Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label Rania's Book. Show all posts
Showing posts with label Rania's Book. Show all posts

14 Aug 2013

Seseorang itu . . .

[Orang Baru Dalam Hidupku]

Siapakah dia? Ah, awalnya aku tak terlalu memperhatikan. Namun dia terlalu berlebih menyanjungku. Sanjungan itu termasuk dalam kategori hal yang tak aku sukai. Kurasa dia datang tidak pada waktu yang tepat, karena aku sedang berniat untuk mengosongkan hatiku dari semua renik asmara. Sepertinya aku tahu kalau dia menyukaiku, namun aku tak akan bilang apapun soal hatiku, maaf-maaf saja aku tak mau mengulangi kesalahan. Lebih baik tetap seperti ini saja.

Aku dan kamu seperti hujan dan batu cadas, selamanya tak bisa bersatu, karena aku tak bisa menyesapmu cukuplah aku menemanimu seperti ini saja, seperti air sungai dan batu karang.

11 Aug 2013

Aku Pilih Pergi Saja


Bagaimana aku bisa memasuki rumahmu, jika di sana masih ada seseorang yang berharap besar tak ingin keluar dari rumahku. Aku hendak mengetuk pintu rumahmu, namun aku urungkan, sebab dari luar aku masih mendengar candamu dengan seseorang yang di dadanya terdapat bungan mawar berbentuk hati. Aku jadi kian canggung, saat aku tak jadi bertamu di rumahmu, dan hendak melangkahkan kakiku meninggalkan daun pintu yang masih tertutup setengah, kau malah mamanggilku, hanya suaramu, namun kulihat wajahmu masih saja tetap serius dengan orang yang bahkan aku tak mengenalnya. Aku tak peduli, aku lebih memilih pergi.

9 Aug 2013

Cleaning My Heart


,,semua sudah terjadi. Menangis untuk hari kemarin adalah hal bodoh yang harus aku tinggalkan. Menatap hari esok, kupikir jauh lebih berguna daripada hanya diam seperti ini. Harus ada perubahan.
Untuk semuanya saja, maaf aku tak bisa menjadi apa yang kalian inginkan. Untuk sahabatku, maaf aku tak bisa menjadi sahabat terbaikmu, bahkan aku merusak tali persahabatan kita dengan sebuah hal bodoh yang seharusnya tak pernah kuungkapkan, terkadang berbohong memang aku perlukan, semisal untuk hal-hal seperti ini.
Untuk orang yang menyandarkan hatinya pada padaku, aku juga minta maaf, karena aku tak lagi kuasa untuk kau jadikan tempat bersandar. Aku tahu, di luar sana ada ribuan manusia yang jelas-jelas jauh lebih baik dariku, sebab itu, sekarang pergilah! Jangan penjarakan hatimu dalam tubuhku, karena aku bukan tempat yang baik untuk kau jadikan dermaga, terlebih menambatkan jangkar dan berhenti. Carilah apa yang menurutmu baik, kita tetap teman, tapi aku akan mencoba untuk menghapus semua hasrat itu hari ini. Aku tak mau lagi menahanmu, toh aku juga tak kuasa untuk menahanmu.
Temanku sempat berkata padaku, "menulis nama seseorang di setiap sudut ruang nyatamu, adalah hal paling riil yang membuktikan bahwa kau mencoba memaksa dirimu untuk mencintai pemilik nama itu, cukup simpan saja namanya dalam dada, dan biarkan dia tersenyum di sana. Tak perlulah berjanji manja, karena itu adalah akhir dari kebersamaanmu suatu ketika". Maaf hati.
Sering kali aku mengucapkan kata maaf, dan itu justru membuatku terlihat begitu bodoh. Ya, sangat bodoh. Seharusnya kata maaf itu tak perlu tercipta di dunia ini, karena maaf dalam lamunku adalah simbol kebodahan yang telah kau perbuat, dan baru kau sadari hari ini, dan sebelum itu kau tak pernah mau berfikir bahwa ketika sudah melakukan sesuatu kau perlu kata maaf untuk mengulangi semua, berharap orang-orang di sekitarmu mau melupakan kebodohanmu.
Hari ini, aku masih tak mengerti apa yang harus aku perbuat lagi. Aku tak bisa memaksa hati. Dia seolah-olah berjalan sendiri tanpa menuruti apa yang aku instruksikan dari otak. Seenaknya saja.
Hari ini, aku seolah-olah berlagak menjadi orang paling menyesal di dunia karena telah melakukan sebuah kesalahan besar. Namun aku tak tahu bagaimana dengan hari esokku, akankah masih sama atau sudah melupakan semua ini.
Untuk sahabatku, Anin. Tanpa peduli seberapa bencinya dirimu padaku sekarang, sesuai dengan pilihan hati, kamu tetap akan menempati tempat bernama "Ruang Sahabat" dalam hatiku. Meski esok atau seterusnya tak lagi kudengar suara candamu, suara marahmu, suaramu ketika meremehkanku, aku akan tetap menyimpan semua nada yang pernah terlantun dan sempat kita lewati sebagai seorang "teman".
Untuk sahabatku, Anin. Mungkin, bahkan memang aku tak mungkin dapat melebihi dirimu, tapi setidaknya melihat seorang temanku dapat membusurkan senyumnya, itu sudah cukup untukku. Sudah cukup untuk membuatku juga tersenyum, meskipun kamu tidak tahu. Aku yakin kamu tidak akan pernah tahu, karena aku menyembunyikannya sejak aku mulai mengenalmu.
,,ah bukan. Bukan, aku bukan bermaksud untuk memaksamu melupakan kebodohanku tempo hari. Itu semua terserah kamu. Aku selalu percaya, menjadi pemuja rahasia, itu jauh lebih baik. Tersenyum dengan sembunyi-sembunyi saat kamu bahagia itu lebih baik, karena aku memang orang yang gagal dalam banyak hal, termasuk menjadi temanmu.
,,ah bukan. Bukan, aku bukan mengutuki diriku sendiri.
Untuk sahabat diamku, aku akan selalu merindukan merajut kisah bersama dirimu.
Tersenyum untuk sahabatku, meski tak terbalas tak apa, karena ssahabat bukan menggunakan rumus aksi reaksi. Bahkan Enstein sekalipun tak akan sanggup membuat rumus yang pas itu sebuah persahabatan.
Untuk sahabatku, Anin. :-)

29 Apr 2013

Buat Arek ISRU

Muwadda'ah usai, banyak "ke-grundelan" yang masih tersimpan di hati dan belum sempat aku luapkan. Ini soal ISRU Pi. Aku bingung, ISRU Pi kerjaannya apa sih?? Kok sampai2 ngurusi konsumsi aja nggak "genah"?? Istilah kasarnya "Ora Godak". Coba, bayangkan saja masak jam 06.30 konsumsi belum siap?? Jangankan siap, dihitungpun belum, piye tah mbak-mbak. . .??? Sampean itu banyak bicaranya daripada kerjanya, buktinya aku dkk bungkusi jajan yo nggak selama sampean, padahal kami cowok lho yg konon dikata tak serajin arek putri. Payah, jujur ae saya pribadi kecewa berat sama arek ISRU Pi.
Selain itu, banyak arek ISRU Pi yg nganggur, padahal kerjaan masih banyak, trus pas bersih-bersih juga, ah mbuh ah. . .ISRU kok bikin komplotan dhewe-dhewe?? Kapan mau peduli sekitar jal?? Dan yang paling jengkelin itu, pas aku nanya, "mbak ini jumlahnya yg buat guru berapa?" jawabnya malah oper-operan, tanya mbak ini kang, tanya mbak itu kang. . . .
OK, saya memang sok tahu, tapi saya yakin orang sing banyak bicara biasanya kerjanya lama. Wislah sing wis kadung yo wis, semoga tahun depan bisa lebih baik. Amin


Nb. Kemarin sempat kenalan sama arek yg rumahnya sekitar daerah Bulu Manis, tapi lupa namanya, thanks dah mau bantu nyapu. . . .nice smile guyz. . .

20 Dec 2012

Entah


Aku ingin kau mendengar lagu ini, dan semoga kau tahu apa yang aku rasakan.

(Pemuja Rahasia)
Kuawali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau s'lalu sehat dan bahagia disana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
Ku tak pernah berharap kau kan merindukan
Keberadaanku yang menyedihkan ini
Ku hanya ingin bila kau melihatku kapanpun
Dimanapun hatimu kan berkata seperti ini
Pria inilah yang jatuh hati padamu
Pria inilah yang kan s'lalu memujamu
Aha, yeah, aha, yeah
Begitu para rapper coba menghiburku
Akulah orang yang selalu menaruh bunga
Dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
Akulah orang yang kan s'lalu mengawasimu
Menikmati indahmu dari sisi gelapku
Dan biarkan aku jadi pemujamu
Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu
Mungkin kau takkan pernah tahu
Betapa mudahnya
Kau untuk di kagumiii... I
Mungkin kau takkan pernah sadar
Betapa mudahnyaKau untuk di cintaiii... I
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Karena hanya dengan perasaan
Rinduku yang dalam padamu
Kupertahankan hidup
Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu
Ada artiku telusuri hidup ini
Selamanya hanya ku bisa memujamu
Selamanya hanya ku bisa merindukanmu
Bukanlah maksud hati ingin apa-apa, aku cukup berharap kamu tahu. Aku tersenyum, melihatmu tersenyum. Terima kasih Agatha, untuk semua saranmu.

19 Dec 2012

Untuk Seorang Gadis


Aroma liburan seakan terhapus dengan mudahnya oleh perasaan ini, sejak jumpa kita hari itu aku berubah menjadi seorang lelaki cengeng. Kupikir ini karena racun cinta yang kuteguk saat kita bertatap kemarin. Racun itu telah membuat degup jantungku meningkat, semua perasaanku terkontaminasi wajahmu. Pikiranku menjadi tak terkendali, hanya kamu, kamu dan kamu.
Ini pernah aku alami saat aku jatuh cinta pertama kali, dan hari ini terjadi lagi. Sayang, tak kau enggan membuka hatimu, karena hatimu memang sudah ada yang mengisi, dan ia bukanlah aku. Beberapa lagu, aku jadikan perwujudan dari perasaanku, namun sayang kurang sempurna kupikir. Akhirnya kutulis celoteh ini.
Hari itu usai reuni MDPA, senyumanmu mulai bergelayut di renungku. Satu wajah yang manis menurutku. Mungkin boleh dibilang kita belum terlalu mengenal, hanya sama-sama tahu, namun begitulah cinta, cukup melihat satu kali dan akan menjadi candu alam hidupmu. Awal-awal masa liburan pernah kucoba utarakan isi hati ini padamu, namun sayang dengan polosnya kau beri tahu aku jika hatimu telah ada yang menjaga. Tak tahukah kamu, nada polosmu itu membuatku tersingkir dan terkucil dengan hati yang teriris. Satu malam pernah kita lewati dengan canda dan cerita ceria, kau tahu kupikir itu adalah salah satu malam terindah yang pernah aku miliki, namun pada malam berikutnya kau luluh lantakkan perasaan yang sejujurnya aku sendiri tak tahu mengapa datang padaku itu. Semua tuturmu mungkin lugu, tapi apakah kau tak pernah ingin untuk mencoba mengerti aku? Entahlah.
Tak hanya sekali, kau menawariku untuk menemanimu, sebenarnya bagiku itu adalah tawaran yang menggiurkkan, namun aku tak ingin sikap egois menggagahi diriku. Aku harus sadar, di belahan bumi sana ada yang sudah berjanji untuk menemanimu, dan kau tahu itu. Jika aku menerima tawaranmu, itu sama artinya dengan membunuh lelaki yang telah setia bersamamu selama 2 tahun itu. Aku tak ingin itu terjadi. Hai gadis, mengertilah, aku tak ingin kau memilih, karena aku bukan pilihan, dan kau tak perlu memilihku.
Bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan padamu, aku tak ingin apa-apa darimu, cukup ijinkan aku menyayangimu, tapi kau mengatakan cukuplah sayangi sebagai teman. Mengapa kau membatasiku? Jangan pegang langkahku, kuingin bergerak, cukup mengerti. Itu yang kuinginkan.
Sebuah dilema memang, antara perasaan suka dan aku sebagai lelaki. Mungkin benar, semua mimpiku jauh dengan inginku. Hai gadis, jangan hiraukan apapun yang mengganggu tidur malammu, dengarkan nuranimu. Yang perlu kamu tahu, tak akan jadi masalah untukku jika kamu berandengan dengan siapapun, asal kau tersenyum itu sudah cukup bagiku, dan biarkan aku menyimpan jauh rasa ini.

Kumpulan Puisi Rania's Book


Rania

kembali berdesis raga yang telah kaku
hati-hati pilu berkobarlagi karena namamu
jiwa-jiwa lama kembali bangkit
dari kesempatan yang kian sempit
polos lisanmu bergemuruh lagi
dalam asa dalam sanubari
memori lama yang terbungkam
kini tak sanggu tuk tetap bersemayam
sesekali memang pernah kelam
tapi itulah kisah kita yang dalam
jalan tapak yang dulu kita lewati
kini jadi ukiran manis dalam hati
hati yang selalu ingin berpuisi
memuja kau, lentera hati
selamat malam Rania

15 Februari 2012
 ***

Sumade

ingin kuucap kata rindu ini padamu
kuceritak sebaris sajak cinta pilu
lalu,
kulantuntan lagu senandung asmara
untukmu
Jauh setelah kusadari arti cahaya ini
nur yang terpancar dari teduh matamu
terbias menjadi keindahan tersimpan
satu pandangan penggetar jiwa
sebuah nama berkobar dalam dada
wajah itu...
ciptakan asa yang tak biasa
merakit serpihan harapan baru
tersimpan rapi dalam sukma
ini bukan sekedar angan maya
ijinkan kubuka kembali hati ini
untukmu, dewi..

21 April 2012
 ***

Untuk Oktaviani

Tiga hari berlalu, sinar mentari masih kaku
semburat cahayanya kian bisu
udarapun kulihat membiru
12 gejolak muda kian berkecamuk
perlahan mimpi seakan tercabut
namun belum semuanya hengkang
satu mimpi itu masih kau genggam
terselip dalam tiap senyumanmu
bergelantungan di teduh pandangmu
terkucil dari langkahmu
maafkan aku untuk rasa kagum ini
kau kurindu, hai pencair beku

*Usai Kemah di Jepara
 ***

dalam rindu tebal, kau tambahkan ribuan sesal

matahri hampir terbenam, sayang
kah masih pula enggak kau datang
kapas senja tebentang melintang
wahai sang malam
injinkan kutumpahkan rinduku padamu
sang bintang
syairmu memang menyentuh lubuk
tatapnya itulah senyumku
hilang arumnya rajut sesalku
jua punahkan asaku
matahari benar-benar terbenam, sayang
kah segan dirimu datang

22 Mei 2012
 ***

Coretan & Kerinduan

pena mulain menari kembali, menulis luapan hati yang tengah ria berpuisi, kaulah yang kembali dalam memori, mengirim rindu pada nurani.
Setiap hari hanya bualan soal penantian. Sesuatu dalam ketidak pastian memang sring jadi harapan, juga langkah yang semog tak hanya impian dalam khayal dan selamanya semoga aku tak terhapuskan.

14 April 2012
 ***

Murung

Tanah, kah kau masih marah
para sahabatmu gusah lihat kau gundah
kau sadar, rombongan padi juga gelisah
rasakanlah harapan sang istri kian resah
kah masih kau tega berulah tingkah
Tanah, kah kau masih geram
dengarlah para cangkul terdiam
mereka tunduk tiada gumam
hari itu, mungkin air sedang muram
sejuknya tak kuasa buat dia padam
maaf untuk semua lebam
Tanah, kah kita masih berkawan
kami rindu kau tumbuhkan harapan
kah tak pula engkau kasihan
jiwa terupuruk yang kelaparan
Tanah, kah kan kauberi lagi harapan itu,
untuk kami.

27 Juni 2012
***

Nasib
:Oi. . .

Mak, aku ingin menangis. Tempat mainku sudah habis. Gedung-gedang
dan rumah megah kini makin rapi berbaris. Amis. Mak, bapak dilamar
pengemis. Rambut mereka klimis. Dalam pinangannya terselip janji manis.
Kata bapak ini soal bisnis. Kudis. Mak, bapak sekarang bapak jadi selebritis. Di
banyak media nama bapak tertulis. Tanah bilang bapak orang kritis tapi krisis.
Konon saat ini bapak berakhir tragis. Sadis.
Mak kah aku boleh menangis...

Tuban, 2012
 ***

Colong
:melodi hitam-kelam

Aku geli ingat manusia. Tingkah mereka bagai lupa usia. Aku tergelitik,
lupa jika manusia makhluk yang hebat. Ahli lolos dari segala jerat. Aku
terpingkal, ingat manusia bani Adam. Mereka bilang aku ini makhluk haram.
Bahkan diberikan stempel jahanam. Benar. Akulah si pencuri. Pekerja keras
kala malam hari. Uangku, uang tuanku. Upahku tak begitu besar bagiku.
Bukanlah diriku ini makhluk keji. Yang lihai sembunya dan sangar soal
menghianati. Aku memang tak sepandai manusia berdasi. Yang pandai tipu
sana-sini. Satu malam jatahku cukup satu almari. Aku belum ahli soal korupsi.
Jatahku hanya satu almari. Bukan seribu anak negeri sendiri.

Batam, 2012

***
Tentang Pilihan
:Buanglah jika ada keraguan

Di alismu butiran hujan setia bertahan. Sumbang suaramu bernadakan
penantian. Katakan. Kah kau rasa kerinduan? Kulelah. Tak sanggup lagi aku
kau jadikan sandaran. Untukmu, cintaku bukanlah harapan. Cobalah kau
relakan. Hentikan. Air matamu bukan penyelesaian. Hanya awan hitam yang
membeban. Rania, tidurlah. Dalam mimpi kan kau temu jawaban. Tentang aku
dan sebuah pilihan.

Pati, 2012
***

Cemas, kau tak kunjung datang

kusibak makna selendang senja. Berharap. Satu kata berjuta rasa. Ingin rasanya kubungkam raungan senja yang gelisah. Berharap mampu menghapus wajahmu. Kembali berharap. Menatap laju surya, mencoba mengartikan sinarnya. Lalu terbias kembali wajahmu, tampak sebuah kesempurnaan. Namun, lagi-lagi gelap tak kuasa kubendung, bayangmu hengkang dari renung, rania, kang enggak kau datang kembali, perhatikanlah bulan, ia berbisik tentang puisi kerinduan.

Rania
***

Kado dan Ilusi

kukutiup api kecil yang tengah riang menari, sembari terpejam, kuhembuskan sedikit angin melawan terangnya lilin-lilin kecil, lalu hati sejenak tergagu sebelum akhrinya otakku memutar semua yang pernah terlewati. Melihat itu, jantungku cepat berdegup, hatikupun sempat memohon agar engkau dan aku selalu bersama, namun saat kubuka mataku, semuanya hilang. Tak ada seorangpun kudengan mengucapkan selamat, tak ada riuh tangan beradu, pun tak pula ada lilin-lilin kecil, mungkinkan hidupku ini hanya ilusi

30 Agustus 2012
***

Kembali berlayar
Kukirimkan kembali padamu sepucuk kerinduan ini bersama ombak yang yang menggelombang, kan kutitipkan barisan frasa ini pada angin riang yang berhembus membawa keceriaan, berharap bersamanya, pasir-pasir cinta yang telah kususun rapi ini apat kau genggam. Juga bersama udara malam, kuharap dapat kau hirup nafas asmara ini, sehingga bersatu dengan aliran darahmu, berjalan mengitari urat nadimu, dan semoga saja dapat tertambat di dermaga hatimu. Lalu bukalah pintu hati itu, rentangkan panji-panji asmara kita, karena kita akan mulai berlayar, kau dan aku membelah samudra cinta

30 Agustus 2012
***

Tak mampu

Cinta adalah kerisauan. Menjadikan hidup tak karuan. Selalu menciptakan hasrat untuk memuja dirinya. Membuatku belajar mencoba menyusun rapi ribuan kata bagai pujangga, namun sayang, tiap kali kucba rangkai kalimat manis, tak pernah sekalipun hadir puisi romantis. Lalu kucoba lagi mengguratkan pena, namun enggan pula hadir larik syair yang sempurna, selalu saja yang hadir hanya bualan mesra bertulis “kau kucinta”

31 Agustus 21012
***

Dia Datang

Ssst! Diamlah, hai dara
sempurna sudah, linang matamu
rajutkan kisah, lara itu
hengkah sudah, pilumu

indah

27 September 2012
***

<Untitled>

Terbujur aku
menunggu hari tiada
berlalu

Rania 2012
***

Lepas

dan lepas sudah apa yang membebaniku selama ini. Merenung aku, lalui jalan dengan ribuan liku, cambuk itu, hal terindah yang membangunkan aku dari mimpi kelabu. Lepas, dan memang telah bebas, kembali bergerak dengan nafas tak terikat.

Rania. 2012
***

lanc*r

neg ra neg ora
ora neg ra neg
neg ora neg ra
ra neg ora neg

neg ra ora neg
ora neg neg ra

gu gak ga
ga gak gu

ga gag gu
gag gu ga
gag ga gu

gu neg ra gag ora ga
gu ora neg ra gag gu

Rania, 2012
***

Gagal

5 menit
.
.
terlalu sempit untuk mencoba
menyusun kata bermakna cinta
terlalu sulit untuk bangkit
dari hati yang terlilit
.
bukan berkelit
.
.
. 4 menit

Rania, 2012
 ***

Terbuang

dan jatuhlah aku dipelukan malam
sunyi memang jika hati tak bertuan
kapal cintaku pernah ingin tenggelam
saat hatimu berkata enggan
kujadikan tambatan, rindu ini
bagaikan celoteh camar di lautan
selamanya terabaikan
bagai bengis dingin jalanan
dengan pisaunya yang menyayat
nadi yang waktu
menjerat tiap debu rindu
.
dan berthanlah aku dalam kesendirian
perlahan kudekap remang lampu jalan,
angin berbisik
panggil kawan

rania, 2012
***

Do'a

kah bukan engkau dewi yang kunanti
dalam sepi, tahajudku berlari
dan mencekik waktu yang menghantui
tasbihku merintih, perlahan
bisiknya hapuskan kesedihan
lama aku tertunduk sujud, menunggu
semoga lenyap semua amal yang tak patut
ah, demi engkau maha suciyang paling suci
jawablah jangan ingkari, kah pantas dewimu
kudampingi.
Kudengar senyumnya merekah
menungguku di segar jannah

Rania, 2012
***

Hasrat

Aku tak pandai berhikayat
padahal hati sering tersayat
bukanlah aku pelit nasihat
hanya saja lidah tak pandai
bersilat

Rania, 2012

***
Pupus

Terbentang dan meninggi, langitku enggan menanti. Awan gemawan tipis memang terlihat manis, kicauan burung-burung adalah suara yang mulai mengering. Tak lagi keeolakan itu hinggap di hati, sebab waktu telah menghunus semua nada. Dan sendirilah aku di bawah langit bernama sunyi, lalu aku menanti.

Rania, 2012
***

Untukmu

terang cahaya meremang bulan menyapa kalbu
kubuka jendela mencari ketenangan, sang bayu
dengan lembut menyapa nurani, kubalas sapa itu
hai dewi...
riang malam seakan mengirim pesan,
gumpalan kerinduan membiru
yang membenanam diantara dua kalbu
lalu kucoba bercerita pada sang waktu
ia memang setia iringi kisahmu
suka nestapamu kini jadi cerita
lara bahagia kadang berbicara
berikan sebuah hikmah nyata
lalu, beranjaklah aku coba rangkai rasa
hari ini rasa itu menjelma jadi frasa
dan kusimpan dalam sukma

28 Oktober 2012
***

Kenangan

i
Tersadar aku dalam lelah malam
bersandar
kutunggu pagi yang telah berjanji
jua mentari yang akan berseri
terjaga mataku den engganlah ia terpejam
entahlah mungkin dia punya alasan
ia berkata tiap pesan butuh balasan
bukankah itu pula yang kau harapkan
sobat, inilah goresan dari apa yang telah kau berikan

ii
tersenyum aku meraba tulisanmu
kubayangkan setetes embun bergelantungan
di kelopak matamu
menerjemahkan rasa menjadi frasa
lalu
kubaca frasa itu
tak terasa bibirku membusur
angin yang berlalu
menjelma suaramu
aih, entah apa yang sedang berlaku
kutak tahu

Rania-Setia, 2012
***

Senyum itu

Sebusur senyum itu
bukanlah milikku
pun aku slalu menunggu dalam ragu
pada hawa kutitipkan pesan
sebaris sajak kerinduan
untukmu tiada bukan
kembali engakau tersenyum
lalu hatiku meranum
seolah berkata mafhum

Rania, 2012
***

Mahayana

Kemudian kau hampiri malam
dengan mahyanamu
mengajakku berkelana melawan
batu
menyayat waktu yang berjalan
hendak membunuhmu, lalu
di atas mahayana itu berhentilah
semua waktu
hanya tinggal kau dan aku
dalam kisah biru

Rania, 2012
***

mencoba

masih gagal kurajutkan kaba
lariknya tak bernada
syairnya kesepian makna
kabaku kaba rindu
tercurah dari hati benalu
kucoba bangun irama bagai bahtera
lalu kutiupkan padanya al-hawa
semoga dihatimu ia berdermaga
kabaku kaba asmara
menerjemahkan frasa menjadi rasa
teguh kabaku bagai dlomir 'Na'

Rania, 2012
***

Kau puisiku

mari akan kusimpan wajahmu dalam bait-baitku. Kuharap kisah kita selalu dalam rimanya. Kaulah puisiku, sajak cinta dengan sejuta keindahan. Kaulah puisiku, syair asmara yang setia kujaga saat malam terbentang. Kaulah puisi itu, barisan frasa yang rajin kubaca, teman setia menanti datangnya mati.

Rania, 2012
***

Bahtera

Akan aku lukis sebilah layar dimatamu
supaya hengkang dendam temarammu
akan kulukis pula angin pada dermaga hatimu
agar perahu dendammu segera berlabuh
ingatlah di seberang sana telah menati sang subuh
aku prcaya setiamu masih di dermaga kelabu,
maka ijinkan aku menjemput dan penuhi janji itu.

Rania, 2012
***

mencari janji

Semalam suntuk aku bercinta dengan para bintang, menunggu subuhmu yang telah berjanji. Begitu gemulai angin malam itu, tiap lekuk geraknya bagai kesaksian dan hiburan kesedihan
semalam suntuk aku bercinta dengan bintang-buntang, kudekap mereka enggan kulepaskuan, tangan lembutnya mengikat hatiku, seakan tak rela untuk terlupa
semalam suntuk aku bersama bintang, menghiraukan rasa cemburu sang rembulan. Masih dalam selimut malam, erat kugenggam bintang yang mulai pudar bersama tetesan mendung. Lalu, kuajak ia beranjak, berlari mencari janji pagi.

Rania, 2012

***

When We Still Together. . .


Semua perlu titik pembatas, ada benci ada kasih, adanya duka tentunya karena tawa telah tercipta. Saat kita berjumpa dan bertemu tentunya kita harus sadar, bahwa suatu hari nanti kita akan berpisah, soal waktu itu bukan urusan kita.
Banyak kenangan-kenangan yang hari ini hanya sebatas menjadi lamunan disaat matahari hendak pulang ke peraduan. Kita pernah bersama dan semoga tak kaulupa.
Karena kau adalah sebuah kisah
Aku dan Nia pernah bersama, lewati teriknya asmara dan cerianya waktu. Sebuah hal istimewa bagiku adalah ketika pada akhirnya kita duduk di dalam kelas yang sama dan bangku yang cukup berdekatan. Pun hari itu tak ada lagi sapa mesra di antara kita namun kita tetap bersama, tersenyum dan bercerita seolah tak pernah terjadi sesuatu antara kamu dan aku. Hari itu masih ada senyummu, dan sedikit masih tersisa getaran rasa dalam lubuk hatiku. Ah, semua begitu manis, hingga kita benar-benar berpisah.





Persahabatan kita seperti ombak di laut

 
Saat di Kwan Sing Bio Tuban

Pantai Bulu dan Kota Tuban itu saksi kenangan. Mereka menjadi saksi langkah-langkah sombong di masa kita bersama. Dulu kita menganggap kitalah yang terhebat, candaan dan berbagai statmen telah terpatri dalam hati kiat, soal bersama itu menyenangkan. Kisah kita seperti ombak, terkadang surut dan lebih sering pasang, tentu pertengkaran adalah karangnya namun kita pernah membuktikan bahwa jiwa-jiwa kita sekokoh patung dan bangunan di Kwan Sing Bio.



Keluarga Baru
Kawan, seperti pohon yang terus tumbuh, begitupun aku. Dan disaat tumbuh itu, banyak hal-hal baru yang kutemukan, kupikir memang perpisahan adalah titik yang berarti karena dari sanalah kita akan menjadi lebih luas, jika dulu teman kita dan kenangan kita hanya sebatas jalan yang mampu kita tempuh, maka saat kita berpisah batas itu memang takkan hilang karena batas selalu ada hanya lebih luas dari sebelumnya.
Aku termangu, kalian sekarang dalam lamunan
Dan hari ini, aku bersama mereka, berjalan di atas lintasa bernama waktu. Kembali akan kuukir ribuan cerita selayaknya kita dulu. Bersama Andik, Jastro, Dewi, Pethel, Yulia, Agung dan semua. Mungkin ini terlambat, namun harus aku ucapkan terima kasih untuk kalian, Agatha, Anin, Krisna, Nia, Rina, Frans (balung), Slowrenk, semua. Terima kasih telah mendampingiku berjalan dan berlari menantang waktu.

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More