Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label Untuk Nay. Show all posts
Showing posts with label Untuk Nay. Show all posts

25 Jun 2013

Tak Sebuah Kesempurnaan


Balasan Untuk Nia,

Lucu juga tulisan Nia. Dah lama aku nggak baca tulisan tanganmu. . . Ye..! Emangnya pernah yow aku bilang tulisanmu jelek?? Nggak pernah tuh -lupa paling-
Nay, kamu tak perlu seperti itu. Aku tak butuh sebuah kesempurnaan, karena jika aku menuntut kesempurnaan aku pasti takkan mendapatkannya, bukankan cuma Dia yg paling sempurna??
Nggak Nay... beberapa bunga mengitariku, namun tak ada yang sanggup mengerti aku selayaknya kamu. Ya, karena hanya engkaulah yang sanggup mengerti aku dalam banyak keadaan. Sejak kita SMP sampai hari ini, bahkan kamu masih mau menemaniku, itu adalah budi yang mungkin sulit untuk aku balas.
Hah Dewi?? Kalian berdua sama2 wanitakan, yo sama-sama cantik, tapi lebih cantikan kamu tho yow. . Bukan cantikmu itu yang membuat aku selalu rindu padamu, namun kisah yang pernah kita rajut bersamalah yang membuat aku mantab dan menambatkan perahu hatiku pada dermaga hatimu.

"Tak perlu sebuah kesempunaan untuk mencintaimu, karena kesempurnaan bukanlah hak kita"

Tak Sesempurna Apa Yang Kau Bayangkan


Dari Nay 20 Juni '13
Goresan-goresan ini mulai mengotori lembaran yang suci. Bingung apa yang harus aku lakukan? Memgang pensilpun tak mampu apalagi sok mengotorimu. Apalah daya aku mulai tulisan ini dengan kekacauan, bulu kuduk merinding, keringat mengucur dan kepala terasa berat hehe... :) emangnya ketemu mbak kunti?? Sorry agak alay. Eh.. Rama, jujur aku bener-bener bingung, rasanya aneh aku nulis ini, kamu sih pernah bilang tulisanku jelek daripada punyamu alhasil kepedeanku menulis hilang seketika seperti debu yang diterpa angin dahsyat.
Alhamdulillah, kata itu yang pertama lahir dari mulut ini, bersyukur Rama masih mengingat sosok Nia yang terbilang biasa aja. Tulisan ini hanya sekedarnya saja sesuai kemampuanku, yah lumayan ecek-eceklah. Hem.. Nia gladur!! Kembali lagi ke Rama, Apa sih yang kau lihat dari sosok Nia? Cantik? Baik? Pinter? Oh no... tidak satupun yang menggambakan aku. Nia adalah cewek desa dengan tampang apa adanya, tak seelok gadis-gadis yang mengitarimu. Banyak bunga-bunga mekar di sekitarmu, namun mengapa kau pilih mawa berduri nan layu? Apa Istimewanya? Aku tak sesempurna apa yang kau lukiskan dan celotehkan kepada Rania's Book, semua itu terlalu muluk bagiku. Oh ya...!! Aku & Dewi cantikan Dewi bukan?? Jawab aja jujur, biasa waelah sama aku. Hayo ma.. wajahmu merah!! :D :P

Nuroniyah

18 Apr 2013

Seperti Seharusnya.


Tak ada do'a yang tak terdenganr oleh-Nya. Ya, aku percaya benar akan hal itu. Semua do'a pasti terkabul. Entah sekarang atau esok. Jangan khawatir.
Liburan UAN kelas XII Aliyah tahun ini adalah sebuah peristiwa yang sungguh merupakan kejutan untukku. Kupikir liburan kali ini telah menjawab semua permohonan yang pernah aku panjatkan, sekaligus ujung dari beberapa problema yang sempat menghantuiku. Hari ini semua terjawab sudah.
Pertama, soal Dewi. Tak ada lagi yang harus aku risaukan tentang dia. Itu adalah jalan yang ia pilih sendiri. Di liburan ini, aku benar-benar tahu bahwa dia menyimpan sebuah perasaan padaku. Ya, aku tahu itu dari beberapa temannya yang menceritakan gelagat aneh si Dewi, termasuk diary tentang aku yang ia tulis.
Ok. harus aku jelaskan dulu, aku memang kagum pada si Dewi. Sekali lagi kagum. Ya, kagum sodara-sodara. Mengapa? Karena kupikir ia adalah barometer baru yang harus aku taklukan. Awalnya aku menganggap ia adalah partner kerja, karena ia satu departemen denganku. Jujur, di mataku ia begitu hebat dengan style bicaranya. Kupikir aku harus banyak belajar darinya.
Namun suatu ketika, aku terjebak dalam perasaan aneh bernama asmara, aku sempat suka pada Dewi, sebelum akhirnya aku tahu bahwa si dewi ternyata sudah memiliki pacar. Aih, malang nasibku. Selain itu, di saat-saat seperti itu aku justru malah teringat pada Nia. Kekasihku semasa SMP. Hatiku lebih condong pada Nia, dan cenderung melupakan perasaan bodohku pada Dewi. Ya meskipun aku tak tahu apakah Nia masih ingat pada atau tidak. But it's no problem.
Masa-masa sulit akhirnya kutemui, banyak berita simpang siur tentang aku dan Dewi beredar. Dan hampir tiap malam aku berdo'a semoga Nia masih mengingatku, karena hatiku benar-benar kalut oleh rinduku padanya. Pada Nia bukan pada Dewi.
Banyak pula masalah-masalah internal yang aku dapati selama berteman dengan si Dewi, mulai dari kesalah pahaman, hingga masalah yang aku tak tahu sabab musababnya. Aku, Nia dan Dewi. Kisah yang begitu rumit sepertinya.
Dan hari ini semua lunas terjawab. Di liburan kali ini, aku sempat bertemu dengan Nia, dan subhanallah, ternyata Nia bukan hanya masih mengingatku, bahkan she still love me. Oh. So sweet ya Rabb.
Semua berjalan seperti seharusnya. Hatiku kembali terisi oleh Nia, begitupun hati Nia, kini terisi olehku. Ah, tidak. Kami tak berpacaran. Kami punya prinsip agar tak terlalu sering berkomunikasi, apalagi berjumpa. Karena dengan kebiasaan itu, halhal yang harusnya istimewa bisa berubah menjadi biasa. Tak lagi terasa indahnya. Intinya, aku menjaga hati untuk Nia dan juga sebaliknya.
Aku tak menyangka, ternya kesahrianku menulis nama “Nay” di pojok buku tulis akan berbuah seperti ini. Kebetulan? Ah maaf, aku tak begitu percaya dengan kebetulan. Karena aku yakin takdir memang berjalan dan tak pernah salah, jadi tak ada yang pantas disebut sebagai kebetulan.
Bahkan bukan hanya diriku, Ega kini juga merasakan hal yang membuat hatinya tenang. Seorang lelaki muslim berwajah arabic keturunan Minang telah menggandenganya, begitu juga dengan Evi. Anin kini sukses dengan karya-karya seninya. Sementara aku masih sukses menulis takdirku sendiri. Mengubah ambisi menjadi target.
Love n miss 4 u, Nay.

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More