Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label My Story. Show all posts
Showing posts with label My Story. Show all posts

18 Apr 2013

Seperti Seharusnya.


Tak ada do'a yang tak terdenganr oleh-Nya. Ya, aku percaya benar akan hal itu. Semua do'a pasti terkabul. Entah sekarang atau esok. Jangan khawatir.
Liburan UAN kelas XII Aliyah tahun ini adalah sebuah peristiwa yang sungguh merupakan kejutan untukku. Kupikir liburan kali ini telah menjawab semua permohonan yang pernah aku panjatkan, sekaligus ujung dari beberapa problema yang sempat menghantuiku. Hari ini semua terjawab sudah.
Pertama, soal Dewi. Tak ada lagi yang harus aku risaukan tentang dia. Itu adalah jalan yang ia pilih sendiri. Di liburan ini, aku benar-benar tahu bahwa dia menyimpan sebuah perasaan padaku. Ya, aku tahu itu dari beberapa temannya yang menceritakan gelagat aneh si Dewi, termasuk diary tentang aku yang ia tulis.
Ok. harus aku jelaskan dulu, aku memang kagum pada si Dewi. Sekali lagi kagum. Ya, kagum sodara-sodara. Mengapa? Karena kupikir ia adalah barometer baru yang harus aku taklukan. Awalnya aku menganggap ia adalah partner kerja, karena ia satu departemen denganku. Jujur, di mataku ia begitu hebat dengan style bicaranya. Kupikir aku harus banyak belajar darinya.
Namun suatu ketika, aku terjebak dalam perasaan aneh bernama asmara, aku sempat suka pada Dewi, sebelum akhirnya aku tahu bahwa si dewi ternyata sudah memiliki pacar. Aih, malang nasibku. Selain itu, di saat-saat seperti itu aku justru malah teringat pada Nia. Kekasihku semasa SMP. Hatiku lebih condong pada Nia, dan cenderung melupakan perasaan bodohku pada Dewi. Ya meskipun aku tak tahu apakah Nia masih ingat pada atau tidak. But it's no problem.
Masa-masa sulit akhirnya kutemui, banyak berita simpang siur tentang aku dan Dewi beredar. Dan hampir tiap malam aku berdo'a semoga Nia masih mengingatku, karena hatiku benar-benar kalut oleh rinduku padanya. Pada Nia bukan pada Dewi.
Banyak pula masalah-masalah internal yang aku dapati selama berteman dengan si Dewi, mulai dari kesalah pahaman, hingga masalah yang aku tak tahu sabab musababnya. Aku, Nia dan Dewi. Kisah yang begitu rumit sepertinya.
Dan hari ini semua lunas terjawab. Di liburan kali ini, aku sempat bertemu dengan Nia, dan subhanallah, ternyata Nia bukan hanya masih mengingatku, bahkan she still love me. Oh. So sweet ya Rabb.
Semua berjalan seperti seharusnya. Hatiku kembali terisi oleh Nia, begitupun hati Nia, kini terisi olehku. Ah, tidak. Kami tak berpacaran. Kami punya prinsip agar tak terlalu sering berkomunikasi, apalagi berjumpa. Karena dengan kebiasaan itu, halhal yang harusnya istimewa bisa berubah menjadi biasa. Tak lagi terasa indahnya. Intinya, aku menjaga hati untuk Nia dan juga sebaliknya.
Aku tak menyangka, ternya kesahrianku menulis nama “Nay” di pojok buku tulis akan berbuah seperti ini. Kebetulan? Ah maaf, aku tak begitu percaya dengan kebetulan. Karena aku yakin takdir memang berjalan dan tak pernah salah, jadi tak ada yang pantas disebut sebagai kebetulan.
Bahkan bukan hanya diriku, Ega kini juga merasakan hal yang membuat hatinya tenang. Seorang lelaki muslim berwajah arabic keturunan Minang telah menggandenganya, begitu juga dengan Evi. Anin kini sukses dengan karya-karya seninya. Sementara aku masih sukses menulis takdirku sendiri. Mengubah ambisi menjadi target.
Love n miss 4 u, Nay.

18 Dec 2012

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??
Cara Bodohku Menyebarkan Pengaruh FOSS

Aku mengenal FOSS, saat aku baru duduk di kelas 7 SMP. Aku ingat betul, saat itu aku belum pernah melihat komputer, apalagi mengoprasikannya. Saat pelajaran TIK pertama, guruku memberikan aku dan teman sekelasku untuk membuat sebuah poster untuk menentang pembajakan. Beliau sempat berkata, “silahkan cari refrensi dari internet”. Nah kata terkhir dari kalimat itu sempat membuat ku bertanya, apa itu internet, dan siapa yang punya? Karena memang saat itu aku masih bisa dibilang gaptek, jadi aku meminta bantuan kakak kelasku yang memang sudah lama kenal untuk mengajariku membuka internet, awalnya aku ditertawakan, namun masa bodoh, namanya orang bodoh mana sadar ditertawakan.
Saat browsing aku banyak bertanya temanku yang kebetulan dia cukup pandai soal komputing. Beberapa pertanyaan yang masih ku ingat sampai saat ini adalah, “ siapa sih yang bikin internet? Google itu apa? Kok komputer tau apa yang mau kita cari? Trus, yang ngasih tahu apa yang ingin kita lihat di internet ke komputer siapa ya? Kok ada lambang mirip bendera (lambangnya windows maksudku dulu)?” dan masih banyak sebenernya, namun tak perlulah aku sebutkan (nanti terlihat terlalu bodoh donk). Beberapa pertanyaanku tadi dijawab olehnya dengan sabar, namun saat aku bertanya “apa itu pembajakan?” sepertinya dia berpikir sejenak dan memberikan jawaban dengan membukan sebuah situs tetang makna pembajakan. Setelah aku baca, pertanyaanku tadi berbuntut, “lah, kalau begitu programprogam yang aku pakai ini ilegal donk?” temanku tidak menjawab, lalu saat aku browsing entah mengapa aku ingat kata “linux dan UNIX”, nama itu terkesanlucu bagiku, dan mudah untuk aku ingat, akhirnya setelah satu jam belajar ngenet aku baru tahu apa itu linux, meskipun aku belum paham betul, namun aku mulai tertarik dengan gambar pinguinnya. Singkatnya akhirnya aku mengumpulkan tugas TIK-ku berupa kertas yang aku gambar dan dibawahnya aku tulis menggunakan spidol “Mengapa pilih membajak kalau ada Linux yang lucu nan hebat”, saat aku ditanya guruku, aku hanya menjawabnya dengan senyum, karena aku belum tahu betul, takut malu. he. .he. .he. .

Slax Pacar Pertamaku
Sejak saat itu aku jadi gemar berinternet, dan mencari gambar tentang linux, aku jadi sangat tertarik, kemudian aku baru tahu kalau ada linux yang bisa digunakan tanpa menginstall, lalu tanpa pikir panjang aku downloadlah linux slax, dan dengan jantung dag dig dug. . .aku mencobanya di komputer temanku, dan waw aku tidak pernah melihat program seperti ini. Sejak tahu soal itu, aku sering menunjukkan ke temanku, namun mereka acuh soal hal ini, dan ada yang bilang “repot amat, masak kalau mau pake harus nyari flashdisk dulu, enakan windows langsung nggak pake ribet”. Aku jadi berpikir, apa benar ya , perkataan temanku, tapi aku jadi berpikir terbalik, dalam hatiku “kamu yang goblok, dikasih pancing malah milih ikan seekor”.

Laptop Adupac Pacar Setia
Saat aku duduk di kelas 8, orang tua membelikanku sebuah laptop. Saat baru beli, aku mendapat license windows 7 yang katanya sih, itu artinya windowsku asli bukan bajakan. Paling nggak aku nggak mau jadi orang munafik, nah aku pikir laptop ini adalah kesempatan untukku belajar lebih banyak soal linux.
Aku mulai sering mendownload bermacam-macam distro yang ada di dunia maya, lalu aku bootingkan melalui usb, dan aku cukup kagum, tiap distro memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menginstall linux, kedalam hardisku bersandingan dengan windowsku.
Waduh, pertama install aku bingung banget karena cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan menginstall windows (aku sering membantu orang mengingstallkan windows), akhirnya setelah coba-coba (karena nggak ada lagi yang pakei linux), aku baru tahu kalau perlu sebuah partisi swap jika mau menginstall linux. Dan akhirnya distro mandriva, adalah distro pertama yang aku install.
Semenjak melakukan dual boot ini, aku jadi jarang masuk ke windows. Entah mengapa, mungkin karena aku terlalu penasaran tentang apa yang ada didalam linux. Dari mandriva ini, aku belajar cukup banyak, aku baru tahu kalau aku bisa menambahkan berbagai aplikasi dari dvd mandriva. (Itu adalah dvd dari sepupuku, ia memberikannya waktu tahu kalau aku tertarik soal linux). Meskipun aku sudah memiliki mandriva di sistemku, namun aku tetap masih penasaran terhadap distro-distro lain, aku mulai jadi kolektor distro. Dan hingga aku masih setia menggunakan linux mint sejak mint 8 di rilis.
Aku tak bosan, malah semakin aku mencoba semakin aku banyak tahu. Saat semester dua di kelas 8 mulai berkahir, akhirnya aku memberanikan diri untuk “berkhotbah” soal linux kepada teman-temanku.

Caraku Mengajak Orang Pakai Linux
  • Pamer desktop, yups. . .cara ini cukup ampuh karena desktop di linux mudah sekali di modifikasi, beberapa temanku mau mengunakan linux karena tapilannya yang sudah aku rombak.
  • Bikin cerita soal linux, he. .he. . .aku sering membuat dan menceritakan tentang kehandalan linux, meskipun cara ini bisa di bilang kurang efektif tapi tetep aku lakukan.
  • Remastering, ya. . .aku meremaster linux yang ada di laptopku dengan segala aplikasi di dalamnya termasuk tampilan, kemudian aku bagi ke temen, cari ini sangat mujarab, terlebih kalau desktopku cantik, namun lama-lama tekor juga kalo ngasih dvd terus, jadi bwt selanjutnya aku putuskan untuk memberikan hanya file isonya.
  • Bikin virus, hal ini untuk membuktikan bahwa windows sangat rentan terhadap linux, sehingga bisa jadi pemikiran ulang untunk memilih aplikasi
  • Sedikit garam bohong. Nah ini cara yang aku suka, biasanya banyak anak minta tolong ke aku untuk menginstal ulang windowsnya, nah namun aku tentu tidak langsung menginstall windows, melainkan menginstall linux yang tampilannya aku modif sehingga identik dengan windows, biasanya aku tambah wine agar tidak curiga kalau menjalankan aplikasi .exe. Nah kalau di tanya, kk windowsnya aneh? Aku jawab, “tenang, ini windows racikanku, dah aku modif supaya nggak kena virus, kalau sampai ada virus ngrusak sistemnya, laptopku taruhannya.” nah biar nggak curiga aku juga instalin Office 2007. Dan setelah seminggu aku tanya, “giman windows buatanku?” banyak dari mereka cocok dan bilang ringan banget, nah saat itulah aku kasih tahu kalau itu linux, dan alhamdulillah mereka mau pake terus. Jika ketahuan alias gagal, terpaksa aku dual boot sama windows, dengan catatan linux masih tertanam.
Nah itu dia caraku memperkenalkan linux ke orang lain, kau tahu ini ceritaku, apa ceritamu??

Kau & Aku Juga Tahu


Dingin. Aku agak kedinginan malam ini. Malam ini aku tak menjumpai bintang-bintang yang biasanya tergantung di langit luas. Apakah mereka sudah malas bertemu aku? Ataukah mendung dan hujan ini yang menghalangi mereka menemuiku? Aku tak heran. Kau tahu, sudah banyak halangan yang telah aku lalui, bersama temanku, kekasihku, orang tuaku, adikku, kakakku, guruku bahkan yang aku lewati seorang diri. Adakah yang mau menemaniku saat ini? Aku tahu, di antara mereka yang dekat denganku akan bersedia menemaniku, namun aku saja yang terlalu buta sehingga tak melihat apa yang mereka lakukan. Semua pernah menjadi semangatku, dan semua juga pernah membuatku merasa dia adalah pilihan terbaik.
Beberapa tahun lalu di cuaca seperti saat ini, aku masih bersama kamu dalam rumah kayu yang luas itu. Kita masih bercanda dalam sebuah penantian, mesih berusaha tersenyum selagi senyum itu belum direnggut waktu. Ingatan-ingatan kecil masa lalu bahagia itu, tersimpan rapi dalam jutaan almari ingatan. Ingatkah engkau saat kita berusaha untuk untuk berbohong untuk menutupi sebuah kesalahan yang aku lakukan? Aku ingat saat aku membuat kamu menangis tawa saat melihatku menirukan tarianmu. Aku juga masih ingat, sebuah cerita yang aku rangkai untuk mendekatimu, yang pada akhirnya kamu tertawakan. Ingatan itu, pengisi hidupmu dan sebagian hidupku.
Aku yakin kamu tak tahu, perasaan yang aku dapat menjelang kepergianmu. Kamu takkan tahu, arti keberadaanmu untukku. Kamu tak tahu, karena kamu terlalu cepat pergi. Aku tahu itu bukan pilihan kamu, aku paham kamu tak punya hak untuk memilih waktu kapan kamu akan pergi.
Aku laki-laki! Aku tak akan menangisi kepergianmu, namun mungkin saja aku malah akan menangis lebih lama dari yang pernah kamu lakukan. Aku pernah berpikir akan menghpaus sedih itu dengan menghapus jejak yang pernah kita buat bersama, namun aku tahu itu adalah cara bodoh untuk seorang yang pernah ia sayangi.
Kini aku sendiri tanpa kehadiranmu. Tak ada yang aku sesali sampai saat ini, aku selalu yakin mungkin ini adalah jalan yang memang harus aku lalui dalam hiduku, kapan waktunya itu bukan urusanku. Sendiri takkan membuatku jadi tak berarti, meskipun bintang tak menemuiku mala mini, setidaknya esok aku akan bertemu dengan cerahnya mentai yang tak pernah terlambat terbit.

17 Apr 2012

Jawaban Untuk 'E' (cukup 'E' saja, karena dia pasti tahu


+Bagaimana kabarmu di pondok...(yang maaf, aku sendiri lupa namanya)?
Keadaanku masih seperti yang dulu, hanya sekarang aku juga udah mulai suka dengan palajaran dikelas karena ini menyenangkan.
+Apa kamu masih seperti yang kukenal dulu?
Jika dulu kau mengenalku maka hari ini kau akan lebih mengenalku, karena ibarat sebuah pohon kini aku lebih jelas akan menjadi pohon seperti apa.
+Apa kamu masih ingat aku?
Jika aku tak ingat kau, tak mungkin pertanyaan sebanyak ini kujawab.
+Apa kamu masih mengingat teman seperjuangan lainnya juga?
Ehm. . . Aku ingat apa lgi saat kau berantem dengan Endah dan wkwkwk sorry kau kalah dan tersungkur xixix
+Apa kamu masih ingat aku sekarang berada di mana?
Seperti kata Enstein seuatau yang bergarak tentunya punya relativitas, kalo ngetik ya di depan PC kalo sekolah ya di sekolahan kau masih skul di Bojonegoro kan.
+Apa kamu masih tetap menulis sampai sekarang?
Aku masih menulis, bedanya tulisanku sekarang berada di buku, soalnya mau posting koneksi sulit.
+Apa kamu masih ingat janjimu untuk membantuku meluncurkan novelku, dalam konteks meraih mimpiku?
Ehm. . .aku ingat, apa lagi sekarang aku juga sedang membantu orang sepertimu.
+Apa kamu masih ingat kalau dulu kamu sempat menyamakanku dengan wanita pertama yang kau kagumi, yang punya mimpi sama denganku, tapi kamu tidak sempat membantu mewujudkannya karena ia terlanjur pergi untuk selama-lamanya?
Ingat sih, tapi itu adalah sebuah pelajaran yang bikin mata berair.
+Apa kamu masih ingat tentang rencana gabungan 4 cita-cita, programer-novelis-desainer grafis-gamer?
Yupz, Me, You, Bu Ngatpi Cilik, N Si Raky
+Apa kamu masih ingat password blogku, sebagai orang yang paling sering membantu membenahi blogku?
Ini aku lupa soalnya dah nggak pernah login.
+Apa kamu masih ingat rasanya pegal punggungmu ketika ku tabok 14 kali di Telkom?
Wah itu yang masih ku ingat
+Apa kamu masih ingat film pertama yang aku minta kamu downloadkan untukku?
Sherlock ea . . . ndek pondok banyak juga lho buku misteri macam itu, tapi yg paling kusuka Detective Conan
+Apa kamu masih ingat tentang kata 'omong kosong' dalam pidato bahasa jawaku?
Mungkin itu aji2 yg bikin kamu menang . . .
+Apa kamu masih ingat rahasia yang belum kamu ungkapkan padaku, rahasia yang diungkapkan si Semohai kepadamu tentangku?
POKOKNYA TETEP RAHASIA!!!!!!!!!!!!1
+Apa kamu masih ingat bahwa kamu orang pertama yang mengingatkanku, bahwa aku manusia yang punya banyak hal yang ingin dilakukan selain menulis?
Kalo sebagai orang pertaa sih aku nggak tahu, tapi sepertinya aku emang pernah ngomong kayak gitu. . .
+Apa kamu masih ingat tentang lukisanmu yang aku bilang 'lukisan tercari aman'?
Enak aja!. . Tapi nggak papa deh. . . lagian yang penting waktu dipajang kan lukisanku lebih tinggi dari pada anak2. . .wkwkwk
+Apa kamu masih ingat kalau kamu pernah membuatku marah terhadapmu karena kamu telah merusak caraku menikmati sesuatu (caraku menikmati cara melukisku)?
INGAT. . .Masih Protes????????????????????
+Apa kamu masih ingat dengan kata-kata ini "kadang saat kita berhenti, ada orang 'nitip' dan berharap 'titipannya' bisa ia dapatkan, meski kadang si penitip tak tahu jalan, jarak, dan hambatan yang harus kita tempuh", rentetan kata-kata yang kau pakai untuk menggambarkan situasiku ketika galau dengan peran Ratna Manggali?
Yupz, emang sih kadang kalo orang minta tolong jarang yg berpikir panjang, terkadang sih yang nolong akan diauntungkan suatu saat tapi lebih sering TERLIHAT dirugikan di saat itu.
+Apa kamu masih ingat first impression about you: 'sejauh mata memandang'?
Ingat, bahkan sekarang terulang lagi. . .soalnya banyak ikut kegiatan jadi cepet dikenal oleh santri2 lain. . Bakat deh jadi orang tenar.
+Apa kamu yakin kalau sekarang ini kita sedang berproses meninggalkan jejak pada jalan yang benar untuk meraih mimpi kita?
Nggak ada takdir yang salah. . .AKU 100% Yakin
+Apa kamu tahu aku merindukan manusia (baca: sahabat) sepertimu, dan bukannya bermaksud ingin punya sahabat lain menyerupaimu, tapi benar-benar ingin kamu hadir di dekatku seperti dulu?
Kalo ini nggak tau sih, atpi pasti sekarang kamu repotkan nggak ada yang bantu2 lagi. . . seperti kata Pak Dad. . .Jadilah Problem Solver atau Helper
+Apa kamu masih ingat tentang hal lain selain yang kucantumkan dalam pertanyaan-pertanyaan di atas, sesuatu yang masih tentang PERSAHABATAN kita? Ingatkan aku jika kau masih ingat, dan beri aku pertanyaan semacam ini juga.. . . .
ehm apa ya?? inget Sama Aedupac?? Ingat sama temenmu kenduruan yg genit itu? (eh sumpah dia masih ngejar aku). Inget sama terkatung2 atau sama RISKAN? Ingat sama distro linux pertamaku yg namanya Agatha?. . .tapi sial langsung hancur. Inget waktu aku dihajar habis2an sama Bu Lis dan antek2nya di R. Kesenian wktu bikin mading? Ingat mading kita yg slalu hancur? Inget sama colt yang membuatmu terkloep-kolep apa kau juga ingat dengan TKI Taiwan, dan sejuta hal aneh yang kita lakukan sama anak2 di kelas??
Semua akan jadi lebih baik, liat aja nanti!

Pesan Yang Selalu Tersirat


Aku sendiri terkadang sering tak menyadari sebuah pesan yang telah dikirimkan-Nya. Sebuah penyesalan terkadang akan tersirat jika terlambat untuk sadar. Tak masalah itu “sedikit” lebih baik dibanding tak sadar sama sekali. Kau juga begitu?
Aku jadi ingat jika dulu aku dan teman-temanku menyimpan jutaan ambisi yang saat itu kami merasa seakan-akan akan dapat mewujudkan semua ambisi yang tertanam dan terpupuk dengan subur. Saat itu memang inilah yang membuat semangat kami terus berkobar, jika kupikirkan sepertinya semua yang menjadi misteri setidaknya itu lebih baik karena memang rasa penasaran itulah yang membuat kita akan berusaha untuk melangkah membuka sebuah tabir bahakan terkadang mencoba menggapai horison indah yang ada di pandangan kita. Ya, memang seharusnya demikianlah, mimpi-mimpi kita harus selalu ada dipandangan dan bukan berada di jangkauan kita. Kau ingin menggapai mimpimu kan, jadi letakkan mimpimu di angkasa dan jangan pernah berharap mengambilnya dengan pesawat apalagi roket, cobalah mendaki gunung, lewati lembah, bersama teman berpetualang*, karena itulah yang akan membuat mimpi berarti.
Kini aku mulai paham, dan menikmati apa yang sempat aku lakukan di masa lampau. Sebuah tindakan yang sepertinya nyeleweng, seorang anak sekolahan yang nggak suka dengan pelajaran, dan malah cenderung untuk menjauhi segala yang berbau pelajaran di kelas serta cenderung “edan” dengan yang namanya kegiatan, pikirku dahulu daripada sekolah di sini nggak dapet pelajaran dalam artian kasar emang aku yang lambat kalo memproses pelajaran, mendingan ikut kegiatan aja deh, daripada nggak dapat apa-apa. Aku yakin akan bermanfaat. Semoga! Dan sekarang apa yang aku ktakan itu terbukti, di sekolahku yang baru hampir semua kegiatan yang pernah aku ikuti dulu bermanfaat, bahkan di sini aku bukan lagi jadi konsumen, tapi distributor dari apa yang pernah aku dapatkan dahulu, ya hampir di setiap hal. Mungkin kebodohanku di masa SMP adalah sebuah pesan, dan sepertinya pesan itu memang benar adanya. Hari ini, esok hari atau lusa nanti aku masih yakin banyak pesan yang akan menghampiriku, semoga saja aku dapat kembali memahami pesan itu. Terimaksih untuk para “Pak Pos”** yang telah mengatarku pada suratku, memang takdir tidak pernah salah, karena semua akan sampai pada tempat dan ujung masing-masing. Semga kau percaya, dan jangan takut melangkah.

*Lagunya Ninja Hatori
** Buat semua temen2 yang sering membuatku berpikir dengan tiap kalimatnya juga para guru2 yang pengertian. Thanks

30 Jul 2011

Langkah Baru


Langkah Baru
Baru 3 minggu lalu aku meinggalkan Jatirogo, namun entah mengapa Kamis 29 Juli kemarin saat mulai masuk ke kawasan kelahiranku aku merasa rindu, aku rindu senyum ibuku yang membuatku selalu merasa tenang, kumis bapakku yang malang melintang yang selalu mengingatkan aku aga jadi laki-laki setegas beliau.
Hari pertama mungkin karena belum terbiasa sehingga badanku cukup terasa pegal, selain itu waktu tidur di tempat ini lebih singkat dibanding jika aku tidur di rumah, bagi mereka waktu adalah ilmu, jadi sudah banyak dari mereka yang mulai sadar untuk tidak menyia-nyiakan waktu, mungkin aku harus segera beradaptasi dan mengubah sedikit demi sedikit kebiasanku untuk bersantai, namun aku tetap harus bisa menikmati apa yang akan aku lakukan hari ini, maupun esok.

Hafalkan Atau Kau Tidak Naik
Awal aku masuk aku cukup bingung, mengapa aku harus menghafal untuk dapat naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi? Padahal selama ini nilai lebih sering menjadi pedoman di beberapa sekolah di tempat asalku. Al-kulina min Al-biyasa, Al-biyasa min Al-dipaksa, kalimat plesetan dari guruku yang menjadi pedomanku untuk hari ini. Mau tidak mau aku harus menghafal yang namanya Al-Fiyah Ibnu Malik, dimana jumlah baitnya adalah 1000 bait. Satu dua hari. Aku mulai terbiasa dengan hafalan ini, semoga pada hari setoran nanti aku benar-benar hafal sesuai jumlah yang ditentukan.

Apa Karena Materai?
Di lingkugan YPRU ini cukup dikenala karena kemudahannya untuk mengeluarkan anak yang tidak mentaati peraturan. “Pondok Roudlotul ‘Ulum ini, menggunakan sistem mateari, jadi tiap kali kamu melakukan pelanggaran kamu akan diminta untuk membuat pernyataan bermaterai, satu kali, anda masih aman, dua kali, surat peringatan melayang ke orang tua anda masing-masing, tiga kali alamat anda tidak naik kelas, kalau tambah lagi satu anda akan kami antar pulang (dikeluarkan)” Kata Yi Najib saat muqodimah masuk pertama.
Selang beberapa waktu aku jadi terngiang kalimat-kalimat itu, apakah mereka yang ada di sini melakukan semua hal karena terpakasa? “ha. . .ha. . .kang. .kang. . .ya nggaklah, nanti kalau berbuat baik karena materai, sia-sia donk perbuatan baiknya. Begini saja, kalo pengen sukses di sini, lupakan soal materai, tapi ingat kamu selalu dishooting sama yang buat bumi ini, maka insyaallah kamu nggak akan lilmaterai, tapi lillahita’ala” Tutur santri yang sudah lama tinggal di YPRU itu. Setelah aku pikir-pikir benar juga, toh meskipun peraturan di sini bisa dibilang sangat ketat, namun aku rasa hasilnya nanti juga kembali pada pribadi masing-masing.

Anda Butuh Kami, BUKAN Kami Yang Butuh Anda
Ya, aku rasa di YPRU atau di ponpes lain cukup tepat dengan kalimat di atas, terbukti saat pengajian semua santri memliki kebebasan, mau tidur, mau mendengarkan asalakan tidak bicara dengan teman lain, dan tidur dalam keadaan tidak duduk. “kebebasan itu boleh, karena kebebasan itu milik siapapun, namun setiap kebebeasaan harus ada batasannya, nah aturanlah yang membatasi hal tersebut. Meskipun dibatasi, tentu setiap aturan memiliki maksud yang baik, dan kebaikan itu akan kembali pada anda juga”.

YPRU Ponpes Besar?
Soal yang satu ini aku menulis sesuai dengan apa yang banyak dikatakan oleh teman-teman dan beberapa wali santri lain. Beberapa hari kemarin aku cukup kaget mendengar bus baru milik pesantren telah tiba, menurut para santri senior rumor ponpes akan membeli sebuah bus sudah mencuat sejak satu tahun kemarin, dan hari itu adalah pebuaktian kata-kata para kyai yang pernah menyebarkan berita beberapa waktu lalu.
Luas? Ummm, aku rasa cukup luas untuk menampung ribuan santri dari berbagai daerah. Aku rasa gedung-gedung di sini juga cukup tinggi, selain itu ada yang membuatku heran, saat tahu kalau YPRU ini memiliki rumah sakit/klinik yang wow besar, dimana sudah mencakup apotek, dan kendaraan-kendaraan semisal dua ambulance dan sebuah mobil operasional. Soal olah raga, pondok ini mau membeli sebidang tanah untuk dijadikan lapangan para santri.
Soal fisik pondok memang besar, namun soal kualitas menurut banyak pihak pondok ini juga patut diacungi jempol. Jumlah mapel yang lebih banyak dibandingkan sekolah lain, sepertinya tidak membuat gentar santri yang ingin belajar “Man Jada Wa Jada”.

Libur Adalah Barang Langka
Untuk hal ini, lebih cenderung untuk anak pondok, di sini santri diijinkan pulang 6 minggu sekali, namun itupun jarang diambil karena bagi mereka satu hari sama dengan tidak libur jika digunakan untuk perjalanan pulang. Untuk masalah liburan dirumah hanya bisa di nikmati saat awal 3-5 hari jelang puasa, 10 hari jelang idul fitri, dan tiap libur semester. Kembali lagi, waktu adalah ilmu disini.
Pada intinya disini para santri diajarkan untuk menjadi nasionalis, dan menjadi masyarakat yang bermoral dimasa depan kelak. “Selain ilmu kami juga mencari barokah dari guru dan ilmu yang kami terima”

7 Jul 2011

<KOSONG>
Aku sedang bingung tentang apa yang akan aku lakukan menjelang kepergiankku ke pondok pesantren. Beberapa waktu lalu, aku sempat berpikir untuk membuat sebuah kenang-kenangan khususnya untuk kawan-kawanku di sini yang ingin belajar soal linux berupa distro hasil remastering linux mint, dalam prosesnya cerita kuno sering aku alami, kau tahu, awalnya gagal, setelah berusaha kemudian berhasil. Yah itulah cerita kunonya, entah mengapa, linux yang aku beri nama linux jatirogo itu selesai aku buat dalam waktu yang cukup singkat. Ya, aku memang suka memaksakan tubuh kurusku ini untuk mengejar sebuah target, karena aku ingat nasihat guruku agar selalu membuat target dalam bekerja, dan benar hasilnya cukup membuatku puas, terlebih banyak pihak-pihak yang mendukung, dan kau tahu distro yang bisa dibilang masih kiddiesitu cukup sampuh untuk mengajak orang lain menggunakan program legal. Aku menjadi cukup senang dengan pekerjaanku, sehingga aku bermaksud untuk membuat release berikutnya dengan id name “agatha”. Namun sial, dikala waktu santaiku sudah hampir habis, kecelakaan menghapiriku, semua isi partisiku ludes lantaran orang ceroboh yang bisa aku katakan sok tau meminjam dan menghapus partisi linuxku. Hah. . .sialan. Harapan tinggal ocehan.
Jauh sebelum ini, aku pernah mempunyai ambisi untuk membantu rekanku menjadi sebuah penulis terkenal, yah meskipun lewat blog, namun aku cukup suka dengan semangatnya. Sebuah semangat yang bisa menginspirasi tulisan-tulisanku.
Ha . . . aku ingat saat aku masih di kelas 9 kemarin, aku, Anindia, Agatha dan Rakijan Suagung pernah berkhayal tentang masa depan kita, aku enjadi seorang programer dan devloper linux, dimana untuk maslah desain adalah bagian Anindia, dan untuk bagian game merupakan tugas dari Rakijan. ha. . .ha. . .kau tahu, untuk apa linux ini dibuat? Untuk mensponsori novel perdana yang ditulis oleh Agatha. Huft, bisakah? Aku tak tahu juga, kan itu belum terjadi.
Soal masa depan, kadang kadang ragu untuk berkhayal soal masa depanku sendiri, kau tahu tidak semua yang ada dilamunan akan sesui dengan bayangan yag kau tangkap dengan matamu, terlebih jika situasi seperti sekarang, yah aku sadar, harapan selalu ada, namun . . .
Ya, aku ingat yang pasti di dunia ini hanya beberapa hal termasuk kematian, kiamat dan beberapa lainnya, sedangkan yang lain hanyalah sebuah kemungkinan yang bisa jadi membuatmu selalu semangat dan bahkan down.
Sabtu esok, aku sudah mulai belajar dan membuat pengalaman di tempat lain lagi. Satu hal lagi yang pasti, semua pengalaman tentu berarti.

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??
Cara Bodohku Menyebarkan Pengaruh FOSS

Aku mengenal FOSS, saat aku baru duduk di kelas 7 SMP. Aku ingat betul, saat itu aku belum pernah melihat komputer, apalagi mengoprasikannya. Saat pelajaran TIK pertama, guruku memberikan aku dan teman sekelasku untuk membuat sebuah poster untuk menentang pembajakan. Beliau sempat berkata, “silahkan cari refrensi dari internet”. Nah kata terkhir dari kalimat itu sempat membuat ku bertanya, apa itu internet, dan siapa yang punya? Karena memang saat itu aku masih bisa dibilang gaptek, jadi aku meminta bantuan kakak kelasku yang memang sudah lama kenal untuk mengajariku membuka internet, awalnya aku ditertawakan, namun masa bodoh, namanya orang bodoh mana sadar ditertawakan.
Saat browsing aku banyak bertanya temanku yang kebetulan dia cukup pandai soal komputing. Beberapa pertanyaan yang masih ku ingat sampai saat ini adalah, “ siapa sih yang bikin internet? Google itu apa? Kok komputer tau apa yang mau kita cari? Trus, yang ngasih tahu apa yang ingin kita lihat di internet ke komputer siapa ya? Kok ada lambang mirip bendera (lambangnya windows maksudku dulu)?” dan masih banyak sebenernya, namun tak perlulah aku sebutkan (nanti terlihat terlalu bodoh donk). Beberapa pertanyaanku tadi dijawab olehnya dengan sabar, namun saat aku bertanya “apa itu pembajakan?” sepertinya dia berpikir sejenak dan memberikan jawaban dengan membukan sebuah situs tetang makna pembajakan. Setelah aku baca, pertanyaanku tadi berbuntut, “lah, kalau begitu programprogam yang aku pakai ini ilegal donk?” temanku tidak menjawab, lalu saat aku browsing entah mengapa aku ingat kata “linux dan UNIX”, nama itu terkesanlucu bagiku, dan mudah untuk aku ingat, akhirnya setelah satu jam belajar ngenet aku baru tahu apa itu linux, meskipun aku belum paham betul, namun aku mulai tertarik dengan gambar pinguinnya. Singkatnya akhirnya aku mengumpulkan tugas TIK-ku berupa kertas yang aku gambar dan dibawahnya aku tulis menggunakan spidol “Mengapa pilih membajak kalau ada Linux yang lucu nan hebat”, saat aku ditanya guruku, aku hanya menjawabnya dengan senyum, karena aku belum tahu betul, takut malu. he. .he. .he. .

Slax Pacar Pertamaku
Sejak saat itu aku jadi gemar berinternet, dan mencari gambar tentang linux, aku jadi sangat tertarik, kemudian aku baru tahu kalau ada linux yang bisa digunakan tanpa menginstall, lalu tanpa pikir panjang aku downloadlah linux slax, dan dengan jantung dag dig dug. . .aku mencobanya di komputer temanku, dan waw aku tidak pernah melihat program seperti ini. Sejak tahu soal itu, aku sering menunjukkan ke temanku, namun mereka acuh soal hal ini, dan ada yang bilang “repot amat, masak kalau mau pake harus nyari flashdisk dulu, enakan windows langsung nggak pake ribet”. Aku jadi berpikir, apa benar ya , perkataan temanku, tapi aku jadi berpikir terbalik, dalam hatiku “kamu yang goblok, dikasih pancing malah milih ikan seekor”.

Laptop Adupac Pacar Setia
Saat aku duduk di kelas 8, orang tua membelikanku sebuah laptop. Saat baru beli, aku mendapat license windows 7 yang katanya sih, itu artinya windowsku asli bukan bajakan. Paling nggak aku nggak mau jadi orang munafik, nah aku pikir laptop ini adalah kesempatan untukku belajar lebih banyak soal linux.
Aku mulai sering mendownload bermacam-macam distro yang ada di dunia maya, lalu aku bootingkan melalui usb, dan aku cukup kagum, tiap distro memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menginstall linux, kedalam hardisku bersandingan dengan windowsku.
Waduh, pertama install aku bingung banget karena cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan menginstall windows (aku sering membantu orang mengingstallkan windows), akhirnya setelah coba-coba (karena nggak ada lagi yang pakei linux), aku baru tahu kalau perlu sebuah partisi swap jika mau menginstall linux. Dan akhirnya distro mandriva, adalah distro pertama yang aku install.
Semenjak melakukan dual boot ini, aku jadi jarang masuk ke windows. Entah mengapa, mungkin karena aku terlalu penasaran tentang apa yang ada didalam linux. Dari mandriva ini, aku belajar cukup banyak, aku baru tahu kalau aku bisa menambahkan berbagai aplikasi dari dvd mandriva. (Itu adalah dvd dari sepupuku, ia memberikannya waktu tahu kalau aku tertarik soal linux). Meskipun aku sudah memiliki mandriva di sistemku, namun aku tetap masih penasaran terhadap distro-distro lain, aku mulai jadi kolektor distro. Dan hingga aku masih setia menggunakan linux mint sejak mint 8 di rilis.
Aku tak bosan, malah semakin aku mencoba semakin aku banyak tahu. Saat semester dua di kelas 8 mulai berkahir, akhirnya aku memberanikan diri untuk “berkhotbah” soal linux kepada teman-temanku.

Caraku Mengajak Orang Pakai Linux
  • Pamer desktop, yups. . .cara ini cukup ampuh karena desktop di linux mudah sekali di modifikasi, beberapa temanku mau mengunakan linux karena tapilannya yang sudah aku rombak.
  • Bikin cerita soal linux, he. .he. . .aku sering membuat dan menceritakan tentang kehandalan linux, meskipun cara ini bisa di bilang kurang efektif tapi tetep aku lakukan.
  • Remastering, ya. . .aku meremaster linux yang ada di laptopku dengan segala aplikasi di dalamnya termasuk tampilan, kemudian aku bagi ke temen, cari ini sangat mujarab, terlebih kalau desktopku cantik, namun lama-lama tekor juga kalo ngasih dvd terus, jadi bwt selanjutnya aku putuskan untuk memberikan hanya file isonya.
  • Bikin virus, hal ini untuk membuktikan bahwa windows sangat rentan terhadap linux, sehingga bisa jadi pemikiran ulang untunk memilih aplikasi
  • Sedikit garam bohong. Nah ini cara yang aku suka, biasanya banyak anak minta tolong ke aku untuk menginstal ulang windowsnya, nah namun aku tentu tidak langsung menginstall windows, melainkan menginstall linux yang tampilannya aku modif sehingga identik dengan windows, biasanya aku tambah wine agar tidak curiga kalau menjalankan aplikasi .exe. Nah kalau di tanya, kk windowsnya aneh? Aku jawab, “tenang, ini windows racikanku, dah aku modif supaya nggak kena virus, kalau sampai ada virus ngrusak sistemnya, laptopku taruhannya.” nah biar nggak curiga aku juga instalin Office 2007. Dan setelah seminggu aku tanya, “giman windows buatanku?” banyak dari mereka cocok dan bilang ringan banget, nah saat itulah aku kasih tahu kalau itu linux, dan alhamdulillah mereka mau pake terus. Jika ketahuan alias gagal, terpaksa aku dual boot sama windows, dengan catatan linux masih tertanam.
Nah itu dia caraku memperkenalkan linux ke orang lain, kau tahu ini ceritaku, apa ceritamu??

20 Jun 2011

Ingatan Dalam Kenyataan


Ingatan Dalam Kenyataan

hari ini sebuah perjalanan mendadak terpakasa harus ku lalui, perjalanandari rumah menuju sebuah tempat dimana aku akan belajar kelak. Perjalanan ini cukup terpakasa, karena seharusnya bukan hari ini jadwalku untuk pergi kesana, dan tentunya aku harus membatalkan semua perjanjian dan kegiatanku hari ini. Sial memang, namun mau bagaimana lagi?
Hamparan rumah mewah sampai rumah tak mewah menemani perjalananku ini, hamparan ssawah garam juga menjadi pemandangan yang cukup membuatku bosan dan bertanya-tanya. Aku ingat sebuah kabar burung beberapa bulan yang lalu yang mengatakan bahwa garam di Indonesia akan mengimpor dari luar negri, lalu aku bertanya apakah garam di negaraku kurang asin? Apakah laut di negaraku sudah tak bergaram lagi? Apakah negaraku tak punya laut? Bagaimana dengan nasib dengan para petani garam? Apakah pemimpin negaraku setara dengan udang? Aku melihat jerih payah para petani garam meskipun hanya dalam perjalanan, namun aku tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya bertani garam, dan kalian tahu garam di toko depan rumahku hanya seharga Rp. 300 untuk tiap bungkus, dimana bungkus itu cukup besar dan bisa digunakan memasak ibuku selama berminggu-minggu. Ah, semga kabar yang aku dengar hanyalah kabar yag dibuat oleh orang-orang yang buta akan luasnya lautan negaraku.
Aku sampai di tempat tujuanku, di pondok pesantren di daerah Pati. Aku pernah kemari, dwaktu pertama kemari aku cukup tertegun dengan semua yang ada di sini, kedisiplinan mereka, ketaatan mereka, dan kesadaran mereka. Aku sadar, aku tidak ada apa-apanya dibandingakan dengan mereka. Ini bukan soal ilmu, ini tentang pengalaman. Mungkin aku selama ini mendapat pengalaman dari guru-guru SMPku, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu, meskipun aku tidak pernah mengucapkan terima kasih pada mereka, namun di sini aku merasa kecil dan tidak ada apa-apanya.
Hari saat aku bertandang kemari ini, ternyata adalah hari penerimaan hasil belajar kepada orang tua, semua kegiatan aku lihat dipersiapkan oleh para santri yang aku pikir masih sekolah setingkat SMA. Aku jadi teringat saat aku merasa membohongi orang tuaku dulu ketika penerimaan rapor SMP kelas 8 dan 9. Yah, saat kelas 8-9 aku memang jarang belajar tidak seperti saat aku masih kelas 7 atau bahkan SD yang bisa ku kuatakan amat rajin belajar, namun niliai yang diterima masa itu cukup baik meskipun tak sebaik saat masih kelas 7, jujur bisa aku katakan itu bukan nilai beberapa mata pelajaran yang ada dirapor aku yakin bukan nilai hasil kerjaku. Aku senang membuat orang tuaku tersenyum, namun kadang mataku tak bisa menahan sedikit tetesan air mata saat aku ingat itu bukan hail yang sebenarnya, dan itu artinya aku membihingi mereka. Itu masa lalu. Ya , memang masa lalu, tapi cukup membuat aku agak malu, terlebih saat melihat beberapa santri di sini mendapat pengumuman hasil belajar mereka yang sudah terbukti murni karena tesnya bukanlah bersama namun satu per satu. Beberapa dari mereka ada yang tidak naik kelas karena belum mampu menghafal syi'ir Imriti maupun Al-Fiyah. Namun aku heran orang tua mereka tetap memberikan senyuman semangat, bahkan tak memarahi mereka-mereka yang gagal itu. Aku sadar benar kata guruku SMP, di pondok ini yang terpenting bukan soal nilai namun pengalaman putra-putri mereka. Aku jadi tertawa kecil saat ingat ada anak yang dimarahi orang tuanya bahkan tidak boleh keluar rumah dan dikunci serta dibebani untuk belajar dan membaca lagi buku-buku pelajaran. Aku tak menyalahkan dan membenarkan, semua memiliki hak masing-masing.
Menurutku tidak ada ilmu yang tidak berguna, namun sepertinya pendapatku itu tidak berlaku kepada orang yang duduk disebelahku seusai sholat dluhur. Dari pembicaraannya selama berjam-jam dengan rekannya, aku sedikit banyak mendengar dan memahami orang itu. Aku tahu bahwa orang ini cukup mendewa-dewakan ilmu agama, itu tak salah itu juga kebebasannya. Benar juga tidak ada hitam putih, yang ada abu-abu, aku kembali ingat salah satu obrolanku beberapa waktu lalu dengan guruku.
Cukup banyak pelajaran yang aku dapat hari ini, bahkan lebih banyak dari pelajaran di kelas dulu. Di sini kelak aku membuat sebuah jejak, gagal berhasil urusan nanti bagiku, dalam catatanku yang terpenting adalah melakukan semuanya tanpa ada paksaan. Kakiku siap melangkah lagi.

5 May 2011

Masih Adakah Sesuatu Yang Berarti??


Kembali aku menikmanti malam lagi. Seperti biasa, malam ini aku tak punya teman lagi untuk melewati sisa hariku ini. Setidaknya aku maih ada laptop yang setia selalu menemaniku sampai gelap sekalipun. Namun mau bagaimana lagi, benda kesayanganku ini tetep saja hanyalah sebuah benda mati yang hanya bias aku isi terus menerus tanpa dapat memberi sebuah saran layaknya manusia.
Minggu-minggu setelah ujian nasional ini aku lewati begitu saja tanpa sebuah sejarah yang begitu berarti sampai pada suatu hal kalimat dari salah seorang guru favoritku membuatku bertanya selalu dalam hatiku. Kau tahu pertanyaanku, tentu kau takkan tahu tanpa membaca ini. Aku bertanya pada diriku, apakah selama ini aku sama halnya dengan laptopku? Yang selalu diisi tanpa memproduksi hal berarti sebelum mendapat perintah? Ah, tidak mungkin. Tapi sial, aku rasa hal itu sedikit banyak adalah benar. Namun aku tetap tidak akan mengakui itu, kau tahu orang-orang yang mengaku gurukulah yang sebenarnya membuat aku jadi seperti itu. Mereka bahkan terkadang sering memberiku petuah-petuah yang konon adalah basic mereka.
Hey-hey jangan berpikiran bodoh dulu, aku tahu kau menganggapku sebagai orang yang tidak berterima kasih pada guru yang telah mengajariku, eh lebih tepatnya mengajari sambil memasukkan racun dalam jiwaku. Racun? Mereka memang tak membunuh jasadku, namun sedikit banyak mereka membunuh ideku, naluriku, bahkan keinginan dan tujuanku. Namun, andaikan kau tahu, ada yang lebih parah dari itu. Apa! Mereka membuat jatidiri palsu untukku. Ya, aku akui mereka guruku, namun  aku jelas-jelas tahu mereka tak boleh membatasi semua gerakku yang aku rasa tidak membuat rugi siapapun. Seperti yang sering aku ucapkan dan aku tulis, ini hidupku, ini milikki, dan ini adalah kebesanku untuk memilih jalan untuk hidupku.
Aku suka perbedaan, perbedaan yang membuat sesuatu menjadi lengkap. Semua yang aku miliki hampir selalu berbeda dengan apa yang mereka bahkan kau miliki. Satu hal yang aku ingat dari bapak di kelasku, perbedaan adalah hal yang lumrah dan belum tentu perbadaan yang aku miliki dank au miliki itu salah. Setidaknya aku paham apa itu kesalahan, ya dalam otak yang sudah aku pelihara sejak dulu tertanam kuat bahwa kesalahan adalah sebuah kebenaran yang tidak pada tempatnya. Kau anggap pendapatku salah? Terserah pendapat itu milikmu, bukan milikku. Kau ingat, orang-orang yang pernah aku dekati, mereka juga memilik banyak perbedaan denganku, namun mereka terlampau tidak pernah mempermasalahkan itu. Aku tahu mereka adalah sebagaian kecil dari orang yang tahu apa itu mengerti orang lain.
Sinar surya perlahan meredup saat aku melamunkan sesuatu yang agak sulit bagikuuntuk menjadi senuah kenyataan. Aku melamunkan seseorang yang dari segi kepercayaan berbda denganku, tapi dari cara hidup dia tidak terlalu berbeda denganku. Dalam lamunan yang entah berap durasinya itu, aku menghayal dapat melakukan sebuah kegiatan teatrikal dengan dia sebagai lawan mainku, lalu entah mengapa aku menjadi membayangan dia sedang menari bersamaku dalam kegiatan itu. Aku sempat menceritakan hal ini padanya, meskipun hanya melalui pesan singkat aku yakin bibirnya akan tersenyum kecil ketika membaca pesanku itu. Aku memang tidak bisa dikatakan baru mengenalnya, karena aku dan dia sudah saling kenal sejak beberapa tahun silam meskipun baru mengijak dua tahun ini kami lebih dekat karena sastra. Aku tahu dia anak anak yang pandai, oh lebih tepatnya cerdas dalam hal sastra dan beberapa ilmu yang aku sendiri kurang suka untuk mempelajarinya, ya itu adalah ilmu buku. Aku tak tahu alasan penciptaku mempertemukanku dengannya, karena mungkin itu adalah salah satu hal yang harus aku cari sendiri.
Aku tak punya nama untuk “kau”, karena kau selalu berubah, maaf mungkin itu adalah salah satu dari ribuan kelemahanku. Aku tidak bisa menutup semua kelemahanku, nahkan sampai detik terakhir yang aku jalaini, karena itulah aku tidak mau menutupinya biarlah orang tahu, karena samakin banyak yang tahu berarti semain banyak orang macam kau yang mengerti aku. Satu hal yang pasti aku lakukan untuk mengimbangi kelemahan atau kekuranganku, yaitu selalu mengasah yang menurutku mampu aku lakukan. Aku tidak menjamin akan benar-benar menjadi benar-benar seimbang antara kekurangan dan kelebihan karena jika keduanya benar-benar seimbang maka bagi itu sama artinya dengan kosong.
Sidikit bosan memang, namun lagi-lagi aku tulis malam ini adalah malam yang diiringi dengan tetesan air dari langit. Kau mengerti, karena malam hari ini memang hujan, jadi yah inilah realitas yang kadang membosankan. Realitas yang sering membuat kita jenuh sehingga banyak pihak yang membalik dan memutar realitas menjadi karangan yang menjadi lebih menarik apalagi jika dipadu dengan kebohongan. Hah dan orang-orang yang bisa aku katakana lebih bodoh dari akulah yang lebih senang dibohongi daripada diberi tahu fakta yang sebenarnya terjadi. Aku tak menyalahkan mereka, karena itu hak mereka, urusan mereka, mereka suka dibohongi, biarlah. Karena mereka merasa bahagia dalam kebohongan yang diracik orang pandai.
Bukalah mata dan telingamu, lihat dan dengarlah tawa dan tangis di sekitarmu. Ujilah apakah hatimu masih selunak batu untuk mengerti, memberi, mengasihi dan memahami hidup di sekitarmu. Secuil senyumanmu hari ini bisa jadi lebih berarti daripada tenaga yang telah kau keluarkan seumur hidupmu.
Terima kasih untuk senyum yang telah kalian berikan.

                           Bayangan Dalam Gelap
                           Mei 2011

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More