays, rengekanmu itu sungguh mencandu di tiap hariku untuk saat ini, entah esok atau lusa.

Sekarang, tak ada siapa2 yang mengisi hatiku, biarlah, mengkin memang sebaiknya kosong terlebih dahulu.

“aku tahu ku takkan bisa

menjadi seperti yang engkau minta”

11 Aug 2013

Aku Pilih Pergi Saja


Bagaimana aku bisa memasuki rumahmu, jika di sana masih ada seseorang yang berharap besar tak ingin keluar dari rumahku. Aku hendak mengetuk pintu rumahmu, namun aku urungkan, sebab dari luar aku masih mendengar candamu dengan seseorang yang di dadanya terdapat bungan mawar berbentuk hati. Aku jadi kian canggung, saat aku tak jadi bertamu di rumahmu, dan hendak melangkahkan kakiku meninggalkan daun pintu yang masih tertutup setengah, kau malah mamanggilku, hanya suaramu, namun kulihat wajahmu masih saja tetap serius dengan orang yang bahkan aku tak mengenalnya. Aku tak peduli, aku lebih memilih pergi.

4 Jul 2013

Sudah Tiba Kembali

Akhirnya, liburanpun besok akan berakhir. Esok adalah ujung dari sebuah perjalanan panjang lagi di YPRU, kita lihat besok wajah2 santri baru. Semoga saja bisa lebih baik tahun ini, meskipun banyak maskot2 YPRU yg wis go on. . . gpplah. Bismillah saja.
Yg masih menganjal di hatiku sekarang cuma masalah egayz n Anin.
Yg egayz bialah saja, tak pelu aku membahasnya, aku lebih khawatir nek dia tahu, mengapa? Karena dia pasti akan berpikir yg macam2, cuma itu yg aku khawatirkan. Aku sudah cukup bangga dengan pilihan si Egayz. . . Semangat gayz...aku tahu kamu bisa. 
Soal Anin. Benarkah aku mengagumimu? Tentu saja benar, bahkan itu udah sejak kelas 5 SD. Namun aku diam saja tak pernah mengatakan apa2 padamu. Bukan begitu Nin? Bagiku kau gadis yg hebat, namun dulu saat kau sering menulis kata "Redo" di telapak tanganmu aku jadi rada minder, teman2 bilang itu adalah sosok orang yang kamu sukai, ah beruntung benar orang itu, pikirku saat itu.
Waktu tak pernah berhenti Nin, kau tahu bukan sejak SMP aku menyandarkan hatiku pada Nay. Hingga saat ini pun sama. Namun, kupikir kagum pada dirimu tak ada salahnya jika masih aku simpan. Sekedar kagum. Mohon diikhlaskan ya, nek kemarin sempat membuatmu galau, aku cuma pengen tahu aja gimana sih si Anin nek sedang dirundung masalah asmara. Kemarin aku bilang, be your self padamu Nin, jujur hatiku merasa bangga padamu dengan ketegasanmu memilih.
Sekalipun terdengan menye-menye, namun aku salut, kamu masih bisa setegas itu. 

Esok sudah di ponpes, menjalankan kembali roda kepengurusan dg segala renik aturan. Semoga bisa sampai lulus di Guyangan, N Cairo, i'm coming...

18 Dec 2012

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??
Cara Bodohku Menyebarkan Pengaruh FOSS

Aku mengenal FOSS, saat aku baru duduk di kelas 7 SMP. Aku ingat betul, saat itu aku belum pernah melihat komputer, apalagi mengoprasikannya. Saat pelajaran TIK pertama, guruku memberikan aku dan teman sekelasku untuk membuat sebuah poster untuk menentang pembajakan. Beliau sempat berkata, “silahkan cari refrensi dari internet”. Nah kata terkhir dari kalimat itu sempat membuat ku bertanya, apa itu internet, dan siapa yang punya? Karena memang saat itu aku masih bisa dibilang gaptek, jadi aku meminta bantuan kakak kelasku yang memang sudah lama kenal untuk mengajariku membuka internet, awalnya aku ditertawakan, namun masa bodoh, namanya orang bodoh mana sadar ditertawakan.
Saat browsing aku banyak bertanya temanku yang kebetulan dia cukup pandai soal komputing. Beberapa pertanyaan yang masih ku ingat sampai saat ini adalah, “ siapa sih yang bikin internet? Google itu apa? Kok komputer tau apa yang mau kita cari? Trus, yang ngasih tahu apa yang ingin kita lihat di internet ke komputer siapa ya? Kok ada lambang mirip bendera (lambangnya windows maksudku dulu)?” dan masih banyak sebenernya, namun tak perlulah aku sebutkan (nanti terlihat terlalu bodoh donk). Beberapa pertanyaanku tadi dijawab olehnya dengan sabar, namun saat aku bertanya “apa itu pembajakan?” sepertinya dia berpikir sejenak dan memberikan jawaban dengan membukan sebuah situs tetang makna pembajakan. Setelah aku baca, pertanyaanku tadi berbuntut, “lah, kalau begitu programprogam yang aku pakai ini ilegal donk?” temanku tidak menjawab, lalu saat aku browsing entah mengapa aku ingat kata “linux dan UNIX”, nama itu terkesanlucu bagiku, dan mudah untuk aku ingat, akhirnya setelah satu jam belajar ngenet aku baru tahu apa itu linux, meskipun aku belum paham betul, namun aku mulai tertarik dengan gambar pinguinnya. Singkatnya akhirnya aku mengumpulkan tugas TIK-ku berupa kertas yang aku gambar dan dibawahnya aku tulis menggunakan spidol “Mengapa pilih membajak kalau ada Linux yang lucu nan hebat”, saat aku ditanya guruku, aku hanya menjawabnya dengan senyum, karena aku belum tahu betul, takut malu. he. .he. .he. .

Slax Pacar Pertamaku
Sejak saat itu aku jadi gemar berinternet, dan mencari gambar tentang linux, aku jadi sangat tertarik, kemudian aku baru tahu kalau ada linux yang bisa digunakan tanpa menginstall, lalu tanpa pikir panjang aku downloadlah linux slax, dan dengan jantung dag dig dug. . .aku mencobanya di komputer temanku, dan waw aku tidak pernah melihat program seperti ini. Sejak tahu soal itu, aku sering menunjukkan ke temanku, namun mereka acuh soal hal ini, dan ada yang bilang “repot amat, masak kalau mau pake harus nyari flashdisk dulu, enakan windows langsung nggak pake ribet”. Aku jadi berpikir, apa benar ya , perkataan temanku, tapi aku jadi berpikir terbalik, dalam hatiku “kamu yang goblok, dikasih pancing malah milih ikan seekor”.

Laptop Adupac Pacar Setia
Saat aku duduk di kelas 8, orang tua membelikanku sebuah laptop. Saat baru beli, aku mendapat license windows 7 yang katanya sih, itu artinya windowsku asli bukan bajakan. Paling nggak aku nggak mau jadi orang munafik, nah aku pikir laptop ini adalah kesempatan untukku belajar lebih banyak soal linux.
Aku mulai sering mendownload bermacam-macam distro yang ada di dunia maya, lalu aku bootingkan melalui usb, dan aku cukup kagum, tiap distro memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menginstall linux, kedalam hardisku bersandingan dengan windowsku.
Waduh, pertama install aku bingung banget karena cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan menginstall windows (aku sering membantu orang mengingstallkan windows), akhirnya setelah coba-coba (karena nggak ada lagi yang pakei linux), aku baru tahu kalau perlu sebuah partisi swap jika mau menginstall linux. Dan akhirnya distro mandriva, adalah distro pertama yang aku install.
Semenjak melakukan dual boot ini, aku jadi jarang masuk ke windows. Entah mengapa, mungkin karena aku terlalu penasaran tentang apa yang ada didalam linux. Dari mandriva ini, aku belajar cukup banyak, aku baru tahu kalau aku bisa menambahkan berbagai aplikasi dari dvd mandriva. (Itu adalah dvd dari sepupuku, ia memberikannya waktu tahu kalau aku tertarik soal linux). Meskipun aku sudah memiliki mandriva di sistemku, namun aku tetap masih penasaran terhadap distro-distro lain, aku mulai jadi kolektor distro. Dan hingga aku masih setia menggunakan linux mint sejak mint 8 di rilis.
Aku tak bosan, malah semakin aku mencoba semakin aku banyak tahu. Saat semester dua di kelas 8 mulai berkahir, akhirnya aku memberanikan diri untuk “berkhotbah” soal linux kepada teman-temanku.

Caraku Mengajak Orang Pakai Linux
  • Pamer desktop, yups. . .cara ini cukup ampuh karena desktop di linux mudah sekali di modifikasi, beberapa temanku mau mengunakan linux karena tapilannya yang sudah aku rombak.
  • Bikin cerita soal linux, he. .he. . .aku sering membuat dan menceritakan tentang kehandalan linux, meskipun cara ini bisa di bilang kurang efektif tapi tetep aku lakukan.
  • Remastering, ya. . .aku meremaster linux yang ada di laptopku dengan segala aplikasi di dalamnya termasuk tampilan, kemudian aku bagi ke temen, cari ini sangat mujarab, terlebih kalau desktopku cantik, namun lama-lama tekor juga kalo ngasih dvd terus, jadi bwt selanjutnya aku putuskan untuk memberikan hanya file isonya.
  • Bikin virus, hal ini untuk membuktikan bahwa windows sangat rentan terhadap linux, sehingga bisa jadi pemikiran ulang untunk memilih aplikasi
  • Sedikit garam bohong. Nah ini cara yang aku suka, biasanya banyak anak minta tolong ke aku untuk menginstal ulang windowsnya, nah namun aku tentu tidak langsung menginstall windows, melainkan menginstall linux yang tampilannya aku modif sehingga identik dengan windows, biasanya aku tambah wine agar tidak curiga kalau menjalankan aplikasi .exe. Nah kalau di tanya, kk windowsnya aneh? Aku jawab, “tenang, ini windows racikanku, dah aku modif supaya nggak kena virus, kalau sampai ada virus ngrusak sistemnya, laptopku taruhannya.” nah biar nggak curiga aku juga instalin Office 2007. Dan setelah seminggu aku tanya, “giman windows buatanku?” banyak dari mereka cocok dan bilang ringan banget, nah saat itulah aku kasih tahu kalau itu linux, dan alhamdulillah mereka mau pake terus. Jika ketahuan alias gagal, terpaksa aku dual boot sama windows, dengan catatan linux masih tertanam.
Nah itu dia caraku memperkenalkan linux ke orang lain, kau tahu ini ceritaku, apa ceritamu??

Tawa

-->
Baru kali ini aku menulis kumpulan kalimat di pagi hari, dingin memang namun siapa peduli. Aku tahu ide tidak bisa diatur kapan datangnya, namun gairahku untuk menulis muncul kembali. Mungkin aku tidak pernah bercerita mengapa aku menulis, mungkin bahkan bukan mungkin lagi memang aku tidak “sepandai” orang-orang di sekitarku, dan yang aku bisa hanya menulis dan ngoprek software di laptopku.
Jika mungkin ada yang mengira aku adalah anak yang pandai dalam hal pelajaran, setidaknya itu pendapat beberapa orang yang baru mengenalku. Aku tidak menyalahkan orang yang menyebutku demikian, namun sejujurnya aku lebih cocok bila dikatakan sebagai siswa yang cukup bodoh soal pelajaran. Aku tak menyesal, aku juga tidak khawatir apa lagi susah jika jika dikatakan demikian. Kau tahu, memang itu ulahku, jika aku menyesali perbuatan yang aku sadari maka aku adalah orang yang sangat bodoh.
Setiap hari aku memang bersemangat untuk pergi ke sekolah, bahkan aku selalu berangkat lebih pagi dari yang lain, aku menikmati apa yang aku lakukan. Kalian tahukan, cara orang menikmati esuatu pasti berbeda. Ya, ak menikmati tiap jam-jam pelajaran di sekolah dengan berdiskusi sendiri dengan temanku, bahkan tak jarang aku terlelap ketika pelajaran fisika terlebih bahasa inggris. Aku juga menikmati waktu-waktu lain yang aku punya baik di sekolah, warnet sampai di rumah sekalipun. Apa iku membuatku bodoh, jika yang kalian maksud dengan bodoh adalah nilai yang buruk maka jawabanku “ya”. Namun tetap saja aku tidak mempermasalahkan itu, dan aku bersyukur orang tua juga demikian, mereka selalu percaya padaku jadi aku tentu tidak akan pernah berniat mengecewakan mereka. Aku selalu ingat dan sadar, jika aku ngotot ingin menyaingi teman-temanku dalam hal pelajaran dengan istilah menjadi anak pintar, aku tak akan sanggup jadi aku lebih memilih melakukan hal-hal yang menurutku memang aku sukai. Aku ingat kalimat yang pernah diucapkan Ranchoo Ranchodas Cancha dalam film 3 Idiot, “Lakukan apa yang menggairahkan bagimu, maka kesuksesan akan mengejarmu”. Aku selalu tertawa dalam hati jika melihat temanku bangga hingga berlebihan saat mendapat nilai yang tinggi, padahal yah, aku tahu itu bukan nilai murninya.
Beberapa waktu yang lalu aku cukup tertegun dengan seorang penari jalanan. Aku melihat secara garis besar ia memiliki dua raut wajah, senang saat melihat orang datang dari dalam rumah dengan tangan menggenggam dan tertawa kecil dengan campuran kecewa saat melihat orang keluar rumah dengan ucapan bernada sedikit meninggi dan tidak menggenggam apapun. Aku ssempat mengikuti perjalanan wanita penari itu, meskipun tidak sejauh perjalanan yang pernah ia lewati. Aku merasa senang melihatnya, melihat ia menikmati hidup dengan suara gamelan yang terekam di radio boxnya, menikmati hidup dengan lambaian tangan gemulai saat mengikuti irama lagu yang diputar. Aku tertawa senang dalam hati, saat melihatnya menghitung recehan uang yang didapatnya. Aku mungkin bisa menebak, jika melihat dari ekspresinya uang yang dikumpulkan sejak pagi tadi mungkin masih dirasa kurang, sehingga ia beranjak dan pergi dengan semangat barunya. Saat aku melihat ini, aku jadi teringat betapa pintarnya orang-orang yang melakukan korupsi. Aku sangat yakin jika mereka adalah orang buta dan tuli, dan tidak pernah keluar rumah. Orang picik.
Kemarin adalah pengumuman hasil kebohongan ratusan siswa SMP, beberapa bisa jadi tidak berbohong namun aku yakin jika melihat suasana hampir keseluruhan melakukan kebohongan saat melakukan ujian nasional. Aku tidak merasa gugup hari ini seperti yang teman-temanku ungkapkan di akun facebok mereka. Aku ingat ini berawal dengan kebohongan, jadi artinya pengumuman ini adalah salah satu kepura-puraan. Beberapa orang hari itu memberiku selamat karena aku mendapatkan nilia yang cukup fantastis, namun kemabali lagi aku tertawa, dan dalam hatiku bertanya, “apa mereka bodoh, bukankah mereka tahu jika ini bukan hasil murni? Mengapa mereka menyelamatiku? Apa mereka menghinaku? Tidak. Mereka hanya lupa bagaimana ini berawal”. Yah, mungkin itulah orang Indonesia saat ini, hidup dalam kepura-puraan. Beberapa pura-pura senang mendapatkan sesuatu, aku selalu berharap masih ada kejujuran dalam diriku, dalam dirimu dan dalam diri kita.

30 Jul 2011

Langkah Baru


Langkah Baru
Baru 3 minggu lalu aku meinggalkan Jatirogo, namun entah mengapa Kamis 29 Juli kemarin saat mulai masuk ke kawasan kelahiranku aku merasa rindu, aku rindu senyum ibuku yang membuatku selalu merasa tenang, kumis bapakku yang malang melintang yang selalu mengingatkan aku aga jadi laki-laki setegas beliau.
Hari pertama mungkin karena belum terbiasa sehingga badanku cukup terasa pegal, selain itu waktu tidur di tempat ini lebih singkat dibanding jika aku tidur di rumah, bagi mereka waktu adalah ilmu, jadi sudah banyak dari mereka yang mulai sadar untuk tidak menyia-nyiakan waktu, mungkin aku harus segera beradaptasi dan mengubah sedikit demi sedikit kebiasanku untuk bersantai, namun aku tetap harus bisa menikmati apa yang akan aku lakukan hari ini, maupun esok.

Hafalkan Atau Kau Tidak Naik
Awal aku masuk aku cukup bingung, mengapa aku harus menghafal untuk dapat naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi? Padahal selama ini nilai lebih sering menjadi pedoman di beberapa sekolah di tempat asalku. Al-kulina min Al-biyasa, Al-biyasa min Al-dipaksa, kalimat plesetan dari guruku yang menjadi pedomanku untuk hari ini. Mau tidak mau aku harus menghafal yang namanya Al-Fiyah Ibnu Malik, dimana jumlah baitnya adalah 1000 bait. Satu dua hari. Aku mulai terbiasa dengan hafalan ini, semoga pada hari setoran nanti aku benar-benar hafal sesuai jumlah yang ditentukan.

Apa Karena Materai?
Di lingkugan YPRU ini cukup dikenala karena kemudahannya untuk mengeluarkan anak yang tidak mentaati peraturan. “Pondok Roudlotul ‘Ulum ini, menggunakan sistem mateari, jadi tiap kali kamu melakukan pelanggaran kamu akan diminta untuk membuat pernyataan bermaterai, satu kali, anda masih aman, dua kali, surat peringatan melayang ke orang tua anda masing-masing, tiga kali alamat anda tidak naik kelas, kalau tambah lagi satu anda akan kami antar pulang (dikeluarkan)” Kata Yi Najib saat muqodimah masuk pertama.
Selang beberapa waktu aku jadi terngiang kalimat-kalimat itu, apakah mereka yang ada di sini melakukan semua hal karena terpakasa? “ha. . .ha. . .kang. .kang. . .ya nggaklah, nanti kalau berbuat baik karena materai, sia-sia donk perbuatan baiknya. Begini saja, kalo pengen sukses di sini, lupakan soal materai, tapi ingat kamu selalu dishooting sama yang buat bumi ini, maka insyaallah kamu nggak akan lilmaterai, tapi lillahita’ala” Tutur santri yang sudah lama tinggal di YPRU itu. Setelah aku pikir-pikir benar juga, toh meskipun peraturan di sini bisa dibilang sangat ketat, namun aku rasa hasilnya nanti juga kembali pada pribadi masing-masing.

Anda Butuh Kami, BUKAN Kami Yang Butuh Anda
Ya, aku rasa di YPRU atau di ponpes lain cukup tepat dengan kalimat di atas, terbukti saat pengajian semua santri memliki kebebasan, mau tidur, mau mendengarkan asalakan tidak bicara dengan teman lain, dan tidur dalam keadaan tidak duduk. “kebebasan itu boleh, karena kebebasan itu milik siapapun, namun setiap kebebeasaan harus ada batasannya, nah aturanlah yang membatasi hal tersebut. Meskipun dibatasi, tentu setiap aturan memiliki maksud yang baik, dan kebaikan itu akan kembali pada anda juga”.

YPRU Ponpes Besar?
Soal yang satu ini aku menulis sesuai dengan apa yang banyak dikatakan oleh teman-teman dan beberapa wali santri lain. Beberapa hari kemarin aku cukup kaget mendengar bus baru milik pesantren telah tiba, menurut para santri senior rumor ponpes akan membeli sebuah bus sudah mencuat sejak satu tahun kemarin, dan hari itu adalah pebuaktian kata-kata para kyai yang pernah menyebarkan berita beberapa waktu lalu.
Luas? Ummm, aku rasa cukup luas untuk menampung ribuan santri dari berbagai daerah. Aku rasa gedung-gedung di sini juga cukup tinggi, selain itu ada yang membuatku heran, saat tahu kalau YPRU ini memiliki rumah sakit/klinik yang wow besar, dimana sudah mencakup apotek, dan kendaraan-kendaraan semisal dua ambulance dan sebuah mobil operasional. Soal olah raga, pondok ini mau membeli sebidang tanah untuk dijadikan lapangan para santri.
Soal fisik pondok memang besar, namun soal kualitas menurut banyak pihak pondok ini juga patut diacungi jempol. Jumlah mapel yang lebih banyak dibandingkan sekolah lain, sepertinya tidak membuat gentar santri yang ingin belajar “Man Jada Wa Jada”.

Libur Adalah Barang Langka
Untuk hal ini, lebih cenderung untuk anak pondok, di sini santri diijinkan pulang 6 minggu sekali, namun itupun jarang diambil karena bagi mereka satu hari sama dengan tidak libur jika digunakan untuk perjalanan pulang. Untuk masalah liburan dirumah hanya bisa di nikmati saat awal 3-5 hari jelang puasa, 10 hari jelang idul fitri, dan tiap libur semester. Kembali lagi, waktu adalah ilmu disini.
Pada intinya disini para santri diajarkan untuk menjadi nasionalis, dan menjadi masyarakat yang bermoral dimasa depan kelak. “Selain ilmu kami juga mencari barokah dari guru dan ilmu yang kami terima”

7 Jul 2011

<KOSONG>
Aku sedang bingung tentang apa yang akan aku lakukan menjelang kepergiankku ke pondok pesantren. Beberapa waktu lalu, aku sempat berpikir untuk membuat sebuah kenang-kenangan khususnya untuk kawan-kawanku di sini yang ingin belajar soal linux berupa distro hasil remastering linux mint, dalam prosesnya cerita kuno sering aku alami, kau tahu, awalnya gagal, setelah berusaha kemudian berhasil. Yah itulah cerita kunonya, entah mengapa, linux yang aku beri nama linux jatirogo itu selesai aku buat dalam waktu yang cukup singkat. Ya, aku memang suka memaksakan tubuh kurusku ini untuk mengejar sebuah target, karena aku ingat nasihat guruku agar selalu membuat target dalam bekerja, dan benar hasilnya cukup membuatku puas, terlebih banyak pihak-pihak yang mendukung, dan kau tahu distro yang bisa dibilang masih kiddiesitu cukup sampuh untuk mengajak orang lain menggunakan program legal. Aku menjadi cukup senang dengan pekerjaanku, sehingga aku bermaksud untuk membuat release berikutnya dengan id name “agatha”. Namun sial, dikala waktu santaiku sudah hampir habis, kecelakaan menghapiriku, semua isi partisiku ludes lantaran orang ceroboh yang bisa aku katakan sok tau meminjam dan menghapus partisi linuxku. Hah. . .sialan. Harapan tinggal ocehan.
Jauh sebelum ini, aku pernah mempunyai ambisi untuk membantu rekanku menjadi sebuah penulis terkenal, yah meskipun lewat blog, namun aku cukup suka dengan semangatnya. Sebuah semangat yang bisa menginspirasi tulisan-tulisanku.
Ha . . . aku ingat saat aku masih di kelas 9 kemarin, aku, Anindia, Agatha dan Rakijan Suagung pernah berkhayal tentang masa depan kita, aku enjadi seorang programer dan devloper linux, dimana untuk maslah desain adalah bagian Anindia, dan untuk bagian game merupakan tugas dari Rakijan. ha. . .ha. . .kau tahu, untuk apa linux ini dibuat? Untuk mensponsori novel perdana yang ditulis oleh Agatha. Huft, bisakah? Aku tak tahu juga, kan itu belum terjadi.
Soal masa depan, kadang kadang ragu untuk berkhayal soal masa depanku sendiri, kau tahu tidak semua yang ada dilamunan akan sesui dengan bayangan yag kau tangkap dengan matamu, terlebih jika situasi seperti sekarang, yah aku sadar, harapan selalu ada, namun . . .
Ya, aku ingat yang pasti di dunia ini hanya beberapa hal termasuk kematian, kiamat dan beberapa lainnya, sedangkan yang lain hanyalah sebuah kemungkinan yang bisa jadi membuatmu selalu semangat dan bahkan down.
Sabtu esok, aku sudah mulai belajar dan membuat pengalaman di tempat lain lagi. Satu hal lagi yang pasti, semua pengalaman tentu berarti.

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??
Cara Bodohku Menyebarkan Pengaruh FOSS

Aku mengenal FOSS, saat aku baru duduk di kelas 7 SMP. Aku ingat betul, saat itu aku belum pernah melihat komputer, apalagi mengoprasikannya. Saat pelajaran TIK pertama, guruku memberikan aku dan teman sekelasku untuk membuat sebuah poster untuk menentang pembajakan. Beliau sempat berkata, “silahkan cari refrensi dari internet”. Nah kata terkhir dari kalimat itu sempat membuat ku bertanya, apa itu internet, dan siapa yang punya? Karena memang saat itu aku masih bisa dibilang gaptek, jadi aku meminta bantuan kakak kelasku yang memang sudah lama kenal untuk mengajariku membuka internet, awalnya aku ditertawakan, namun masa bodoh, namanya orang bodoh mana sadar ditertawakan.
Saat browsing aku banyak bertanya temanku yang kebetulan dia cukup pandai soal komputing. Beberapa pertanyaan yang masih ku ingat sampai saat ini adalah, “ siapa sih yang bikin internet? Google itu apa? Kok komputer tau apa yang mau kita cari? Trus, yang ngasih tahu apa yang ingin kita lihat di internet ke komputer siapa ya? Kok ada lambang mirip bendera (lambangnya windows maksudku dulu)?” dan masih banyak sebenernya, namun tak perlulah aku sebutkan (nanti terlihat terlalu bodoh donk). Beberapa pertanyaanku tadi dijawab olehnya dengan sabar, namun saat aku bertanya “apa itu pembajakan?” sepertinya dia berpikir sejenak dan memberikan jawaban dengan membukan sebuah situs tetang makna pembajakan. Setelah aku baca, pertanyaanku tadi berbuntut, “lah, kalau begitu programprogam yang aku pakai ini ilegal donk?” temanku tidak menjawab, lalu saat aku browsing entah mengapa aku ingat kata “linux dan UNIX”, nama itu terkesanlucu bagiku, dan mudah untuk aku ingat, akhirnya setelah satu jam belajar ngenet aku baru tahu apa itu linux, meskipun aku belum paham betul, namun aku mulai tertarik dengan gambar pinguinnya. Singkatnya akhirnya aku mengumpulkan tugas TIK-ku berupa kertas yang aku gambar dan dibawahnya aku tulis menggunakan spidol “Mengapa pilih membajak kalau ada Linux yang lucu nan hebat”, saat aku ditanya guruku, aku hanya menjawabnya dengan senyum, karena aku belum tahu betul, takut malu. he. .he. .he. .

Slax Pacar Pertamaku
Sejak saat itu aku jadi gemar berinternet, dan mencari gambar tentang linux, aku jadi sangat tertarik, kemudian aku baru tahu kalau ada linux yang bisa digunakan tanpa menginstall, lalu tanpa pikir panjang aku downloadlah linux slax, dan dengan jantung dag dig dug. . .aku mencobanya di komputer temanku, dan waw aku tidak pernah melihat program seperti ini. Sejak tahu soal itu, aku sering menunjukkan ke temanku, namun mereka acuh soal hal ini, dan ada yang bilang “repot amat, masak kalau mau pake harus nyari flashdisk dulu, enakan windows langsung nggak pake ribet”. Aku jadi berpikir, apa benar ya , perkataan temanku, tapi aku jadi berpikir terbalik, dalam hatiku “kamu yang goblok, dikasih pancing malah milih ikan seekor”.

Laptop Adupac Pacar Setia
Saat aku duduk di kelas 8, orang tua membelikanku sebuah laptop. Saat baru beli, aku mendapat license windows 7 yang katanya sih, itu artinya windowsku asli bukan bajakan. Paling nggak aku nggak mau jadi orang munafik, nah aku pikir laptop ini adalah kesempatan untukku belajar lebih banyak soal linux.
Aku mulai sering mendownload bermacam-macam distro yang ada di dunia maya, lalu aku bootingkan melalui usb, dan aku cukup kagum, tiap distro memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menginstall linux, kedalam hardisku bersandingan dengan windowsku.
Waduh, pertama install aku bingung banget karena cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan menginstall windows (aku sering membantu orang mengingstallkan windows), akhirnya setelah coba-coba (karena nggak ada lagi yang pakei linux), aku baru tahu kalau perlu sebuah partisi swap jika mau menginstall linux. Dan akhirnya distro mandriva, adalah distro pertama yang aku install.
Semenjak melakukan dual boot ini, aku jadi jarang masuk ke windows. Entah mengapa, mungkin karena aku terlalu penasaran tentang apa yang ada didalam linux. Dari mandriva ini, aku belajar cukup banyak, aku baru tahu kalau aku bisa menambahkan berbagai aplikasi dari dvd mandriva. (Itu adalah dvd dari sepupuku, ia memberikannya waktu tahu kalau aku tertarik soal linux). Meskipun aku sudah memiliki mandriva di sistemku, namun aku tetap masih penasaran terhadap distro-distro lain, aku mulai jadi kolektor distro. Dan hingga aku masih setia menggunakan linux mint sejak mint 8 di rilis.
Aku tak bosan, malah semakin aku mencoba semakin aku banyak tahu. Saat semester dua di kelas 8 mulai berkahir, akhirnya aku memberanikan diri untuk “berkhotbah” soal linux kepada teman-temanku.

Caraku Mengajak Orang Pakai Linux
  • Pamer desktop, yups. . .cara ini cukup ampuh karena desktop di linux mudah sekali di modifikasi, beberapa temanku mau mengunakan linux karena tapilannya yang sudah aku rombak.
  • Bikin cerita soal linux, he. .he. . .aku sering membuat dan menceritakan tentang kehandalan linux, meskipun cara ini bisa di bilang kurang efektif tapi tetep aku lakukan.
  • Remastering, ya. . .aku meremaster linux yang ada di laptopku dengan segala aplikasi di dalamnya termasuk tampilan, kemudian aku bagi ke temen, cari ini sangat mujarab, terlebih kalau desktopku cantik, namun lama-lama tekor juga kalo ngasih dvd terus, jadi bwt selanjutnya aku putuskan untuk memberikan hanya file isonya.
  • Bikin virus, hal ini untuk membuktikan bahwa windows sangat rentan terhadap linux, sehingga bisa jadi pemikiran ulang untunk memilih aplikasi
  • Sedikit garam bohong. Nah ini cara yang aku suka, biasanya banyak anak minta tolong ke aku untuk menginstal ulang windowsnya, nah namun aku tentu tidak langsung menginstall windows, melainkan menginstall linux yang tampilannya aku modif sehingga identik dengan windows, biasanya aku tambah wine agar tidak curiga kalau menjalankan aplikasi .exe. Nah kalau di tanya, kk windowsnya aneh? Aku jawab, “tenang, ini windows racikanku, dah aku modif supaya nggak kena virus, kalau sampai ada virus ngrusak sistemnya, laptopku taruhannya.” nah biar nggak curiga aku juga instalin Office 2007. Dan setelah seminggu aku tanya, “giman windows buatanku?” banyak dari mereka cocok dan bilang ringan banget, nah saat itulah aku kasih tahu kalau itu linux, dan alhamdulillah mereka mau pake terus. Jika ketahuan alias gagal, terpaksa aku dual boot sama windows, dengan catatan linux masih tertanam.
Nah itu dia caraku memperkenalkan linux ke orang lain, kau tahu ini ceritaku, apa ceritamu??

4 Jul 2011

Aku Dan Pertanyaan Di Otakku

Aku Dan Pertanyaan Dalam Otakku

Sempat aku membaca sebuah postingan di blog temanku, postingan tentang melakukan hal-hal yang dicintai dan mencintai semua hal yang dilakukan. Aku memang kangen dengan tulisannya, namun entah mengapa suatu saat aku ingin sedikit menyanggah tulisannya di blog itu. Mengapa? Karena aku lebih sering melihat dalam kenyataan banyak orang yang tidak mencintai pekerjaannya, apalagi melakukan yang dia cintai. Aku tahu post itu adalah sebuah motivasi, aku juga tak menyalahkannya, karena aku tak membayarnya untuk menulis. Yah, lagi-lagi selera membuat sebuah perbedaan. Indahkah perbedaan selera itu?
Aku pernah memiliki pertanyaan konyol yang ingin aku tanyakan pada meja tua di ruang tamuku. Aku sangat ingin bertanya mengapa ia mau jadi meja? Mengapa meja itu saat masih jadi pohon tidak menolak saat ditebang? Apakah ia bisu seperti penghuni negara ini? Seperti? Ya, “seperti”, entah pohon yang meniru atau orang-orang yang meniru pohon untuk selalu diam. Aku juga punya pertanyaan untuk air, mengapa air suka pilih kasih? Air suka membuat bingung orang-orang pinggiran? Mengapa air tidak menghancurkan rumah para koruptor? Apakah karena air selalu mengalir dari tempat tinggi? Sehingga yang di bawah hanya menerima imbasnya? Mungkin.
Sudah hampir satu bulan aku tidak melihat buku pelajaran, aku juga ingin bertanya pada buku pelajaran itu, mengapa kumpulan kertas tipis itu menjadi dewa bagi sebagian anak? Apakah buku pelajaran itu bisa memberikan jawaban semua persoalan hidup orang? Kalo memang iya, mengapa benda itu tidak dimiliki orang-orang pinggiran? Apakah karena mereka sudah dianggap pandai? Mungkin juga. Atau bisa lebih mungkin karena diambil oleh orang-orang rakus yang juga haus akan isi buku itu.
Semua kemungkinan itu ada, seperti saat kau membaca kemudian selalu mengingatnya, bukankah itu mungkin? Atau lebih mungkin jika kau langsung melupakan tulisan ini. Kau tahu, terkdang aku membenci orang yang mengatakan “tidak akan mungkin itu terjadi”, bahkan aku juga membenci diriku saat aku berkata demikian. Tapi aku juga tidak begitu setuju jika orang berkata “tidak ada yang tidak mungkin”, mengapa karena jika semua mungkin, maka tidak akan ada kepastian di dunia ini.
Aku, kamu dan kita bisa jadi belum bisa melakukan yang kia cintai, dan apalagi mencintai yang kita lakukan, namun satu hal yang sangat aku anjurkkan agar kita dapat menikmati kehidupan yang kita jalani, dengan menikmatinya lagi-lagi memunculkan kemungkinan agar kita dapat melakukan sesuatu secara maksimal.

27 Jun 2011

Secuil Catatan Di Ujung Senja


Secuil Catatan Di Ujung Senja
(Nasionalisme Bukan Soal Lagu)

Wah sedikit kecewa rasanya tim merah putih kalah dalam Indonesia Open 2011, yah mau apa lagi aku jugakan tidak bisa membantu he. . .he. . . dukungan melimpah dari anak-anak Indonesia yang sudah haus akan kemenangan untuk Tim Indonesia, mungkin itu yang menyebabkan semua ini begitu bergemuruh saat ada sebua pertandingan.
Ingat Piala AFF? Kau ingat bagaimana dukungan anak-anak Indonesia? Mereka sangat gembira, dengan mengumandangkan lagu garuda di dadaku sebagai yel-yel utama, tapi saat mereka menyaksikan Firman Utina dkk kalah saat final melawan negara yang selalu mencari masalah dengan negara kita? Yah, aku tahu mungkin disitulah tempat mereka mewujudkan nasionalismenya, aku selalu memasang statment pada diriku, nasionalime bukan hanya soal lagu, bukan hanya soal angkat tangan saat lihat bendera. Hal apapun yang tidak membuat negara menjadi kehilangan nama baik bagiku adalah sifat nasionalisme.
Mungkin baru kali ini aku menulis masalah kesemrawutan ini. Soal negara dan isinya, yah itu tidak lain karena aku memang kurang tertarik untuk melihat orang-orang yang berkuasa semena-mena, namun bagaimana juga aku anak Indonesia, jadi aku juga harus tahu apa yang sedang terjadidi rumah tercinta ini.
Semua berawal dari hal kecil, ya aku paham itu. Kadang aku mempertanyakan apakah wakil-wakil kita termasuk orang yang bernasionalisme? Atau mereka hanya menjadikan jabatan mereka sebagai tempat menimbun jatah makan orang lain? Wah-wah kalau begitu bobrok benar negaraku.
Beberapa waktu yang aku bertanya pada mbah google mengapa Indonesia tidak maju-maju? Banyak sekali jawaban dari para ahli, dan beberapa banyak yang menyalahkan pejabat negara sebagai biang keladinya. Kalau pejabatnya saja sudah tidak mendapat kepercayaan, mau jadi apa negara tempatku lahir ini? Sebagai anak yang suka tentang komputing, aku sempat bertanya, mengapa beberapa waktu lalu pemerintah membeli komputer seharga 15 juta hanya untuk hal browsing dan office? Dengan uang sebanyak itu, tentu memperoleh komputer dengan spek yang tinggi, apa yang menganggarkan lupa dengan korban lapindo? Lalu di bidang pendidikan mengapa mentri pendidikan lebih memilih menggunakan produk microsoft sebagai standar di kurikulum? Padahal jika menggunakan program FOSS (Free Open Source Software) tentu akan mengirit pengeluaran negara, dari segi kualitas aku kira FOSS tidak kalah dengan produk microsoft, malah lebih baik. Selain itu, Menkominfo juga kan sudah menghimbau agar agar proyek IGOS (Indonesia Go Open Source) sukses pada akhir 2011, aku merasa heran, sama-sama mentri di negri ini mengapa haluannya berbeda ya? Mungkin beberapa mereka takut, kalau APBN menurun karena pindah ke FOSS, sehingga tidak ada hal yang dikorup. Payah.
Lalu ingat soal siswa SD yang melaporkan mengenai contek masal? Beberapa orang di sekitarku banyak yang menganggap itu adalah hal yang berlebihan, mengapa? Kerena “mungkin” hal yang dilaporkan anak itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi sehingga dianggap hal yang wajar. Namun menurutku itu adalah salah satu bentuk nasionalisme yang tepat bagi siswa SD (maaf lupa nama anaknya). Ya, iku rasa itu hal yang cukup tepat, meskipun aku sendiri tidak bisa melakukannya, namun aku cukup tertarik dengan masalah ini. Mungkin jika ada anak yang takut melaporkan hal yang tidak semestinya kemudian dibungkam dengan sesuatu yang menguntungkan baginya, orang itu adalah calon wakil rakyat masa kini, entah esok hari.
Ya-ya memang sudah banyak orang yang menggembar-gemborkan soal nasionalisme dengan mendemo wakil rakyatnya, namun adakah yang berhasil? Adakah dampak yang di peroleh? Nol!
Aku sendiri tak bisa menduga bagaimana negara ini saat aku dewasa nanti, bagaimana dengan harapan-harapanku, impianku dan semuanya. Kita lihat saja nanti.

20 Jun 2011

Ingatan Dalam Kenyataan


Ingatan Dalam Kenyataan

hari ini sebuah perjalanan mendadak terpakasa harus ku lalui, perjalanandari rumah menuju sebuah tempat dimana aku akan belajar kelak. Perjalanan ini cukup terpakasa, karena seharusnya bukan hari ini jadwalku untuk pergi kesana, dan tentunya aku harus membatalkan semua perjanjian dan kegiatanku hari ini. Sial memang, namun mau bagaimana lagi?
Hamparan rumah mewah sampai rumah tak mewah menemani perjalananku ini, hamparan ssawah garam juga menjadi pemandangan yang cukup membuatku bosan dan bertanya-tanya. Aku ingat sebuah kabar burung beberapa bulan yang lalu yang mengatakan bahwa garam di Indonesia akan mengimpor dari luar negri, lalu aku bertanya apakah garam di negaraku kurang asin? Apakah laut di negaraku sudah tak bergaram lagi? Apakah negaraku tak punya laut? Bagaimana dengan nasib dengan para petani garam? Apakah pemimpin negaraku setara dengan udang? Aku melihat jerih payah para petani garam meskipun hanya dalam perjalanan, namun aku tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya bertani garam, dan kalian tahu garam di toko depan rumahku hanya seharga Rp. 300 untuk tiap bungkus, dimana bungkus itu cukup besar dan bisa digunakan memasak ibuku selama berminggu-minggu. Ah, semga kabar yang aku dengar hanyalah kabar yag dibuat oleh orang-orang yang buta akan luasnya lautan negaraku.
Aku sampai di tempat tujuanku, di pondok pesantren di daerah Pati. Aku pernah kemari, dwaktu pertama kemari aku cukup tertegun dengan semua yang ada di sini, kedisiplinan mereka, ketaatan mereka, dan kesadaran mereka. Aku sadar, aku tidak ada apa-apanya dibandingakan dengan mereka. Ini bukan soal ilmu, ini tentang pengalaman. Mungkin aku selama ini mendapat pengalaman dari guru-guru SMPku, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu, meskipun aku tidak pernah mengucapkan terima kasih pada mereka, namun di sini aku merasa kecil dan tidak ada apa-apanya.
Hari saat aku bertandang kemari ini, ternyata adalah hari penerimaan hasil belajar kepada orang tua, semua kegiatan aku lihat dipersiapkan oleh para santri yang aku pikir masih sekolah setingkat SMA. Aku jadi teringat saat aku merasa membohongi orang tuaku dulu ketika penerimaan rapor SMP kelas 8 dan 9. Yah, saat kelas 8-9 aku memang jarang belajar tidak seperti saat aku masih kelas 7 atau bahkan SD yang bisa ku kuatakan amat rajin belajar, namun niliai yang diterima masa itu cukup baik meskipun tak sebaik saat masih kelas 7, jujur bisa aku katakan itu bukan nilai beberapa mata pelajaran yang ada dirapor aku yakin bukan nilai hasil kerjaku. Aku senang membuat orang tuaku tersenyum, namun kadang mataku tak bisa menahan sedikit tetesan air mata saat aku ingat itu bukan hail yang sebenarnya, dan itu artinya aku membihingi mereka. Itu masa lalu. Ya , memang masa lalu, tapi cukup membuat aku agak malu, terlebih saat melihat beberapa santri di sini mendapat pengumuman hasil belajar mereka yang sudah terbukti murni karena tesnya bukanlah bersama namun satu per satu. Beberapa dari mereka ada yang tidak naik kelas karena belum mampu menghafal syi'ir Imriti maupun Al-Fiyah. Namun aku heran orang tua mereka tetap memberikan senyuman semangat, bahkan tak memarahi mereka-mereka yang gagal itu. Aku sadar benar kata guruku SMP, di pondok ini yang terpenting bukan soal nilai namun pengalaman putra-putri mereka. Aku jadi tertawa kecil saat ingat ada anak yang dimarahi orang tuanya bahkan tidak boleh keluar rumah dan dikunci serta dibebani untuk belajar dan membaca lagi buku-buku pelajaran. Aku tak menyalahkan dan membenarkan, semua memiliki hak masing-masing.
Menurutku tidak ada ilmu yang tidak berguna, namun sepertinya pendapatku itu tidak berlaku kepada orang yang duduk disebelahku seusai sholat dluhur. Dari pembicaraannya selama berjam-jam dengan rekannya, aku sedikit banyak mendengar dan memahami orang itu. Aku tahu bahwa orang ini cukup mendewa-dewakan ilmu agama, itu tak salah itu juga kebebasannya. Benar juga tidak ada hitam putih, yang ada abu-abu, aku kembali ingat salah satu obrolanku beberapa waktu lalu dengan guruku.
Cukup banyak pelajaran yang aku dapat hari ini, bahkan lebih banyak dari pelajaran di kelas dulu. Di sini kelak aku membuat sebuah jejak, gagal berhasil urusan nanti bagiku, dalam catatanku yang terpenting adalah melakukan semuanya tanpa ada paksaan. Kakiku siap melangkah lagi.

8 Jun 2011


Inikah Akhirnya?
BUKAN!!

Semua telah siap untuk tujuan berikutnya, begitupun aku. Semua juga beripa untuk memulai lembaran baru di tempat yang mungkin baru pula, aku tak tahu harus menulis apa lagi, aku juga tak tahu pakah esok aku masih bisa menulis? Kau tahu besok adalah hari yang cukup membuatku termenung sore kemarin. Besok adalah upacara pelepasan siswa di SMP Negeri 1 Jatirogo. Aku tak agak tak percaya ini berkahir juga. Begitu cepat, namun cukup membuat aku mengalami perubahan.
Aku tahu untuk hari besoklah aku dan kawan-kawanku bertemu beberapa tahun yang lalu. Semua yang pernah aku lalui mengalun dalam ingatanku. Saat aku masih mengenakan celana serba tinggi, rambut klimis, menjadi seorang yang penakut, bahkan tak berai berbicara, semua itu terjadi di sini, dan jangan lupakan saat aku memiliki seorang yang aku anggap kekasihku.
Sampai hari ini mungkin aku tetap tak memiliki keberanian untuk mengucapkan dua kata untuk orang-orang yang telah membimbingku, Pak Dadija, Bu Endah, Pak Samiun, Pak Agus, Bu Lis, Pak Darju, Pak Jaka, Pak Slamet, Pak Sutiyono, Bu Shanti, Bu Chamami, Pak Parman, Bu Titik, Pak Wahyudi, Pak Mukti, Pak Yusuf dan semua guru yang ada di SMP-ku ini, aku ingin mengucapkan “maaf & terima kasih”. Aku tahu mungkin dari sekian guru tidak ada yang mengunjungi blog ini, jadi aku sangat menghaparap ada yang mau menyampaikan salam sapaku ini.
Semua telah aku lewati bersama kawan-kawanku, kelakuan bodoh, curang, konyol, bahkan beberapa tindakan yang menurutku baikpun juga pernah. Aku tak tahu lagi harus menulis apa.
Aku teringat teman sebangkuku Qoirul, Nando, teman adu pendapatku Rina, teman yang selalu aku jadikan bahan tertwaan bersama Fran dan Nanda Gepeng, Bima (maaf ya), teman yang kadang membuatku bosan Anindia dan Alin, teman yang membuat kegaduhan karena tindakan bodoh dan alis langkanya, Iyon dan Erik, teman yang pernah . . . . . Nia, Krisna dengan wajag yang selalu ceria dan semua teman yang bersamaku selama ini. Hey, aku hampir melupakan seseorang, temanku yang bermimipi menjadi seorang penulis novel Ega. Aku yakin dan berharap suatu saat aku akan mendapt kiriman tulisan dari seseorang yang aku anggap juga sebagai guruku ini.
Kalian semua hebat, aku senang pernah mengenal kalian, mungkin tulisan ini tak berarti apa-apa, tapi aku harap semua dari kita bisa selalu ingat apa yang pernah diajarkan “bapak” kita. Sudahlah, aku aku tak perlu berkata apa-apa lagi karena aku yakin kalian semua bisa. Semua bintang ada di depan kita, menuggu tangan untuk meraihnya.

Terima kasih semuanya.

5 Jun 2011

Tawa


Baru kali ini aku menulis kumpulan kalimat di pagi hari, dingin memang namun siapa peduli. Aku tahu ide tidak bisa diatur kapan datangnya, namun gairahku untuk menulis muncul kembali. Mungkin aku tidak pernah bercerita mengapa aku menulis, mungkin bahkan bukan mungkin lagi memang aku tidak “sepandai” orang-orang di sekitarku, dan yang aku bisa hanya menulis dan ngoprek software di laptopku.
Jika mungkin ada yang mengira aku adalah anak yang pandai dalam hal pelajaran, setidaknya itu pendapat beberapa orang yang baru mengenalku. Aku tidak menyalahkan orang yang menyebutku demikian, namun sejujurnya aku lebih cocok bila dikatakan sebagai siswa yang cukup bodoh soal pelajaran. Aku tak menyesal, aku juga tidak khawatir apa lagi susah jika jika dikatakan demikian. Kau tahu, memang itu ulahku, jika aku menyesali perbuatan yang aku sadari maka aku adalah orang yang sangat bodoh.
Setiap hari aku memang bersemangat untuk pergi ke sekolah, bahkan aku selalu berangkat lebih pagi dari yang lain, aku menikmati apa yang aku lakukan. Kalian tahukan, cara orang menikmati esuatu pasti berbeda. Ya, ak menikmati tiap jam-jam pelajaran di sekolah dengan berdiskusi sendiri dengan temanku, bahkan tak jarang aku terlelap ketika pelajaran fisika terlebih bahasa inggris. Aku juga menikmati waktu-waktu lain yang aku punya baik di sekolah, warnet sampai di rumah sekalipun. Apa iku membuatku bodoh, jika yang kalian maksud dengan bodoh adalah nilai yang buruk maka jawabanku “ya”. Namun tetap saja aku tidak mempermasalahkan itu, dan aku bersyukur orang tua juga demikian, mereka selalu percaya padaku jadi aku tentu tidak akan pernah berniat mengecewakan mereka. Aku selalu ingat dan sadar, jika aku ngotot ingin menyaingi teman-temanku dalam hal pelajaran dengan istilah menjadi anak pintar, aku tak akan sanggup jadi aku lebih memilih melakukan hal-hal yang menurutku memang aku sukai. Aku ingat kalimat yang pernah diucapkan Ranchoo Ranchodas Cancha dalam film 3 Idiot, “Lakukan apa yang menggairahkan bagimu, maka kesuksesan akan mengejarmu”. Aku selalu tertawa dalam hati jika melihat temanku bangga hingga berlebihan saat mendapat nilai yang tinggi, padahal yah, aku tahu itu bukan nilai murninya.
Beberapa waktu yang lalu aku cukup tertegun dengan seorang penari jalanan. Aku melihat secara garis besar ia memiliki dua raut wajah, senang saat melihat orang datang dari dalam rumah dengan tangan menggenggam dan tertawa kecil dengan campuran kecewa saat melihat orang keluar rumah dengan ucapan bernada sedikit meninggi dan tidak menggenggam apapun. Aku ssempat mengikuti perjalanan wanita penari itu, meskipun tidak sejauh perjalanan yang pernah ia lewati. Aku merasa senang melihatnya, melihat ia menikmati hidup dengan suara gamelan yang terekam di radio boxnya, menikmati hidup dengan lambaian tangan gemulai saat mengikuti irama lagu yang diputar. Aku tertawa senang dalam hati, saat melihatnya menghitung recehan uang yang didapatnya. Aku mungkin bisa menebak, jika melihat dari ekspresinya uang yang dikumpulkan sejak pagi tadi mungkin masih dirasa kurang, sehingga ia beranjak dan pergi dengan semangat barunya. Saat aku melihat ini, aku jadi teringat betapa pintarnya orang-orang yang melakukan korupsi. Aku sangat yakin jika mereka adalah orang buta dan tuli, dan tidak pernah keluar rumah. Orang picik.
Kemarin adalah pengumuman hasil kebohongan ratusan siswa SMP, beberapa bisa jadi tidak berbohong namun aku yakin jika melihat suasana hampir keseluruhan melakukan kebohongan saat melakukan ujian nasional. Aku tidak merasa gugup hari ini seperti yang teman-temanku ungkapkan di akun facebok mereka. Aku ingat ini berawal dengan kebohongan, jadi artinya pengumuman ini adalah salah satu kepura-puraan. Beberapa orang hari itu memberiku selamat karena aku mendapatkan nilia yang cukup fantastis, namun kemabali lagi aku tertawa, dan dalam hatiku bertanya, “apa mereka bodoh, bukankah mereka tahu jika ini bukan hasil murni? Mengapa mereka menyelamatiku? Apa mereka menghinaku? Tidak. Mereka hanya lupa bagaimana ini berawal”. Yah, mungkin itulah orang Indonesia saat ini, hidup dalam kepura-puraan. Beberapa pura-pura senang mendapatkan sesuatu, aku selalu berharap masih ada kejujuran dalam diriku, dalam dirimu dan dalam diri kita.

30 May 2011

Karena


Aku, seperti biasa, tak ada yang tahu jalan pikiranku. Ya, itu lebih baik, karena beberapa hal mungkin lebih baik menjadi sebuah misteri. Aku pernah berkata sumua yang dilakukan haruslah memiliki alasan yang kuat, sehingga kita tak asal-asalan dam melakukan sesuatu. Lalu, apa aku juga sudah melakukan itu? Jangan berpikiran aneh, memang dalam beberapa hal aku sering melupakan alasan, namun aku juga punya alasan lain melakukan hal tersebut, jadi aku tidak merasa jadi orang yang hanya cuma bicara. Satu hal yang selalu aku ingat, alasan adalah arah untuk menentukan tujuan.
Minggu ini terasa panas bagiku, udara memang berubah, namun soal hati? Ini bukan soal asmara, ini soal pilihan dan pendapat. Kau tahu, beberapa minggu kemarin duniaku dibuat heboh dengan “lahirnya” sebuah operating system berbasis linux yang dinamakan GarudaONE. Awalnya aku cukup gembira, awalnya? Lalu bagaimana dengan akhirnya? Aku tahu, meskipun OS ini banyak memiliki kekurangan di sana-sini, namun aku cukup senang dengan kehadiran distro yang berwajah lebih cantik dari windows itu, kau tahu semenjak itu banyak sekali orang disekitarku yang kini ramai menggunakan linux, setidaknya itu membuatku lega karena mungkin ini langkah untuk mengurangi penggunaan barang ilegal. Lalu apa aku peduli? Aku sendiri terkadang bingung, apakah aku termasuk dibilang peduli jika hanya menggunakan dan “berkhotbah” soal keunggulan produk open source. Kau yang tahu, itu peduli atau egoism?
Penilian mungkin selamanya tak akan pernah benar, karena benar itu meragukan, kerena benar itu tak jelas. Aku ingat perkataan seorang yang berkumis tebal disaat aku rancau beberapa waktu lalu, “tidak ada hitam-putih, yang ada adalah abu-abu”. Seolah kat itu sepele, namun aku selalu menemukan orang yang selalu menganggap orang lain bahkan dirinya sendiri putih dan hitam. Dalam artian yang baik selalu baik dan yang buruk selalu buruk dimatanya. Aku pernah mendengar dalam lirik lagu milik Iwan Fals, “Rahasia keseimbangan adalah kewajaran, wajar itu kosong”. Mungkinkah itu berarti. . . . .
Aku mungkin tak akan menjawab pertanyaan yang aku buat sendiri, aku tak mau memaksamu untuk berpendapat atau menjawab seperti yang aku tulis. Itu hidupmu, bukan milikku. Itu jalanmu, dan isilah dengan langkahmu. Carilah arti keberadaanmu bagi sekitarmu. Aku jadi teringat istri dari pria berkumis itu, aku lupa kalimatnya namun aku masih ingat betul maksudnya. Wanita itu menasihatiku supaya menjadi orang yang dikenang, supaya hidupku ini lebih berarti. Dikenang? Awalnya aku tak pernah memikirkan itu, namun aku tahu arti di kenang itu adalah berarti bagi orang lain. Apakah itu berarti aku harus jadi gila hormat? Mungkin?
Kau tahu mengapa dalam sebuah film peluang untuk sukses lebih besar? Lalu mengapa dalam kehidupan nyata peluang untuk sukses kecil sekali? Jawabnnya hanya satu, karena dalam dunia nyata kita tida tidak tahu skenario yang dibuat tuhan, layaknya skenario sutradara film. Jika kita tahu skenario tuhan, maka tidakkan ada yang namanya tuhan karena semua sama. Perbedaan ini yang membuat semua jadi berarti untuk di kenang.

18 May 2011

Balutan Sunyi Malam Selasa


Hah. . .Sial benar aku malam ini. Mata yang sudah sejak kemarin pagi menyala ini menjadi berontak saat aku mulai memejamkannya. Aku sendiri cukup heran, bahkan mataku seperti mengisaratkanku untuk membuka laptopku kemudian menulis yang ada di otakku. Kau anggap itu hal bodoh?? Menurutku tidak terlalu bodoh untuk seorang yang sudah kecanduan komputer seperti aku ini.
Aku bingung ingin menulis darimana. Banyak hal yang sudah terjadi di depan mataku beberapa hari ini. Ya. . . . aku akui, akhir-akhir ini aku cukup sibuk, kesibukan yang aku buat sendiri ini, cukup membuatku jadi orang yang cukup dikenal oleh orang lain. Hey-hey apa kau pikir aku ingin jadi orang terkenal? Itu adalah salah satu tebakan salah, aku tak terlalu berminat bahkan tidak berminat menjadi terkenal layaknya seorang Shinta-Jojo ataupun Norman-Gorontalo. Apa aku bodoh? Kau salah lagi, tidak mau terkenal bukan berarti menutup diri, kau harus tahu, aku hanya ingin di kenang kelak. Itu saja? Mungkin, namun aku tahu, meskipun keinginan itu hanya satu untuk mewujudkannya bisa jadi aku akan melakukan ribuan tindakan. Itu adalah keinginan hebat bagiku.
Kau tahu, aku agak merasa bosan minggu-minggu ini, mungkin karena aku terlalu sering member nasihat pada orang lain. Jangan menertawaiku aku tak terlalu buruk jadi guru maupun penasihat bahkan pemberi solusi. Sudah hentikan picingan mata yang seolah mengaggapku tak mampu itu, kau tak ingat aku benci mata seperti itu. Mata itu mengingatkanku pada seorang yang menganggap dirinya bisa menguasai otakku, namun aku berani jamin dia tak akan bisa mendapatkan itu, sekalipun tidak akan. Sudahlah buang mata itu, atau aku yang akan membuangnya …
Jangan marah padaku, bukankah selama ini aku tak pernah marah padamu? Terserah kau sajalah. Mungkin hari ini banyak perasaan yang aku sakiti, telinga yang aku bentak, bahkan mata yang aku tatap dengan jarum. Kau tidak bisa menyalahkan aku untuk hal ini. Ya! Ini adalah tuntutan semua orang waraspun akan melakukan ini. Bertanggung jawab, sifat itu yang membuatku jadi begitu. Itu tak buruk bagiku, sebuah proyek memang dibutuhkan seseorang yang bertanggung jawab, dan mungkin bisa juga setiap proyek akan mengeluarkan air mata bukan hanya cucuran keringat. It’s about opinion guys!!!!!
Salah satu kalimat yang aku ingat darinya dan baru beberapa hari yang lalu aku berikan pada temanku meskipunaku rubah sedikit kalimatnya agar sesuai dengan perasaan temanku. “Semua hal di depanmu ini menuntut meminta waktu. Saat tuntutan itu terpenuhi tawa kau dapat, namun jika tidak lupakan semua mimpimu semalam”. Aku tidak berani bertaruh kalau dia akan percaya ucapanku ini, karena aku tahu orang yang hampir setiap saat berdikusi dengaku ini memiliki pemikiran yang katakanlah lebih tinggi, namun aku yakin sekali pemikirannya yang tinggi itu tidak dia dia imbangi dengan kebodohan. Kenapa hru kebodohan? Karena kebodohan akan membuat sesuatu lebih baik.
Sial, aku tak bingung mengakhiri cerita ini. sudahlah mungkin aku harus jadi orang yang tak peduli dengan akhir untuk melakukan sesuatu yang seolah-olah akan selalu berguna.

16 Apr 2011

Tak Terbeli Dan Tak Sia-Sia


Minggu ini adalah minggu-minggu terakhir menjelang UNAS SMP, banyak siswa-siswi yang mulai sibuk memilih tujuan sekolah kelak. Namun tidak untuk aku dan beberapa teman akrabku yang lain, entah karena terbiasa santai atau menikmati waktu santai yang langka atau apa aku kurang mengerti.
Minggu ini aku lewati dengan kesibukan dan tindakan-tindakan yang menurutku lumayan berguna untukku, bahkan mungkin berguna untuk orang-orang di sekitarku.
3 April 2011
Kesendirian ini lagi-lagi hampir membuatku lupa bahwa aku mempunyai banyak kawan dan sekutu. Kau ingat tulisan tentang penggemar yang aku posting beberapa waktu lalu dalam kisah yang aku beri judul “Aku, dalam Februari – Maret”?  Spertinya aku merasa mereka mulai membuatku kesal dengan sms-smsnya, dengan telfon-telfonnya di malam buta. Di hari itu aku merasa seperti lebih baik tidak mempunyai penggemar, daripada selalu menjadi soroton tak berguna.
Sombong? Mungkin aku memang harus seperti itu, toh yang merasakan juga aku, jadi aku bebas memilih jalan yang menurutku cocok.
Hingga pada saat malam diguyur hujan, aku punya ide untuk berpura-pura berpacaran dengan orang yang sudah aku anggap kakak. Sebenarnya, aku hanya berharap jauh dari penggemar pengganggu itu. Aku membulatkan tekatku, berani-tidak berani aku membuat status hubungan palsu di situs Facebook. Semenjak saat itu, sepertiya penggemarku, sudah agak memudar. Namun sisi jeleknya, aku merasa menjadi seorang yang teramat jahat karena mematahkan puluhan harapan dari anak-anak kecil yang ingin “memiliki” aku.
5 April 2011
Aku tahu tak ada yang sempurna di dunia tua ini. Namun berusaha untuk menjadi sempurna bukanlah sebuah kesalahan. Kau tahu, kesempurnaan ada karena bersandingan dengan sesuatu yang tidak sempurna.
Apa kau masih ingat Brenk_OS Project? Ya, sebuah jalan untuk aku belajar meremaster distro linux. Memang sampai saat ini aku masih belum bisa upload hasil karyaku lantaran ukuran filenya yang terlampau gendut dan koneksi internet yang kurang memadai. Namun sampai hari ini, aku masih berusaha untuk  membuatnya lebih baik dan membuat si Brenk_OS lebih cantik tentunya.





 
9 April 2011
Kau pernah jengkel? Jangan balik bertanya, tentu kau tahu bahwa aku sering jengkel jika kau membaca tulisan-tulisanku. Mingguni lebih parah, sepertinya bukan hanya aku yang jengkel melainkan juga teman-temanku yang memiliki komputer. Kalian tahukan muuh utama komputer? Apa lagi kalau bukan virus.
Tak seperti virus pada umumnya, sepertinya virus ini menunutku agar mau belajar dan tidak hanya mengandalkan antivirus saja. Windows di komputerku sudah aku install berkali-kali namun tetap tidak ada perubahan bahkan aku scan dengan berbagai macam antivirus dengan segala updatenya tetap saja tidak berhasil. Virus ini cepat sekali menyebar. Oleh sebab itu selama beberapa hari laptop yang biasanya aku dual boot kini hanya menggunakan satu OS, apa lagi kalau bukan Brenk_OS.id-ku. Beberapa hari berlalu, aku melihat temanku tampak kesusahan sama sepertiku saat maih menggunakan windows, aku menjadi agak kasihan, dan aku pikir inilah saatnya untuk aku belajar menyelesaikan masalah yang belum bisa diatasi, dulu saat meremaster linux aku member nama perkerjaanku Brenk_OS Project, untuk kali ini aku member nama kegiatanku ini “Habisi Ramnit”
Aku mulai dari mencari identitas si virus, barulah aku ketahui bahwa ini varian dari Win32. Virus ini di beri nama pembuatnya dengan nama Ramnit, entah apa artinya, si pembuatlah yang tahu. Hasil identifikasi dan referensi dari beberapa sumber yang aku dapat menyebutkan bahwa virus yang menyebar melalui Flash Disk ini, akan segara aktif jika penggna/user komputer tersebut melakukan klik kanan. Wah. . .wah . apa yang bisa aku lakukan untuk menghapus virus ini, tanpa klik kanan?
Sejak mengetahui hal itu, aku mulai banyak membaca tentang cara kerja virus-virus lain. Aku tahu virus yang media penyebarannya berupa flash disk pasti menggunakan file autorun.inf. jadi aku harus bisa menghapus si autorun ini lebih dulu. Namun tidak berhasil, aku mengamati proses yang terjadi di komputerku, barulah aku ketahui kalau virus ini menjalan proses SVCHOST.EXE palsu dimana yang dijalankan adalah file watermark.exe di direktori C:\Program Files\Microsoft.
Cara kerja virus ini, seperti yang aku ceritakan tadi, ia bekerja saat user malakukan klik kanan. Sehingga saat klik kanan dilakukan virus secara otomatis sesuai perintah autorun.inf akan menjalankan file watermak.exe, kemudian membuat file virus berupa file yang sering dijalankan user, hanya aja file yang dibuat dapat mudah dikenali karena format nama file yang dibuat selalu sama missal Winrarmgr.exe, Explorermgr.exe, rundllmgr.exe, dan file-file lain dengan format dan ukuran yang sama.
Semenjak tahu akan hal itu aku mulai menyusun baris perintah command prompt untuk menghapu virus ini, dan setelah beberapa kali memiliki kekurangan akhirnya dapat aku dan teman-temanku tambal sehingga dapat bekerja dengan baik.
Untuk yang ingin mendownload program rancangan kami, silahkan download melalui link berikut :


Aku memang terkadang tak berguna, namun aku selalu berusaha membuat diriku selalu ada di hati teman-temanku. Mungkin dengan membantu mereka, atau dengan proyek semacam “Habisi Ramnit” ini.
15 April 2011
Pengalaman baru aku dapat hari ini. Kau tahu, kadang kebohongan akan membuatmu merasa bebas. Seperti yang aku lakukan dengan temanku hari ini, sore sekitar pukul 15.30 aku pergi ke rumah temanku yang berada di Bulu, ketika aku ditanya orang tuaku, aku hanya menjawab akan kerumah teman, aku tak berbohongkan. Memang aku tak menjelaskan kepada orang tuaku tujuanku, karena aku tahu mereka akan melarangku. Disinilah aku merasa berbohong itu akan membuat sebuah kebebasan meskipun aku tak bohong namun aku tetap merasa tidak jujur.
Aku dan kawanku segera begegas lari menuju terminal untuk mencari mobil tujuan Bulu, saying saat itu hanya ada dua mobil yang tersisa sepi lagi, jadi kemungkinan berangkat masih lama. Di dalam mobil aku melihat, seorang yang waria, dua siswi SMA, dan beberapa orang tua dengan karakter yang menurutku berbeda-beda. Saat mobil mulai melaju waria yang ada di sebelah temanku, mulai membuka pembicaraan. Aku tahu setiap orang bebas memilih jalan hidupnya, aku rasa waria ini juga tahu. Dia tidak mengganggu kami, malah orang tua galak disampingkulah yang sepertinya tidak uga berebelahan dengan dua anak yang menggunakan kaos oblong dan sandal jepit serta celana pendek.
Selama perjalanan cukup banyak mengisi waktuku, dengan berbincang dengan dua siswi SMA yang cukup ramah, hingga kami lupa tempat tujuan kami. Aku dan kawanku baru sadar, bahwa rumah teman kami sudah terlwat agak jauh, sehingga kami segera turun dan berlari di jalan yang jarang yang bukan daerah kami. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara anak memanggil namaku, benar itu adalah anak Ngepon. Aku mengenalnya, dulu dia teman sebangkuku, kamipun diajak untuk berboncengan, namun betapa kagetnya jantung kecilku, ketika ia menarik gas sepeda motornya. Aku sadar inilah contoh pengendara sepeda tanpa aturan, mungkin bosan dengan aturan atau mungkin malas mengikuti peraturan.
Sampailah kami di rumah Nanda, rumah tujuan kami. Tak banyak yang kami lakukan di rumah dengan teras Pink ini. Aku dan kawanku langsung membenahi komputer Nanda yang rusak, lalu numpang ibadah kemudian pulang.
Aku diantar olehnya sampai di tempat dimana mobil-mobil jurusan Jatirogo berbaris. Cukup lama kami menunggu mobil tua yang akan mengantar kami pulang ini melaju, bahkan sampai beberapa mulut dengan liarnya mengucapkan kata-kata kasar.
Dalam mobil ini, aku belajar beberapa hal. Pertama supir mobil yang aku ibaratkan sebagai pemimpin sepertinya, hanya memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan keuntungan yang didapat tanpa peduli tujan dari penumpang-penumpang yang suntuk di gerbong belakang.
Kedua, perempuan tua kasar dan sok tahu. Sok tahu? Bagaimana aku tahu? Selama di mobil, aku melihat tingkah polah perempuan ini, aku rasa dia adalah tipikal orang yang suka mempengaruhi orang lain dengan omongannya. Terbukti, selama di mobil, dia suka menceritakn kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya dan keburukan-keburukan orang lain. Apa aku juga termasuk seperti dia saat menulis ini? Mungkin, tapi aku TIDAK MAU disamakan dengannya.
Ketiga, seorang kakek yang berusaha mati-matian agar si supir mau menjalankan mobilnya, bahak beliau sempat bergelantungan digerbong belakang, hingga mengundang reaksi beberapa orang.
Keempat, orang berkumis yang mudah terpengaruh. Bagaimana aku tahu lagi? Tentu dari pembicaraannya. Saat ia bertemu dengan supir, aku melihat diakrab sekali bahkan menuruti dan mengiyakan apa yang dikatak si supir kepadanya, namun sejak perempuan tua itu masuk, kini ia berpihak kepada si perempuan dan menjelek-jelekan si supir.
Kelima, perempuan tua yang teramat tabah. Ya, sejak masuk mobil, beliau tidak bergumam sedikitpun. Apa itu tabah? Bisa jadi, atau malah lebih mungkin beliau pasrah.
Mobil yang aku tumpangi serasa berjalan lambat, padahal memang lambat, namun setelah si perempuan tua yang sok tahu menggedor-gedor gerbong dan berteriak kecil meluapkan emosi.
Aku tahu, di dunia ini banyak karakter untuk tiap orang. Dan itu membuat sebuah perbedaan, namun sekarang kembali lagi pada kita, apakah kita bisa menerima perbedaan itu dengan tetap memegang prinsip awal? Tak semua orang bisa, kau tahu semua orang juga perlu perubahan seprti langit yang menemaniku selama perjalanan pulang.

9 Apr 2011

Arti & Berarti


“Cobalah, mengerti semua ini mencari arti. . .selamanya takkan terhenti. . . . . .” Lirik lagu band favoritku itu, sepertinya selalu membuatku terinspirasi untuk mencari sebuah arti dari semua yang pernah aku alami dan aku pahami. Aku tahu, inspirasi sebenarnya bukan berasal dari siapapun, namun ispirasi berasal dari perasaan orang itu sendiri. Aku yakin, dalam segala hal keyakinan itu perlu, lalu apakah mengartikan segala hal juga perlu?
Sepertinya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tidak akan memilii jawaban pasti. Kautahu, semua benda memiliki bunyi yang berbeda-beda, setiap  pohon juga menghasilkan keturunan yang bermacam-macam, begitu pula dengan otak dan cari pikir dari kita tentu berbeda. Kalau ada yang memaksa otak kita berpikir sama, tentu itu adalah orang yang bodoh. Mungkin sebelum itu, ia harus menyamakan dulu bunyi-bunyi yang ada di dunia ini. Aku pernah mendengar, ada orang yang memaksa anak buahnya untuk berpikir secara deduktif dan induktif. Sebenarnya, aku sendiri tak mengerti macam apa cara berpikir seperti itu, bukankah lebih enak berpikir bebas sesuai kamampuan otak dan naluri? Apalah arti mengatur cara orang berpikir, jika orang itu sendiri tidak mau melakukannya? Bukankah itu hal yang sia-sia belaka?
Aku pernah membaca novel milik temanku yang berjudul Curhat Setan, dimana salah satu bagian dari novel itu memberikan sebuah pengalaman betapa pentingnya alasan sebelum melakukan sesuatu. Setelah membaca itu, aku jadi mulai menanyakan pada diriku sendiri, mengapa aku melakukan semua  ini? Mengapa aku menulis? Mengapa aku membagi pengalaman yang sulit aku dapatkan ini? Mengapa aku membuat blog? Mengapa aku bersekolah? Mengapa aku hidup? Dan mengapa-mengapa yang lain yang seolah-olah membuatku harus berpikir secara matang sebelum aku melakukan apapun. Ya, alasan adalah sebuah dasar untuk mencari arti menurut hati kecilku. Dan alasan adalah sebuah arah untuk menentukan tujuan.
Semua begitu berarti bagiku. Temanku, guru-guruku, peralatan-peralatan yang menemani tangisku, sekolahku, dan yang tak bisa aku ingat lagi, juga pengalamanku yang selalu jadi guru dan musuh bagiku. Saat aku menulis ini, aku jadi teringat temanku yang selalu membuatku langkahku menjadi berarti, perbedaanlah yang membuat semua berarti. Kepandaian takkan berarti tanpa kebodohan, kekayaan takkan berarti tanpa kemiskinan, kebaikan juga takkan berarti tanpa kejahatan atau keburukan. Memang benar, tak dapat ku pungkiri, hidup ini mencari arti, dan selamanya tak akan pernah terhenti.

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More