Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

Showing posts with label Linux Info. Show all posts
Showing posts with label Linux Info. Show all posts

18 Dec 2012

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??
Cara Bodohku Menyebarkan Pengaruh FOSS

Aku mengenal FOSS, saat aku baru duduk di kelas 7 SMP. Aku ingat betul, saat itu aku belum pernah melihat komputer, apalagi mengoprasikannya. Saat pelajaran TIK pertama, guruku memberikan aku dan teman sekelasku untuk membuat sebuah poster untuk menentang pembajakan. Beliau sempat berkata, “silahkan cari refrensi dari internet”. Nah kata terkhir dari kalimat itu sempat membuat ku bertanya, apa itu internet, dan siapa yang punya? Karena memang saat itu aku masih bisa dibilang gaptek, jadi aku meminta bantuan kakak kelasku yang memang sudah lama kenal untuk mengajariku membuka internet, awalnya aku ditertawakan, namun masa bodoh, namanya orang bodoh mana sadar ditertawakan.
Saat browsing aku banyak bertanya temanku yang kebetulan dia cukup pandai soal komputing. Beberapa pertanyaan yang masih ku ingat sampai saat ini adalah, “ siapa sih yang bikin internet? Google itu apa? Kok komputer tau apa yang mau kita cari? Trus, yang ngasih tahu apa yang ingin kita lihat di internet ke komputer siapa ya? Kok ada lambang mirip bendera (lambangnya windows maksudku dulu)?” dan masih banyak sebenernya, namun tak perlulah aku sebutkan (nanti terlihat terlalu bodoh donk). Beberapa pertanyaanku tadi dijawab olehnya dengan sabar, namun saat aku bertanya “apa itu pembajakan?” sepertinya dia berpikir sejenak dan memberikan jawaban dengan membukan sebuah situs tetang makna pembajakan. Setelah aku baca, pertanyaanku tadi berbuntut, “lah, kalau begitu programprogam yang aku pakai ini ilegal donk?” temanku tidak menjawab, lalu saat aku browsing entah mengapa aku ingat kata “linux dan UNIX”, nama itu terkesanlucu bagiku, dan mudah untuk aku ingat, akhirnya setelah satu jam belajar ngenet aku baru tahu apa itu linux, meskipun aku belum paham betul, namun aku mulai tertarik dengan gambar pinguinnya. Singkatnya akhirnya aku mengumpulkan tugas TIK-ku berupa kertas yang aku gambar dan dibawahnya aku tulis menggunakan spidol “Mengapa pilih membajak kalau ada Linux yang lucu nan hebat”, saat aku ditanya guruku, aku hanya menjawabnya dengan senyum, karena aku belum tahu betul, takut malu. he. .he. .he. .

Slax Pacar Pertamaku
Sejak saat itu aku jadi gemar berinternet, dan mencari gambar tentang linux, aku jadi sangat tertarik, kemudian aku baru tahu kalau ada linux yang bisa digunakan tanpa menginstall, lalu tanpa pikir panjang aku downloadlah linux slax, dan dengan jantung dag dig dug. . .aku mencobanya di komputer temanku, dan waw aku tidak pernah melihat program seperti ini. Sejak tahu soal itu, aku sering menunjukkan ke temanku, namun mereka acuh soal hal ini, dan ada yang bilang “repot amat, masak kalau mau pake harus nyari flashdisk dulu, enakan windows langsung nggak pake ribet”. Aku jadi berpikir, apa benar ya , perkataan temanku, tapi aku jadi berpikir terbalik, dalam hatiku “kamu yang goblok, dikasih pancing malah milih ikan seekor”.

Laptop Adupac Pacar Setia
Saat aku duduk di kelas 8, orang tua membelikanku sebuah laptop. Saat baru beli, aku mendapat license windows 7 yang katanya sih, itu artinya windowsku asli bukan bajakan. Paling nggak aku nggak mau jadi orang munafik, nah aku pikir laptop ini adalah kesempatan untukku belajar lebih banyak soal linux.
Aku mulai sering mendownload bermacam-macam distro yang ada di dunia maya, lalu aku bootingkan melalui usb, dan aku cukup kagum, tiap distro memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menginstall linux, kedalam hardisku bersandingan dengan windowsku.
Waduh, pertama install aku bingung banget karena cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan menginstall windows (aku sering membantu orang mengingstallkan windows), akhirnya setelah coba-coba (karena nggak ada lagi yang pakei linux), aku baru tahu kalau perlu sebuah partisi swap jika mau menginstall linux. Dan akhirnya distro mandriva, adalah distro pertama yang aku install.
Semenjak melakukan dual boot ini, aku jadi jarang masuk ke windows. Entah mengapa, mungkin karena aku terlalu penasaran tentang apa yang ada didalam linux. Dari mandriva ini, aku belajar cukup banyak, aku baru tahu kalau aku bisa menambahkan berbagai aplikasi dari dvd mandriva. (Itu adalah dvd dari sepupuku, ia memberikannya waktu tahu kalau aku tertarik soal linux). Meskipun aku sudah memiliki mandriva di sistemku, namun aku tetap masih penasaran terhadap distro-distro lain, aku mulai jadi kolektor distro. Dan hingga aku masih setia menggunakan linux mint sejak mint 8 di rilis.
Aku tak bosan, malah semakin aku mencoba semakin aku banyak tahu. Saat semester dua di kelas 8 mulai berkahir, akhirnya aku memberanikan diri untuk “berkhotbah” soal linux kepada teman-temanku.

Caraku Mengajak Orang Pakai Linux
  • Pamer desktop, yups. . .cara ini cukup ampuh karena desktop di linux mudah sekali di modifikasi, beberapa temanku mau mengunakan linux karena tapilannya yang sudah aku rombak.
  • Bikin cerita soal linux, he. .he. . .aku sering membuat dan menceritakan tentang kehandalan linux, meskipun cara ini bisa di bilang kurang efektif tapi tetep aku lakukan.
  • Remastering, ya. . .aku meremaster linux yang ada di laptopku dengan segala aplikasi di dalamnya termasuk tampilan, kemudian aku bagi ke temen, cari ini sangat mujarab, terlebih kalau desktopku cantik, namun lama-lama tekor juga kalo ngasih dvd terus, jadi bwt selanjutnya aku putuskan untuk memberikan hanya file isonya.
  • Bikin virus, hal ini untuk membuktikan bahwa windows sangat rentan terhadap linux, sehingga bisa jadi pemikiran ulang untunk memilih aplikasi
  • Sedikit garam bohong. Nah ini cara yang aku suka, biasanya banyak anak minta tolong ke aku untuk menginstal ulang windowsnya, nah namun aku tentu tidak langsung menginstall windows, melainkan menginstall linux yang tampilannya aku modif sehingga identik dengan windows, biasanya aku tambah wine agar tidak curiga kalau menjalankan aplikasi .exe. Nah kalau di tanya, kk windowsnya aneh? Aku jawab, “tenang, ini windows racikanku, dah aku modif supaya nggak kena virus, kalau sampai ada virus ngrusak sistemnya, laptopku taruhannya.” nah biar nggak curiga aku juga instalin Office 2007. Dan setelah seminggu aku tanya, “giman windows buatanku?” banyak dari mereka cocok dan bilang ringan banget, nah saat itulah aku kasih tahu kalau itu linux, dan alhamdulillah mereka mau pake terus. Jika ketahuan alias gagal, terpaksa aku dual boot sama windows, dengan catatan linux masih tertanam.
Nah itu dia caraku memperkenalkan linux ke orang lain, kau tahu ini ceritaku, apa ceritamu??

7 Jul 2011

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu??
Cara Bodohku Menyebarkan Pengaruh FOSS

Aku mengenal FOSS, saat aku baru duduk di kelas 7 SMP. Aku ingat betul, saat itu aku belum pernah melihat komputer, apalagi mengoprasikannya. Saat pelajaran TIK pertama, guruku memberikan aku dan teman sekelasku untuk membuat sebuah poster untuk menentang pembajakan. Beliau sempat berkata, “silahkan cari refrensi dari internet”. Nah kata terkhir dari kalimat itu sempat membuat ku bertanya, apa itu internet, dan siapa yang punya? Karena memang saat itu aku masih bisa dibilang gaptek, jadi aku meminta bantuan kakak kelasku yang memang sudah lama kenal untuk mengajariku membuka internet, awalnya aku ditertawakan, namun masa bodoh, namanya orang bodoh mana sadar ditertawakan.
Saat browsing aku banyak bertanya temanku yang kebetulan dia cukup pandai soal komputing. Beberapa pertanyaan yang masih ku ingat sampai saat ini adalah, “ siapa sih yang bikin internet? Google itu apa? Kok komputer tau apa yang mau kita cari? Trus, yang ngasih tahu apa yang ingin kita lihat di internet ke komputer siapa ya? Kok ada lambang mirip bendera (lambangnya windows maksudku dulu)?” dan masih banyak sebenernya, namun tak perlulah aku sebutkan (nanti terlihat terlalu bodoh donk). Beberapa pertanyaanku tadi dijawab olehnya dengan sabar, namun saat aku bertanya “apa itu pembajakan?” sepertinya dia berpikir sejenak dan memberikan jawaban dengan membukan sebuah situs tetang makna pembajakan. Setelah aku baca, pertanyaanku tadi berbuntut, “lah, kalau begitu programprogam yang aku pakai ini ilegal donk?” temanku tidak menjawab, lalu saat aku browsing entah mengapa aku ingat kata “linux dan UNIX”, nama itu terkesanlucu bagiku, dan mudah untuk aku ingat, akhirnya setelah satu jam belajar ngenet aku baru tahu apa itu linux, meskipun aku belum paham betul, namun aku mulai tertarik dengan gambar pinguinnya. Singkatnya akhirnya aku mengumpulkan tugas TIK-ku berupa kertas yang aku gambar dan dibawahnya aku tulis menggunakan spidol “Mengapa pilih membajak kalau ada Linux yang lucu nan hebat”, saat aku ditanya guruku, aku hanya menjawabnya dengan senyum, karena aku belum tahu betul, takut malu. he. .he. .he. .

Slax Pacar Pertamaku
Sejak saat itu aku jadi gemar berinternet, dan mencari gambar tentang linux, aku jadi sangat tertarik, kemudian aku baru tahu kalau ada linux yang bisa digunakan tanpa menginstall, lalu tanpa pikir panjang aku downloadlah linux slax, dan dengan jantung dag dig dug. . .aku mencobanya di komputer temanku, dan waw aku tidak pernah melihat program seperti ini. Sejak tahu soal itu, aku sering menunjukkan ke temanku, namun mereka acuh soal hal ini, dan ada yang bilang “repot amat, masak kalau mau pake harus nyari flashdisk dulu, enakan windows langsung nggak pake ribet”. Aku jadi berpikir, apa benar ya , perkataan temanku, tapi aku jadi berpikir terbalik, dalam hatiku “kamu yang goblok, dikasih pancing malah milih ikan seekor”.

Laptop Adupac Pacar Setia
Saat aku duduk di kelas 8, orang tua membelikanku sebuah laptop. Saat baru beli, aku mendapat license windows 7 yang katanya sih, itu artinya windowsku asli bukan bajakan. Paling nggak aku nggak mau jadi orang munafik, nah aku pikir laptop ini adalah kesempatan untukku belajar lebih banyak soal linux.
Aku mulai sering mendownload bermacam-macam distro yang ada di dunia maya, lalu aku bootingkan melalui usb, dan aku cukup kagum, tiap distro memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk menginstall linux, kedalam hardisku bersandingan dengan windowsku.
Waduh, pertama install aku bingung banget karena cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan menginstall windows (aku sering membantu orang mengingstallkan windows), akhirnya setelah coba-coba (karena nggak ada lagi yang pakei linux), aku baru tahu kalau perlu sebuah partisi swap jika mau menginstall linux. Dan akhirnya distro mandriva, adalah distro pertama yang aku install.
Semenjak melakukan dual boot ini, aku jadi jarang masuk ke windows. Entah mengapa, mungkin karena aku terlalu penasaran tentang apa yang ada didalam linux. Dari mandriva ini, aku belajar cukup banyak, aku baru tahu kalau aku bisa menambahkan berbagai aplikasi dari dvd mandriva. (Itu adalah dvd dari sepupuku, ia memberikannya waktu tahu kalau aku tertarik soal linux). Meskipun aku sudah memiliki mandriva di sistemku, namun aku tetap masih penasaran terhadap distro-distro lain, aku mulai jadi kolektor distro. Dan hingga aku masih setia menggunakan linux mint sejak mint 8 di rilis.
Aku tak bosan, malah semakin aku mencoba semakin aku banyak tahu. Saat semester dua di kelas 8 mulai berkahir, akhirnya aku memberanikan diri untuk “berkhotbah” soal linux kepada teman-temanku.

Caraku Mengajak Orang Pakai Linux
  • Pamer desktop, yups. . .cara ini cukup ampuh karena desktop di linux mudah sekali di modifikasi, beberapa temanku mau mengunakan linux karena tapilannya yang sudah aku rombak.
  • Bikin cerita soal linux, he. .he. . .aku sering membuat dan menceritakan tentang kehandalan linux, meskipun cara ini bisa di bilang kurang efektif tapi tetep aku lakukan.
  • Remastering, ya. . .aku meremaster linux yang ada di laptopku dengan segala aplikasi di dalamnya termasuk tampilan, kemudian aku bagi ke temen, cari ini sangat mujarab, terlebih kalau desktopku cantik, namun lama-lama tekor juga kalo ngasih dvd terus, jadi bwt selanjutnya aku putuskan untuk memberikan hanya file isonya.
  • Bikin virus, hal ini untuk membuktikan bahwa windows sangat rentan terhadap linux, sehingga bisa jadi pemikiran ulang untunk memilih aplikasi
  • Sedikit garam bohong. Nah ini cara yang aku suka, biasanya banyak anak minta tolong ke aku untuk menginstal ulang windowsnya, nah namun aku tentu tidak langsung menginstall windows, melainkan menginstall linux yang tampilannya aku modif sehingga identik dengan windows, biasanya aku tambah wine agar tidak curiga kalau menjalankan aplikasi .exe. Nah kalau di tanya, kk windowsnya aneh? Aku jawab, “tenang, ini windows racikanku, dah aku modif supaya nggak kena virus, kalau sampai ada virus ngrusak sistemnya, laptopku taruhannya.” nah biar nggak curiga aku juga instalin Office 2007. Dan setelah seminggu aku tanya, “giman windows buatanku?” banyak dari mereka cocok dan bilang ringan banget, nah saat itulah aku kasih tahu kalau itu linux, dan alhamdulillah mereka mau pake terus. Jika ketahuan alias gagal, terpaksa aku dual boot sama windows, dengan catatan linux masih tertanam.
Nah itu dia caraku memperkenalkan linux ke orang lain, kau tahu ini ceritaku, apa ceritamu??

Background Utama Linux Jatirogo. .

17 Jun 2011

Linux Is Not Windows


Linux Is Not Windows
Problema #1: Linux itu tidak terlalu sama dengan Windows
Anda akan terpukau seberapa banyak orang yanng mengajukan keluhan ini. Mereka berdatangan ke Linux, berharap menemukan Windows yang gratis dan open-source. Seringkali ini yang apa mereka dengarkan dari penggemar obsesif Linux. Namun, ini adalah harapan paradoksial.
Alasan-alasan spesifik kenapa orang mencoba Linux sangat beragam, namun alasan utama terurai menjadi satu hal: mereka berharap Linux lebih baik daripada Windows. Faktor-faktor yang biasa menjadi penanda sukses adalah biaya, pilihan, performansi dan keamanan. Sebenarnya banyak lagi, tapi tiap pengguna Windows yang mencoba Linux mencobanya karena mereka berharap Linux lebih baik daripada yang mereka punya sekarang.
Itulah problemanya.
Secara logika, sangatlah mustahil untuk sesuatu menjadi lebih baik dari sesuatu yang lain, namun tetap sepenuhnya mirip. Sebuah salinan mungkin saja sama, tapi tidak akan melampaui. Jadi, ketika Anda mencoba Linux dengan harapan bahwa ia akan lebih baik, Anda secara tidak langsung berharap Linux akan berbeda dengan Windows. Kebanyakan orang mengabaikan fakta ini, dan tetap teguh bahwa tiap perbedaan antara kedua OS tersebut merupakan kegagal dari segi Linux.
Sebagai contoh sederhana, ambil saja upgrade driver: seseorang biasanya mengupgrade sebuah driver perangkat keras pada Windows dengan mengunjungi situs perusahaan yang terkait dan mengunduh driver barunya; sedangkan pada Linux Anda perlu mengupgrade kernelnya.
Ini artinya bahwa satu unduhan dan upgrade dari Linux akan memberikan Anda driver terbaru yang ada untuk mesin Anda, sementara pada Windows, Anda perlu browsing banyak situs dan mengunduh semua upgrade-annya satu-per-satu. Walaupun proses yang sangat berbeda, namun bukan proses yang tidak bagus. Tapi banyak orang mengeluh karena mereka tidak terbiasa dengannya.
Atau, untuk suatu contoh yang mungkin Anda lebih kenal, kita ambil Firefox: salah satu kisah sukses bagi dunia open-source. Sebuah peramban web yang menyerbu dunia. Apakah ia sukses karena menjadi imitasi sempurna dari Internet Explorer, yang dulunya peramban paling terkenal?
Tidak. Ia sukses karena ia lebih bagus dibandingkan IE, dan ia lebih bagus karena ia berbeda. Ia mempunyai rambanan ber-tab, penandaan langsung, searchbar yang terintegrasi, dukungan untuk PNG, ekstensi adblocker, dan banyak hal lagi. Fungsi "Find" muncul pada toolbar disebelah bawah ketika Anda mulai mengetik dan mencari kesamaan selagi Anda menulis, dan berubah merah ketika tidak ada kesamaan. IE tidak mempunyai tab, tidak ada fungsionalitas RSS, searchbar hanya pada extensi pihak ketiga, dan sebuah dialog "Find" yang membutuhkan klik pada tombol "OK" untuk mulai mencari dan klik pada "OK" lagi untuk menghapus pesan error "Not found". Sebuah demonstrasi yang jelas dan kuat sebuah aplikasi open-source mencapai sukses dengan menjadi lebih baik, dan lebih baik dengan menjadi beda. Jika seandainya FF adalah sebuah klon IE, ia akan menghilang kedalam ketidak-jelasan. Dan jika Linux adalah sebuah klon Windows, hal yang sama akan terjadi.
Jadi solusi untuk problema #1: Ingat bahwa dimana Linux itu familiar dan sama dengan apa yang Anda terbiasa, berarti ia tidak baru dan lebih baik. Selamat datang ke tempat dimana semuanya itu berbeda, karena hanya disinilah ia dapat kesempatan untuk bersinar.
Problema #2: Linux terlalu beda dengan Windows
Isu berikutnya muncul ketika orang memang berharap Linux untuk beda, tapi menemukan bahwa beberapa perbedaan terlalu radikal untuk preferensi mereka. Mungkin contoh terbesar dari ini adalah luasnya pilihan yang tersedia untuk pengguna Linux. Dimana pengguna Windows punya dekstop Classic atau XP dengan Wordpad, Internet Explorer dan Outlook Express terpasang, Linux mempunyai ratusan distro untuk dipilih, lalu GNOME atau KDE atau Fluxbox atau apa, dengan vi atau emacs atau kate, Konqueror atau Opera atau Firefox atau Mozilla, dan seterusnya.
Seorang pengguna Windows tidak terbiasa dengan banyaknya pilihan. Pesan "Haruskah saking banyaknya pilihan?" sangat umum ditemukan.
Perlukah Linux berbeda sangat daripada Windows? Lagipula keduanya sistem operasi. Keduanya bekerja serupa:
nyalakan komputer Anda & memberikan Anda sesutau untuk menjalankan aplikasi. Seharusnya, 'kan kurang lebih sama?
Lihat dari segi ini: coba keluar dan lihat semua jenis kendaraan yang mengemudi di jalan. Semua kendaraan ini dibangun dengan tujuan yang kurang-lebih sama: agar mengantar Anda dari A ke B dengan menggunakan jalan. Catat semua variasi pada desainnya.
Tapi Anda mungkin berpikir perbedaan pada mobil agak minor: mereka punya setir, kontrol pedal kaki, persneling, rem tangan, jendela & pintu, tangki bensin... Jika Anda bisa mengemudi satu mobil, Anda bisa mengemudi mobil apa saja.
Betul juga. Tapi tidakkah Anda melihat bahwa beberapa orang tidak mengemudikan mobil, namun malahan sepeda-motor?
Berganti dari satu versi Windows ke versi lainnya bagaikan berganti dari satu mobil ke mobil lainnya. Win95 ke Win98, jujur saya tidak tahu bedanya. Win98 ke WinXP, perubahan besar, tapi tidak ada yang mayor.
Namun berganti dari Windows ke Linux bagaikan perpindahan dari mobil ke sepeda-motor. Keduanya mungkin SO/kendaraan jalan. Keduanya mungkin memakai perangkat keras/jalanan yang sama. Mereka mungkin menyediakan lingkungan untuk menjalankan aplikasi/mengantar Anda dari A ke B. Tapi keduanya menggunakan pendekatan berbeda untuk melakukan itu.
Windows/mobil tidak aman dari virus/pencurian kecuali Anda memasang antivirus/mengunci pintunya. Linux/sepeda motor tidak mempunyai virus/pintu, sehingga sangat aman tanpa Anda harusmemasang antivirus/mengunci pintunya.
Atau lihat dari segi sebaliknya:
Linux/mobil diciptakan untuk banyak pengguna/penumpangWindows/sepeda motor didesain untuk satu pengguna/penunggang. Tiap-tiap pengguna Windows/penunggang sepeda motor terbiasa dengan kendali penuh untuk komputer/kendaraan yang dimilikinya. Seorang pengguna Linux/penumpang mobil terbiasa dengan kendali komputer/kendaraannya bila login sebagai root/duduk dibangku pengemudi.
Dua pendekatan berbeda untuk memenuhi tujuan yang sama. Mereka berbeda pada cara-cara fundamental. Mereka mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sebuah mobil jelas pemenangnya untuk mentransportasi sebuah keluarga dan bawaan yang banyak dari A ke B; lebih banyak tempat duduk dan lebih banyak tempat penyimpanan. Sebuah sepeda motor jelas pemenangnya untuk membawa satu orang dari A ke B; tidak terlalu terpengaruhi oleh macet dan menggunakan lebih sedikit bahan bakar.
Banyak hal yang tidak berubah jika Anda beralih antara mobil dan motor; Anda tetap harus mengisi tangkinya dengan bahan bakar, Anda tetap harus mengemudikannya di jalan yang sama, Anda tetap harus mematuhi lampu lalu-lintas dan rambu-rambu, Anda tetap harus memberikan sinyal rehting sebelum berbelok, Anda tetap harus mematuhi batas kecepatan.
Namun ada juga hal yang berubah: pengemudi mobil tidak harus memakai helm, pengemudi sepeda motor tidak harus menggunakan sabuk pengaman; pengemudi mobil harus memutarkan setir untuk menikung pada tikungan, pengemudi sepeda motor hanya mesti memiringkan badan; pengemudi mobil berakselerasi dengan mendorong pedal kaki, pengemudi sepeda motor berakselerasi dengan memutar gas.
Seorang pengemudi sepeda motor yang mencoba membelokkan mobil dengan memiringkan badannya akan bertemu dengan banyak masalah sangat cepat. Dan pengguna Windows yang mencoba menggunakan keahlian dan kebiasaan mereka pada Linux akan juga menghadapi banyak masalah. Malahan, ahli Windows seringkali menumui lebih banyak masalah dibandingkan orang dengan pengalaman kecil dengan komputer, karena alasan ini juga. Biasanya, argumen bahwa "Linux tidak siap untuk penggunaan desktop" bersumber dari pengguna kesal Windows yang menegaskan jika mereka tidak bisa bermigrasi, seorang pengguna yang tidak berpengalaman tidak ada harapan. Tapi ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Jadi, untuk menghindar dari problema #2: jangan berasumsi bahwa menjadi pengguna berpengalaman Windows berarti menjadi pengguna berpengalaman Linux; jika Anda memulai menggunakan Linux, Anda tetap memulai sebagai amatir.
Problema #3: Menghadapi Budaya Baru
Sub-problema #3a: Memang ada budaya
Pengguna Windows kurang-lebih berhubungan pelanggan-suplayer: mereka bayar untuk perangkat lunak, untuk garansi, untuk bantuan, dan seterusnya. Mereka berharap perangkat lunak mereka memiliki tingkat kegunaan. Sehingga, mereka terbiasa dengan memiliki hak pada perangkat lunak mereka; mereka telah bayar untuk dukungan teknis dan mempunyai hak untuk menerimanya. Mereka juga terbiasa dengan berhadapan dengan entitas daripada dengan orang; hubungan mereka adalah dengan perusahaan, bukan dengan manusia.
Pengguna Linux adalah sebuah komunitas. Mereka tidak mesti membeli perangkat lunaknya, mereka tidak harus membayar untuk dukungan teknis. Mereka mengunduh perangkat lunak secara gratis dan menggunakan IM & forum web untuk mendapatkan bantuan. Mereka berurusan dengan manusia, bukan perusahaan.
Seorang pengguna Windows tidak akan menahan dirinya dengan membawa sikap kebiasaannya ke Linux, agar menerapkannya.
Sumber permasalahan terbesar seringkali dalam hal interaksi online: seorang pengguna "3a" yang baru pada Linux meminta bantuan dengan suatu masalah yang sedang dia alami. Ketika dia tidak mendapatkan bantuan itu yang dia anggap sedemikian cepat, dia mulai mengeluh, memaksa untuk bantuan lebih, karena dia terbiasa dengan apa yang dia lakukan dengan dukungan teknis berbayar. Masalahnya adalah bahwa Linux bukanlah dukungan teknis berbayar. Linux adalah sekumpulan relawan yang ikhlas untuk membantu orang dengan masalah-masalah mereka dari kebaikan hati masing-masing. Pengguna baru tidak mempunyai hak untuk memaksa apapun dari mereka, begitu juga seseorang pengumpul sumbangan tidak mempunyai hak untuk memaksa untuk sumbangan lebih dari kontributor.
Dalam hal yang serupa, seorang pengguna Windows terbiasa dengan menggunakan perangkat lunak komersil. Perusahaan tidak merilis perangkat lunak kecuali ia sudah dapat dipercaya, dapat berfungsi, dan cukup ramah untuk pengguna. Jadi ini apa yang seorang pengguna Windows seringkali mengharapkan dari perangkat lunak; perangkat lunak tersebut mulai dari versi 1.0. Perangkat lunak Linux, tapinya, seringkali dirilis hampir selalu setelah ia ditulis; ia mulai pada versi 0.1. Dengan ini, orang-orang yang sangat membutuhkan fungsionalitas mendapatkannya segera; pengembang perangkat lunak yang tertarik dapat bergabung dalam mengembangkan kodenya, dan komunitasnya secara keseluruhan tahu apa yang terjadi.
Jika seorang pengguna "3a" berhadapan dengan masalah dengan Linux, dia akan mengeluh. Perangkat lunak tersebut tidak sesuai dengan standar-standarnya, dan dia berpikir bahwa dia berhak untuk mendapatkan standar itu. Perasaan dia tidak akan membaik jika dia mendapatkan balasan sarkastik seperti "Seandainya aku itu kamu, 'ku bakalan minta ganti rugi"
Jadi untuk menghindar problema #3a: ingat Anda tidak ada membayar pengembang yang menulis kode perangkat lunak ataupun orang-orang yang memberikan dukungan teknis. Mereka tidak berutang apapun kepada Anda.
Subproblema #3b: Baru vs. Lama
Linux memulai kehidupan sebagai hobi seorang hacker. Ia tumbuh ketika ia menarik lebih banyak orang berhobi sebagai hacker. Memerlukan waktu agak lama sebelum seseorang selain kutu komputer mampu melakukan pemasangan Linux dengan enteng. Linux bermulai "dari ahli, untuk ahli". Bahkan sekarang, mayoritas pengguna Linux adalah kutu komputer sejati.
Dan itu adalah hal yang bagus. Ketika Anda mempunyai masalah dengan perangkat keras ataupun lunak, mempunyai populasi kutu komputer yang banyak untuk mencari solusinya adalah nilai plus.
Tapi Linux telah mendewasa sejak hari-hari pertamanya. Ada distro yang hampir semua orang dapat memasang, bahkan distro yang dapat mengindentifikasi semua perangkat keras Anda tanpa gangguan. Ia telah menarik perhatian dari orang awam biasa yang tertarik karena Linux bebas dari virus dan murah untuk diupgrade. Seringkali ada perseteruan dari dua regu ini. Penting untuk direnungkan bahwa tidak ada senjata ampuh dari kedua pihak manapun; hanyalah kekurang-pahaman saja yang menyebabkan masalah-masalahnya.
Pertama-tama, ada kutu komputer sejati yang tetap menganggap semua pengguna Linux adalah kutu komputer juga. Ini berarti tingkat pengetahuan yang tinggi, dan seringkali penyebab tuduhan kesombongan, stratifikasi dan kekasaran. Dan kadang-kadang sebenarnya itulah kenyataannya. Tapi seringkali tidak; yang elit-lah yang mengatakan "Semua orang seharusnya tahu ini", sedangkan yang non-elit-lah yang mengatakan "Semua orang tahu ini".
Kedua, ada pengguna baru yang mencoba beralih setelah bertahun-tahun bersama SO komersil. Pengguna baru ini terbiasa dengan perangkat lunak yang dapat digunakan oleh semua orang, tanpa pengetahuan dalam.
Masalah muncul karena grup 1 terdiri dari orang yang senang menghambur-hambur SO mereka dan merakitnya sesuka dia, sementara grup 2 seringkali tidak berpihak bagaimana sebuah SO berjalan, asalkan SO berjalan.
Sebuah situasi paralel yang dapat memperjelas masalah ini adalah Lego. Bayangkan yang berikut:
Baru: Aku mau mainan mobil yang baru, terus semua orang bilang gimana mainan mobil Lego itu asik. Jadi ku beli Lego. Tapi pas pulang, aku cuman dapet sekumpulan balok-balok kecil di kotaknya. Mana mobilku???
Lama: Kamu mesti rakit mobilnya dari balok-balok itu. Itu intinya Lego.
Baru: Apah??? Mana ku tahu cara bikin mobil. Aku bukan mekanik. Darimana aku bisa cari tau cara bikinnya???
Lama: Ada buku kecil didalam kotaknya. Situ ada perintah-perintah gimana menyusun balok-baloknya supaya jadi mobil-mobilan. Kamu gak perlu tau, cuman perlu baca perintahnya aja.
Baru: Udah ketemu bukunya nih. Bakalan berjam-jam ngerakitinnya! Kenapa gak jual sebagai mainan mobil aja, daripada maksa supaya merakitnya??
Lama: Soalnya gak semua orang pengen merakit Lego mobil. Bisa dirakit jadi apapun yang kamu mau. Itu inti semuanya.
Baru: Kenapa enggak dijual sebagai mobil aja? Jadi orang yang pengen mobil, dapat mobil; orang yang enggak bisa ngerakitin sendiri. Ni sudah ku rakit, tapi banyak balok-baloknya yang copot kadang-kadang. Gimana dong? Pakai lem, ya?
Lama: Namanya juga Lego. Memang mesti copot-copot. Itu intinya.
Baru: Tapi aku gak mau copot-copotan. Aku cuman mau mainan mobil!
Lama: Terus buat kamu beli Lego?!
Sangat jelas bagi semua orang bahwa Lego tidak ditujukan untuk orang-orang yang hanya mau mainan mobil. Anda tidak akan menemui percakapan seperti yang diatas pada kenyataannya. Inti dari Lego adalah Anda bersenang-senang merakitnya, dan dapat membangun apapun darinya. Jika Anda tidak tertarik dalam hal perakitan dan pembangunan, Lego bukan untuk Anda. Sudah sangat jelas.
Sejauh kesadaran penggunna lama Linux, hal yang sama juga terjadi untuk Linux; ia open-source, dengan sekumpulan perangkat lunak yang 100% dapat dimodifikasi. Itu intinya. Jika Anda tidak ingin meng-hack komponennya sedikit-sedikit, kenapa dipakai?
Tapi ada banyak usaha dewasa ini agar membuat Linux lebih bersahabat untuk para non-hacker, sebuah situasi yang tidak jauh beda dengan mainan Lego yang sudah dirakit, agar membuatnya lebih diinginkan oleh lebih banyak penonton. Sehingga Anda dapat menemui percakapan yang tidak jauh berbeda seperti yang datas; pendatang baru mengeluh keberadaan aplikasi yang dianggap pengguna berpengalaman fitur penintg, dan tidak ingin membaca sebuah buku panduan agar dapat menjalankan sesuatu. Tapi mengeluh karena banyaknya distro atau perangkat lunak mempunyai terlalu banyak opsi konfigurasi atau perangkat lunaknya tidak dapat bekerja dengan sempurna, bagaikan mengeluh bahwa Lego dapat dirakit menjadi terlalu banyak model, tidak menyukai bahwa dapat dihancurkan ke balok-balok dan dapat dibangun menjadi banyak hal lain.
Jadi, untuk mencegah subproblema #3b: ingat bahwa apa yang sepertinya Linux sekarang tidaklah apa yang Linux itu dulu. Mayoritas terbesar dan terpenting di komunitas Linux, para hacker dan pengembang perangkat lunak, menyukai Linux karena mereka dibolehkan untuk merakitnya semau mereka.
Problema #4: Didesain untuk Sang Desainer
Pada industri mobil, Anda akan sangat jarang untuk menemui seseorang yang sama-sama mendesain mesin dan interior mobil, karena hal tersebut memerlukan keterampilan jauh berbeda. Tidak ada orang yang ingin sebuah mesin yang hanya kelihatan laju, dan tidak ada orang yang ingin sebuah interior yang bekerja dengan sempurna, namun kelihatan jelek dan sempit. Dan, pada hal yang sama, pada industri perangkat lunak, antarmuka tidak dicipatakan oleh orang yang membuat perangkat lunaknya.
Di dunia Linux, tapinya, ini sering bukan kasusnya. Proyek sering memulai sebagai mainan satu orang. Dia melakukan semuanya dengan sendiri, sehingga antarmukanya tidak membutuhkan fitur sejenis "ramah untuk pengguna". Sang pengguna tahu semuanya yang perlu diketahui tentang perangkat lunaknya, dia tidak membutuhkan bantuan. Vi adalah sebuah contoh bagus dari sebuah perangkat lunak yang sengaja diciptakan untuk seorang pengguna yang tahu bagaimana cara menjalankannya; sangat sering terdengar cerita dimana seseorang harus mehidup-ulang komputer mereka karena mereka tidak tahu bagaimanna lagi keluar dari aplikasi vi.
Namun, ada perbedaan penting antara programmer FOSS (Free, Open-Source Software) dan kebanyakan perangkat lunak komersil: Perangkat lunak yang diciptakan oleh sang programmer FOSS adalah sebuah perangkat lunak yang dia ingin pakai. Jadi, sementara hasil akhirnya tidak se-"nyaman" untuk para pemula, mereka dapat tenang mengetahui bahwa perangkat lunak yang mereka gunakan didisain oleh seseorang yang tahu apa keperluan pengguna ujung; penciptanya juga pengguna ujung. Ini sangat berbeda dengan perangkat lunak yang didesain oleh penulis perangkat lunak komersil yang membangun perangkat lunak untuk dipakai orang lain; mereka bukanlah pengguna ujung yang pintar.
Jadi sementara vi mempunyai antarmuka yang sangat jelek untuk pengguna baru, ia masih digunakan sekarang karena ia memiliki antarmuka yang luarbiasa ketika Anda tahu bagaimana kerjanya. Firefox diciptakan oleh orang yang sering meramban Web. The GIMP dibangun oleh orang yang menggunakannya untuk memanipulasi berkas grafik. Dan seterusnya.
Jadi antarmuka Linux serignkali menjadi ladang ranjau untuk para pemula. Walaupun ketenarannya, vi seharusnya tidak dibolehkan untuk pengguna baru yang hanya ingin menggonta-ganti perubahan kecil pada sebuah file. Jika Anda menggunakan perangkat lunak yang masih muda di siklus kehidupannya, sebuah antarmuka yang cantik dan ramah adalah suatu hal yang akan Anda temui hanya pada daftar "ToDo"nya. Fungsionalitas adalah prioritas utama. Tidak ada yang mendesain antarmuka hebat lalu mencoba menambahkan fungsionalitas sedikit demi sedikit. Mereka menciptakan fungsionalitas, lalu memperbaiki antarmukanya sedikit demi sedikit.
Jadi, untuk menghindar isu-isu #4: Carilah perangkat lunak yang memang ditujukan untuk digunakan oleh pengguna baru, atau terimalah bahwa beberapa perangkat lunak mempunyai vektor penyesuaian yang lebih tajam daripada kebiasaan Anda. Mengeluh bahwa vi tidak cukup ramah untuk pengguna baru adalah bahan tertawaan karena luput dari topik.
Problema #5: Mitos "Ramah Pengguna"
Ini adalah istilah yang besar pada dunia komputerisasi. Bahkan telah menjadi nama sebuah komik berbasis web. Tapi ini istilah yang sesat.
Konsep dasarnya bagus: bahwa semua perangkat lunak didesain dengan keperluan pengguna yang tertuju. Namun konsep ini selalu diartikan sebagai konsep tunggal, padahal bukan.
Jika Anda sering memproses berkas teks, perangkat lunak ideal Anda akan cepat dan tangguh, membolehkan Anda melakukan jumlah pekerjaan yang sebanyak-banyaknya dengan usaha sesedikit-sedikitnya. Jalan-pintas keyboard dan operasi tanpa tetikus akan menjadi kepentingan.
Namun jika Anda sangat jarang mengedit berkas teks, dan Anda hanya ingin menulis surat kadang-kadang, hal yang terakhir yang Anda ingin mau adalah susah payah belajar seputar jalan pintas keyboard. Menu yang rapi dan icon jelas pada toolbar akan menjadi ideal Anda.
Jelas sekali bahwa perangkat lunak yang memenuhi kebutuhan pengguna pertama tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna kedua, begitu juga sebaliknya. Jadi, bagaimana sebuah perangkat lunak dapat dikatakan "ramah pengguna" jika kita semua punya kebutuhan berbeda?
Jawabannya: ramah pengguna adalah istilah yang tidak sesuai, dan suatu istilah yang membuat suatu situasi susah kelihatan sederhana.
Sebenarnya apa maksud dari "ramah pengguna"? Dalam konteks yang sering dipakai oleh istilah tersebut, perangkat "ramah pengguna" berarti "perangkat lunak yang dapat digunakan hingga kompetensi yang sesuai oleh seorang pengguna yang tidak mempunyai pengalaman pada perangkat lunak tersebut." Sayangnya, ini mempunyai efek menjadikan antarmuka yang payah-namun-familiar jatuh pada kategori "ramah pengguna".
Subproblema #5a: Familiar itu ramah
Pada kebanyakan penyunting teks dan pemroses kata yang "ramah pengguna", Anda meng-Cut dan Paste dengan Ctrl+X dan Ctrl+V. Sangat tidak intuitif, tapi semua orang terbiasa dengan kombinasi ini, jadi mereka anggap sebagai kombinasi yang "ramah".
Jadi ketika seseorang berhadapan dengan vi dan menemukan bahwa d itu untuk Cut dan p untuk Paste, dia menganggap itu tidak "ramah" karena semua orang tidak terbiasa dengan itu.
Apakah kunci tersebut lebih unggul? Sebenarnya, iya.
Dengan pendekatan Ctrl+X, bagaimana Anda meng-Cut sebuah kata dari dokumen yang sedang Anda buka? (Tanpa menggunakan tetikus!)
Dari awal katanya, Ctrl+Shift+Kanan untuk memblok katanya.
Lalu Ctrl+X untuk meng-Cut-nya.
Pendekatan vi? dw menghapus katanya
Bagaimana meng-Cut lima kata dengan pengaplikasian Ctrl+X?
Dari awal kata-katanya, 
Ctrl+Shift+Kanan
Ctrl+Shift+Kanan
Ctrl+Shift+Kanan
Ctrl+Shift+Kanan
Ctrl+Shift+Kanan
Ctrl+X
Dan dengan vi?
d5w
Pendekatan vi sangat lebih versatil dan sebenarnya lebih intuitif; "X" dan "V" bukanlah perintah "Cut" dan "Paste" yang jelas ataupun gampang diingat, sementara "dw" untuk menghapus sebuah kata dan "p" untuk meletakkannya kembali sangatlah mudah. Tapi "X" dan "V" sudah menjadi kebiasaan kita. Jadi, sementara vi sangat lebih unggul, ia tidak familiar. Oleh karena itu, ia dianggap tidak ramah pengguna. Secara universal, hanya familiaritas adalah yang membuat antarmuka yang mirip Windows kelihatan lebih ramah. Sebagaimana kita pelajari pada problema #1, Linux memang seharusnya berbeda dengan Windows. Karena itupun, Linux selalu kelihatan kurang "ramah pengguna" dibandingkan Windows.
Untuk menghindari masalah-masalah #5a, Anda dapat mengingatkan diri Anda bahwa "ramah pengguna" bukan berarti "Apa yang biasa buat saya". Cobalah melakukan tugas-tugas Anda biasa saja, dan jika tidak berhasil, cobalah berpikir sebagai pemula.
Subproblema #5b: Tidak efisien itu ramah
Ini adalah fakta yang menyedihkan, namun tidak dapat dihindari. Secara paradoksial, semakin sulit Anda membuat pengguna untuk mengakses suatu fungsionalitas aplikasi, maka aplikasi tersebut bisa malah menjadi lebih ramah.
Ini karena keramahan ditambahkan ke suatu antarmuka dengan menggunakan "petunjuk" sederhana – semakin banyak, semakin bagus. Lagipula, jika sesorang pemula komputer diletakkan didepan pemroses kata WYSIWYG dan ditanyakan untuk membuat sedikit teks menjadi tebal, yang menjadi kemungkinan lebih tinggi adalah:
> Dia akan menebak bahwa "Ctrl+B" adalah standar umum.
> Dia akan mencari petunjuk, dan mencoba meng-klik di menu "Edit". Tidak sukses, dia akan mencoba kemungkinan kedua pada barisan menu: "Format". Menu yang tampil ada opsi "Font", yang kelihatannya menjanjikan. Dan, eh, itu opsi Bold kita. Sukses!
Lain kali Anda melakukan pemrosesan, coba lakukan setiap kegiatan lewat menu; tidak ada kunci jalan-pintas, dan tidak ada ikon toolbar. Menu selalu, seterusnya. Anda akan sadar bahwa Anda akan bekerja lebih lamban, karena tiap kegiatan menuntut banyak ketikan/klik pada tetikus dan papan kunci
Membuat perangkat lunak "ramah pengguna" seperti ini bagaikan memasang roda latihan pada sepeda: ia membolehkan Anda berjalan secepatnya, tanpa memerlukan keterampilan ataupun pengalaman. Cocok untuk para pemula. Tapi tidak ada orang yang berpendapat bahwa semua sepeda dijual bersama dengan roda latihannya. Seandainya Anda membeli sepeda seperti itu sekarang, saya yakin hal pertama yang akan Anda lakukan adalah melepas roda-roda tersebut karena menjadi tambahan kurang penting. Sekali Anda bisa memakai sepeda, roda latihan tidak perlu lagi.
Dan dengan cara yang serupa, banyak perangkat lunak Linux didesain tanpa "roda latihan" – ia didesain untuk para pengguna yang sudah memiliki keterampilan dasar. Lagipula, tidak ada yang pemula permanen; ketidak-perhatian itu sebentar saja, dan pengetahuan itu selamanya. Jadi, perangkat lunak didesain dengan didasari hal yang diatas.
Ini mungkin kelihatan seperti sekedar alasan. Lagipula, MS Word mempunyai semua menu, dan tombol toolbar, dan kunci jalan-pintas... Terbaik pada semua bidang, 'kan? Ramah dan efisien.
Namun, ini mesti diperhatikan: pertama-tama, semua yang membuatnya praktis: mempunyai menu dan toolbar dan jalan-pintas dan semuanya akan berarti banyak sekali coding, dan kenyataannya tidak semua pengembang Linux dibayar untuk waktu mereka. Kedua, tidak sebegitu penting untuk para pengguna ahli; sedikit sekali programer menggunakan MS Word. Pernah bertemu dengan seorang koder yang menggunakan MS Word? Bandingkan dengan berapa koder yang menggunakan emacs dan vi.
Mengapa? Pertama-tama, karena beberapa aktifitas "ramah" mencoret aktifitas efisien. Lihat contoh "Cut & Copy" diatas. Dan kedua, karena kebanyakan fungsionalitas di sembunyikan di dalam menu yang Anda harus gunakan; hanya fungsioniltas yang paling sering digunakan mempunyai ikon toolbar di atas. Fungsi yang kurang digunakan yang masih penting untuk pengguna serius memakan terlalu banyak waktu untuk diakses. 
Sesuatu yang mesti diperhatikan, namunnya, adalah "roda latihan" seringakali berada sebagai "tambahan tidak wajib" untuk perangkat lunak Linux. Mereka mungkin tidak jelas, namun mereka seringkali ada.
Ambil mplayer. Ia dapat memutar berkas video dengan mengetik "mplayer [nama_file]" di dalam terminal. Anda dapat fastforward dan rewind dengan menggunakan tombol arah dan tombol PageUp dan PageDown. Ini tidah sepenuhnya "ramah pengguna". Namun, jika Anda mengetik "gmplayer [nama_file], Anda akan mendapatkan antarmuka grafis, dengan semua tombol-tombol cantiknya.
Kita ambil contoh lagi: meng-rip sebuah CD ke MP3 (atau Ogg). Menggunakan antarmuka perintah baris, Anda perlu menggunakan cdparanoia untuk mengambil berkas-berkas lagu ke harddisk lokal. Terus perlu juga sebuah encoder... ini repot, walaupun Anda tahu apa yang Anda lakukan. Jadi, unduh dan pasang sesuatu seperti Grip. Ini adalah antarmuka grafis dari cdparanoia dan encoder yang bekerja "dibalik terpal" yang mempermudah Anda mengambil berkas-berkas lagu dari CD, dan bahkan mendukung CDDB.
Hal yang sama juga untuk meng-rip DVD: jumlah opsi untuk dilewatkan agar dapat mentranskode agak suram. Tapi dengan menggunakan dvd::rip untuk berbicara agar dapat men-transcode untuk Anda membuat semuanya semakin sederhana, dengan proses berbasis antarmuka grafis yang dapat dilakukan oleh semua orang.
Jadi, untuk menghindari problema #5b: ingatlah bahwa "roda latihan" seringkali menjadi tambahan tidak wajib untuk Linux, daripada selalu berdampingan dengan produk utamanya. Dan kadangkala juga, "roda latihan" seringkali tidak bisa menjadi bagian dari desainnya.
Problema #6: Imitasi vs. Pengiringan Zaman
Sebuah argumen yang diomongkan oleh orang ketika mereka mengetahui bahwa Linux bukanlah si klon Windows yang mereka harapkan adalah untuk menegaskan bahwa Linux berusaha (atau seharusnya) untuk mengimitasi Windows, dan orang-orang tersebut yang tidak menyadari akan hal ini dan akhirnya membantu Linux untuk lebih mirip Windows sebenarnya bersalah.
Mereka memiliki banyak argumen pendukung untuk keyakinan mereka:
Linux memulai dari antarmuka perintah baris hingga grafis, sebuah usaha jelas untuk mengikuti Windows.
Teori yang bagus, namun salah: sistem penjedelaan X dirilis pada tahun 1984, sebagai lanjutkan sistem penjendelaan W yang ditulis-ulang untuk Unix pada tahun 1983. Windows 1.0 dirilis pada tahun 1985. Windows tidak terlalu heboh hingga versi 3, dirilis tahun 1990 – sementara jendela X telah ada selama bertahun-tahun pada tahap X11 yang kita gunakan sekarang. Linux juga dimulai pada tahun 1991. Jadi Linux tidak mencipatakan sebuah antarmuka grafis untuk mengikut-ikuti Windows; ia hanya menggunakan sebuah antarmuka grafis yang telah ada jauh lebih lama daripada Windows.
Windows 3 akhirnya menjadi Windows 95 – membuat perubahan ekstrim pada antarmuka grafisnya yang pernah Microsoft lakukan. Ia memiliki banyak fitur baru dan inovatif; fungsi drag-and-droptaskbar, dan seterusnya. Semuanya telah diikut-ikuti oleh Linux, tentunya.
Sebenarnya... tidak juga. Semua yang tadi telah disebutkan telah diciptakan sebelum Microsoft menggunakannya. Antarmuka NeXTSTeP adalah sebuah antarmuka grafis yang SANGAT canggih (pada zaman itu), dan ia dilahirkan jauh sebelum Win95 – versi 1 dirilis tahun 1989 dan versi final pada 1995.
Ya udah, ya udah, jadi Microsoft tidak mengkonsepsi semua fiturnya satu per satu yang kita kenal sebagai tampilan Windows. Tapi ia teteap mengkonsepsi sebuah tampilan, dan Linux berusaha mengikuti tampilan itu sejak dulu.
Untuk menyalahkan argumen ini, seseorang harus membahas konsep dari evolusi adaptasi. Ini adalah dimana dua sistem beberbeda berevolusi hingga menjadi sangat mirip. Hal ini sangat sering terjadi pada ilmu biologi. Misalnya hiu dan lumba-lumba. Keduanya adalah organisme pemakan ikan dengan ukuran yang kurang-lebih sama. Keduanya punya sirip punggung, sirip tangan, sirip ekor dan bentuk tubuh yang hidrodinamis.
Tapinya hiu berevolusi dari ikan, sementara lumba-lumba berevolusi dari sejenis mamalia darat berkaki empat. Alasan mengapa keduanya memiliki rupa yang rata-rata sama adalah keduanya berevolusi agar menjadi se-efisien mungkin dengan kehidupan di lingkungan lautan. Tidak pernah si nenek moyang lumba-lumba (si pendatang baru) melihat hiu dan berpikir "Wah, liatin 'tu sirip! Kayaknya asik banget. Ku coba bikin, ah!"
Dengan pemikiran yang serupa, sangatlah benar melihat desktop Linux dulu dan melihat FVWM dan TWM dan banyak antarmuka yang maha-sederhana. Lalu melihat desktop Linux modern dan melihat GNOME dan KDE dengan taskbar dan menu dan permen mata lainnya. Dan, iya, mereka memang lebih mirip Windows daripada dulunya.
Tapi, Windows juga begitu. Windows 3.0 tidak memiliki taskbar, seingat saya. Dan menu Start? Apaan?
Linux tidak memiliki desktop semodern Windows. Microsoft juga tidak. Sekarang keduanya punya. Apa yang dapat kita pelajari dari ini?
Ini menginformasikan kita bahwa pengembang perangkat lunak pada kedua regu mencari cara untuk memperbaiki antarmuka grafisnya, dan karena hanya beberapa solusi untuk masalahya, mereka sering menggunakan metode yang sangat mirip. Kemiripan tidak sama sekali membuktikan atau menegaskan imitasi. Mengingat itu akan mencegah Anda sesat pada daerah problema #6.
Problema #7: FOSS...
Yah, ini membuat masalah. Tidak secara intrinsik; perangkat lunak yang gratis dan opensource adalah bagian yang bagus dan sangat penting untuk FOSS. Tapi memahami bagaimana FOSS berbeda dengan perangkat lunak ber-hak-milik adalah suatu perubahan yang terlalu besar untuk beberapa orang.
Saya sudah mengutip beberapa contoh untuk ini: orang-orang berpikiran bahwa mereka bisa memaksa dukungan teknis dan lainnya. Tapi sebenarnya, ini lebih dari sekedar itu.
Pernyataan Misi Microsoft adalah "Sebuah Komputer pada tiap Meja" – dengan petunjuk kecil bahwa tiap komputer harus berisi WIndows. Microsoft dan Apple sama-sama menjual sistem operasi, dan keduanya melakukan segala usahanya untuk memastikan bahwa produk mereka digunakan oleh paling banyak pengguna; mereka bisnis, diluar sana mencari uag.
Lalu, ada FOSS. Yang, bahkan hari ini, hampir keseluruhan bersifat non-komersil.
Sebelum Anda menulis email untuk memberitahu saya tentang Red Hat, Suse, Linspire dan segalanya, iya, saya tahu mereka "menjual" Linux. Saya tahu mereka suka jika Linux diaplikasikan secara universal, apalagi dengan perisa mereka sendiri. Tapi jangan dibingungkan antara para suplayer dan pabrik pembuat. Kernel Linux tidak diciptakan oleh sebuah perusahaan, dan tidak dirawat oleh sekumpulan pekerja yang melakukannya untuk mencari keuntungan. Alat-alat GNU tidak diciptakan oleh sebuah perusahaan, dan tidak dirawat oleh sekumpulan pekerja yang melakukannya untuk mencari keuntungan. Sistem penjendelaan X11... yah, implementasi paling terkenal sekarang adalah xorg, dan bargian "org" seharusnya memberitahu semuanya yang perlu diketahui. Perangkat lunak desktop, mungkin Anda bisa menuntut bahwa KDE itu komersil, karena berbasis Qt. Tapi GNOME, Fluxbox, Enlightenment, dll. semuanya tidak bermodal uang. Memang ada orang diluar sana yang menjual Linux, tapi mereka adalah sang minoritas.
Jumlah pengguna perangkat lunak ber-hak-milik mengarahkan keuntungan finansial kepada sang perusahaan yang membuatnya, secara langsung. Ini bukanlah kasus untuk FOSS; tidak ada keuntungan langsung kepada pengembang FOSS manapun jika jumlah pengguna bertambah. Keuntungan tidak langsung, iya: kebanggaan tersendiri; potensi menemukan bug yang lebih besar; bertambahnya kemungkinan menarik perhatian lebih banyak pengembang perangkat lunak; bahkan kemungkinan penawaran pekerjaan yang lumayan; dan seterusnya.
Tapi Linus Torvalds tidak mendapat bayaran dari meningkatnya pengguna Linux. Richard Stallman tidak mendapat bayaran dari menginkatnya penggunna GNU. Semua server yang berjalan diatas OpenBSD dan OpenSSH tidak membayar apapun ke tabungan Proyek OpenBSD. Dan kita akhirnya ke problema paling besar menyangkut pengguna baru dan Linux:
Mereka mengetahui bahwa mereka tidak diinginkan.
Pengguna baru berpindah ke Linux setelah bertahun-tahun bersama SO dimana kebutuhan pengguna adalah suatu kepetingan, dan "ramah pengguna" dan "fokus pelanggan" adalah sasaran tepat. Dan tiba-tiba mereka menemukan diri mereka menggunakan sebuah SO yang masih bergantung pada berkas "man", perintah baris, berkas configurasi yang ditulis tangan dan Google. Dan ketika mereka mengeluh, mereka tidak dimanjakan atau ditunjukkan sesuatu yang lebih baik, mereka malah disuruh pergi saja.
Itu melebih-lebihkan, tentunya. Tapi itu memang apa yang dirasakan oleh muallaf Linux ketika mereka mencoba dan gagal ketika pindah aliran.
FOSS mempunyai banyak kesejajaran dengan Internet: Anda tidak membayar sang penulis laman web/perangkat lunak untuk mengunduh dan membaca/memasangnyaBroadband pribadi/antarmuka ramah pengguna tidak menarik kepada seseorang yang sudah punya broadband/tahu cara menggunakan perangkat lunak tersebut. Para blogger/pengembang tidak membutuhkan banyakpembaca/pengguna untuk memperjelas blogging/koding. Banyak orang yang memang dapat uang dari itu, tapi bukan karena falfasah tua "aku si pemiliknya, dan engkau harus bayar aku kalau mau memakainya" yang sering digunakan perusahaan; malahan karena menyediakan layanan e-commerce/dukungan teknis.
Linux tidak tertarik pada kekuasaan pasar. Linux tidak mempunyai pelanggan. Linux tidak mempunyai pemegang saham, atau bahkan sebuah tanggung jawab. Linux tidak diciptakan untuk menghasilkan uang. Linux tidak memiliki misi untuk menjadi SO yang paling terkenal dan terkemuka di Bumi.
Komunitas Linux hanya ingin membuat sebuah SO yang sangat bagus, sangat lengkap dan sangat bebas. Jika itu mengakibatkan Linux menjadi SO yang sangat populer, itu bagus. Jika itu mengakibatkan Linux memiliki antarmuka paling ramah dan intuitif, itu bagus. Jika itu mengakibatkan Linux menjadi dasar dari sebuah industri mega, itu bagus.
Bagus, tapi bukan intinya. Intinya adalah agar membuat Linux SO terbaik yang mampu diciptakan oleh sang komunitas. Bukang untuk orang lain; untuk dirinya. Ancaman biasa seperti "Linux tidak akan pernah menguasai desktop kecuali ia melakukan ini, itu" tidaklah relevan. Komunitas Linux tidak berusaha menguasai desktop. Mereka tidak terlalu peduli jika Linux cukup bagus sehingga dapat mendarat di desktop Anda, selama ia cukup bagus untuk desktop orang lain. Para pembenci MS, fanatik Linux obsesif dan penolak FOSS berpenghasilan mungkin nyaring, namun mereka tetap minoritas.
Itulah apa yang komunitas Linux inginkan: sebuah SO yang dapat dipasang oleh siapa saja yang menginginkannya. Jadi, jika Anda berkonsiderasi beralih ke Linux, pertama-tama tanyakan diri Anda apa yang Anda hendaki.
Jika Anda menginginkan sebuah SO yang tidak merepotkan Anda, tapi memberikan Anda kuncinya, meletakkan Anda di kursi pengemudi dan mengharapkan Anda tau yang mesti dilakukan, pakailah Linux. Anda mungkin perlu waktu untuk belajar menggunakannya, tapi setelah Anda tahu seluk-beluk, lekuk-likuknya, Anda akan memiliki sebuah SO yang akan berdiri dan menari untuk Anda.
Ini bukan masalah, "mengapa saya ingin Linux?", tapi lebih ke "mengapa Linux ingin saya?".
Pascakata: artikel diatas diambil dari Dominic Humphries dan copyright 24 Juni 2006. Beberapa bagian telah diubah, disunting dan dihapus untuk kesesuaian bahasa, daerah dan pengiringan perkembangan Linux. Sumber: linux.oneandoneis2.org.
Boleh didistribusikan sesuai syarat dan ketentuan linsensi CC.

16 Jun 2011

Linux Jatirogo


Linux Jatirogo (Linux Mint Remix)
Jatirogo Must Go Open Source

Lama tidak posting, mungkin karena sibuk belajar remastering linux. Beberapa kali memang aku mengalami kegagalan dalam proses remastering ini, namun karena semangat untuk belajar modif FOSS (Free Open Source Software) khususnya linux, hari ini berhasil juga.
Minggu-minggu ini aku habiskan untuk belajar meremaster distro linux turunan ubuntu yakni linux mint 10 Julia. Tujuanku tidak lain adalah keinginanku untuk memperkenalkan linux dengan tampilan yang lebih fresh dibanting eh maksudnya dibanding OS closed source semisal windows kepada teman-temanku yang masih menggunkan software bajakan, khususnya di daerah Jatirogo, Tuban selain itu aku juga ingin memberikan kenang-kenangan kepada guru Itku yang dulu pernah memberiku tugas membuat poster anti pembajakan, sehingga sejak saat itu aku mulai tahu tentang dunia Open Source. Memang bagi para master linux remasteran ini tidaklah cukup menarik bahkan boleh dikatakan hanya sekedar ganti baju (memang pada dasarnya iya), namun menurutku ini cukup untuk membuat beberapa mikocok user tertarik dan berpaling. Hal tersebut terbukti, setelah Linux Jatirogo ini berhasil dibuat, banyak dari temanku yang sudah tertarik untuk mencoba, bahkan ada yang mau langsung install tanpa dual boot. (Kebanyakan dari mereka suka dengan wajahnya, tapi tak masalah yang penting mau belajar)
Mimipiku tak berakhir hanya meremaster distro yang ada, aku masih punya mimpi untuk membuat gerakan bernama JoTOS (Jatirogo Tuban go Open Source) mungkin gerakan ini suatu hari nanti akan dapat membantu memperlancar gerakan IGOS. Aku yakin itu bukan cuma mimpi, suatu hari nanti aku akan mewujudkannya dengan distro yang kental dengan Jatirogo.




Sedikit review untuk Linux Jatirogo, linux ini seperti yang aku katakan tadi masih kental dengan Linux Mint 10, selain aku masih dalam tahap belajar aku juga berharap ada temanku yang mau ikut belajar memperbaiki ini. Beberapa fitur yang aku tambahkan pada “Mint 10 Remix” ini antara lain :  
  1. apt-fast, apt-fast ini menggantikan tugas apt-get sehingga dalam proses instalasi/update yang dilakukan melalui repo/ppa bisa berlangsung lebih cepat dibanding menggunakan apt-get karena dibantu dengan axel.
  2. Wine, aplikasi ini tentunya sudah banyak dikenal oleh para user linux, namun bagi “mikocok user”? Aplikasi ini bertujuan untuk membantu para new linux user user untuk beradaptasi di lingkungan linux. Aplikasi ini berfungsi sebagai emulator program yang berjalan di lingkungan windows.  
  3. LibreoOffice, aplikasi ini pengganti OpenOffice yang sebelumnya memang sudah ada pada Linux Mint 10, dan sebagai pengganti Microsoft Office pada windows.
  4. Tampilan yang menurutku sedikit lebih fresh, dilengkapi dengan screenlets, Cairo-dock, AWN, conky, Tint2, dan efek compiz yang memang sudah ada pada Linux Mint dan semua distro linux, dengan tujuan untuk memudahkan para new user beradaptasi.   
      Tidak ada yang sulit, selama kamu mengikuti jalannya waktu. Aku yakin tidak akan menyesal jika kalian bermigrasi ke FOSS, selain didukung dengan komunitas yang selalu siap membantu, juga akan memacu kreatifitas. Namun aku sangat berharap tidak ada orang Jatirogo yang tidak mengenal FOSS, apa lagi Linux.
    Link download Linux Jatirogo Sudah tersedia, silahkan download file berikut yang didalamnya terdapat link dan beberapa penjelasan mengenai file Linux Jatirogo download . Disini aku sebagai anak Jatirogo hanya menganjurkan, untuk lebih jelasnya silahkan coba beralih ke FOSS. Saran akan saya nanti di facebook saya. 
    Nb : Mirror Linux Jatirogo Sudah Tersedia
    http://baliexoticcoffee.com/li​nux_jatirogo/ 
    http://ftp.itb.ac.id/pub/ISO-I​MAGES/linux/
     

    25 May 2011

    Kenal Lebih Dekat Dengan GarudaONE

    20 mei 2011 kemarin GarudaONE sudah menambah ragam distro linux Indonesia, distro yang dikenal cukup gendut ini ternyata memiliki banyak peminat. 
    Berikut saya sediakan link untuk panduan instalasi dan untuk sedikit review. . .

    Kenalan Sama Si garuda (Panduan instalasi dan sedikit review) 

    23 May 2011

    GARUDA bagi-bagi DVD + Stiker untuk 60 orang

    Hari ini GARUDA akan membagikan DVD GARUDA + 3 Stiker GARUDA kepada 60 orang yang beruntung. Jika nama Anda termasuk dalam daftar penerima DVD dibawah ini, silakan segera mengkonfirmasikan ke email office@garudaone.com dengan :
    Subject : Konfirmasi Penerima DVD GARUDA
    Isi / Body :
    * Nama :
    * Alamat :
    * Kota :
    * Provinsi :
    * Kode Pos :
    * E-mail :
    * Telepon :
    * Handphone :
    Ini dia daftar 60 penerima DVD GARUDA :
    Adi Doank
    Aditya Nur Azzani
    Agung La Rocka
    Ahmad Miftahul
    Alif Lagi Bimbang
    Ana Muslimah
    Andi Arlon Kingpatik
    Andono Aja
    Arief Fauzi-ssrz
    Arip Rahman Hakim
    Arum Saputra
    Aryo Hetfield
    Bayu Uyab
    Bowo Wratsongko
    Denmas Sugepenx-Papamia
    Devi Kunyai
    Dicky ‘Roy’ Rukmana
    Dwi Endrasto
    Edie S Makmoer
    Enrico Tunggul Dewangga
    Faiz De’viruzz Genious
    Febriyanto Kav
    Ferry Constantine Tadeus
    Ferry Potter
    Ghie Si Newbie
    Hadi Yanto
    Hari Restumu
    Hasrul Mamuju
    Hendro Asroni
    Imam Sudjono
    Initial X LPstreet’team
    J’crabz Caiiaank C’moet
    Jamal Ludin
    Lilik Prabowo
    Luky King
    Manz Cavalera
    Mario Vr P
    Mas Andri
    Mas Rama Dw
    Mazbar Merantau
    Muhammad Idham
    Muhammad Zaky HoobaManiac
    N-Ouvan LoPpe Vhanizs
    Nugroho Widodo
    Pangeran Situbondo
    Putu Shinoda
    Rahmanur Hakim Faisal
    Rianz Kiyosato
    Rido Mustakim
    Ridwan Dinata
    Sajakrerindu Gembel Klaten
    Stevian Edduardo
    Tirta Suryana
    Tries Noe
    Untung Slamet
    Voma Tok
    Widji Santoso
    Yohanes Budi Santoso
    YuDha PutRa
    Zaenal Ana Muhammad

    Info dari GarudaONE.com

    22 May 2011

    Link Download GarudaONE OS

    Link download GarudaONE OS sudah teredia, silahkan download melalui link download di bawah ini, jika di minta pasword ilahkan isi "WWW.FORSAL3.COM" tanpa tanda petik.

    Link :
    Part 1   http://adf.ly/1ZTbZ
    Part 2   http://adf.ly/1ZTe7
    Part 3   http://adf.ly/1ZTc9
    Part 4   http://adf.ly/1ZTey
    Part 5   http://adf.ly/1ZTfW
    Part 6   http://adf.ly/1ZTgY  
    Part 7   http://adf.ly/1ZTgq
    Part 8   http://adf.ly/1ZThV  
    Part 9   http://adf.ly/1ZThv  
    Part 10 http://adf.ly/1ZTjD
    Part 11 http://adf.ly/1ZTjj
    Part 12 http://adf.ly/1ZTkS  
    Part 13 http://adf.ly/1ZTkw  
    Part 14 http://adf.ly/1ZTlX  
    Part 15 http://adf.ly/1ZTlh  
    Part 16 http://adf.ly/1ZTmU  
    Part 17 http://adf.ly/1ZTnU  
    Part 18 http://adf.ly/1ZTxT  
    Part 19 http://adf.ly/1ZU4G 

    GO LEGAL, GO LOCAL, GO LIBERTY...

    30 Apr 2011

    JANGAN PAKAI LINUX!!! MENGAPA??

    Baca Dan Kamu Akan Tahu

    Ya! Buat kamu yang belum pernah mencoba menggunakan sistem operasi yang identik dengan logo pinguin ini, ada baiknya untuk tidak mencoba memakainya! Loh? Kenapa? Berikut beberapa alasan untuk tidak menggunakan Linux.

    1.      Linux itu susah!
    Iya itu faktanya. Linux itu susah! Bener-bener susah! Sekali kamu coba memakainya maka akan sulit bagi kamu untuk tidak mengulangi untuk memakainya lagi. Linux bagai candu yang akan membuat pemakainya betah berlama-lama berinteraksi dengannya, dan seringkali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang unik dan menarik.
    2.      Linux itu mainan para hacker!
    Buat yang merasa dirinya bukan hacker, sangat disarankan untuk tidak memakai Linux. Mengapa? Iya, karena Linux akan membuat kamu mandiri.
    Hmmm… mandiri? Contohnya?
    Di Linux, kamu akan menemukan banyak hal baru dan menarik. Kamu akan terus mencoba dan mencoba. Sedikit demi sedikit ‘hack‘ pada sistem operasi ini akan kamu lakukan.
    Hack? Iya, hack! Terdengar keren dan begitu geek, bukan? Semua itu legal untuk dilakukan di Linux, karena source codenya dengan mudah dapat kamu peroleh, kamu modifikasi, ubah sana, ubah sini, dan menyebarkannya ulang dengan bebas pula, selama tidak keluar dari ruang lingkup General Public License.
    3.      Linux itu merugikan!
    Pihak-pihak yang mendukung konsep proprietary software tentulah akan merasa dirugikan. Mengapa? Karena bila semakin banyak pengguna Linux (dan open source) tentu lahan bisnis mereka akan semakin tergerus terus dan terus.
    Tapi, tidak hanya kerugian dari segi finansial saja yang akan mereka dapat. Melainkan juga ada banyak keuntungan yang akan mereka peroleh, meskipun tidak mereka rasakan secara langsung. Contohnya? Karena software open source tersedia source codenya dengan bebas, maka pengembang software proprietary pun dapat ‘mengintip’ dan ‘mencomot’ beberapa bagian software yang mereka anggap menarik untuk kemudian diintegrasikan ke dalam software komersial mereka.
    Duh, contohnya masih kurang nih! Oke… oke… Kita ambil contoh Sun Microsystems dengan software office suite mereka yang ternama, OpenOffice dan StarOffice. Hmmm… ada apa dengan OpenOffice dan StarOffice? Sungguh menarik melihat fenomena yang terjadi di sini. OpenOffice dibangun berdasarkan source code StarOffice, lisensi yang disematkan ke OpenOffice ini bersifat open source yang dikembangkan secara gotong royong dengan komunitas yang tersebar di seantero benua di muka bumi ini. Dari hasil pengembangan OpenOffice, Sun Microsystems kemudian mengambil beberapa bagian kodenya untuk kemudian diintegrasikan ke StarOffice dengan ditambahkan beberapa ‘hasil keringat’ ‘orang dalam’ Sun Microsystems. Lisensi StarOffice sendiri bersifat proprietary. Sebuah hubungan timbal balik yang unik dan saling menguntungkan, bukan?
    4.      Linux itu jelek dan tidak menarik
    Pernyataan itu tidak salah, namun tidak juga benar. Bila kita melihat Linux secara parsial, yakni hanya kernel/intinya saja tentu pernyataan itu dapat dibenarkan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh ’seonggok’ kernel? Dan meskipun kernel itu bisa dipakai, apa sih yang menarik dari tampilan command line based dengan background hitam dan teks putih saja?
    Namun bila kita melihat Linux secara keseluruhan sebagai satu kesatuan sistem operasi yang komplit, dengan desktop environment dan lingkungan kerja berbasis GUI (Graphical User Interface) yang indah, kemungkinan kamu akan membantah pernyataan itu. Kasih contoh dong! Oke, mari kita tilik sejenak desktop GNOME atau KDE (atau yang lainnya) dengan Compiz enabled dan setting animasi desktop yang maksimal, saya yakin kamu akan takjub melihat keindahannya. Tidak percaya? Silakan berkunjung ke YouTube dan masukkan kata kunci pencarian “compiz desktop”, tonton salah satu video demonstrasinya.
    5.      Linux itu membingungkan
    Amat sangat membingungkan! Itulah perasaan yang akan kamu temui saat pertama kali menatap ‘wajah’ Tux si pinguin ini. Bingung mau memakai distribusi Linux apa, bingung mau pakai software yang mana, bingung untuk menginstal aplikasi apa diantara sekian banyak aplikasi, bingung untuk memilih desktop environment (GNOME, KDE, Xfce, dsb), dan banyak kebingungan-kebingungan lain yang mungkin akan kamu jumpai.
    Semua itu wajar. Di dunia Linux dan open source, freedom is the will. Saking beragamnya kebebasan yang ditawarkan, maka tidaklah mengherankan bila perkembangan Linux dan software open source pada umumnya dapat dibilang pesat.
    Belum lagi ditambah dengan kebingungan mau bertanya kepada siapa bila nantinya kamu menemui kendala yang serius dikarenakan saking banyaknya LUG (Linux User Group) baik yang bertaraf lokal maupun internasional yang siap membantu menyelesaikan masalah yang kamu temui.
    6.      Linux itu mahal
    Benar sekali! Linux itu mahal! Karena kamu ‘kemungkinan’ akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Iya! Semahal satu dua keping CD/DVD blank untuk ‘membakar’ salinan/ISOnya.
    Juga untuk membayar koneksi internet (bila ada) atau CD/DVD repository (paket software dalam CD/DVD). Kita ambil contoh DVD repository Ubuntu yang dijual di berbagai toko online, harganya berkisar antara 50.000 s.d 100.000 rupiah! Dudududu… mahal sekali…
    Setuju! Mahal sekali biaya yang harus dikeluarkan demi mendapatkan tambahan paket software free dan open source berkualitas yang super lengkap dan super banyak! Coba bandingkan dengan harga satu lisensi sistem operasi proprietary yang harganya berkisar diatas US$ 100 atau harga lisensi untuk satu software proprietary yang harganya bervariasi mulai dari US$ 19.99 hingga ratusan dollar! Ah, jauh sekali perbedaannya. Linux memang mahal.
    Ubuntu, melalui program shipitnya menawarkan pengiriman CD Ubuntu gratis ke seluruh penjuru dunia. Namun tidak sepenuhnya gratis! Melainkan mesti membayar ’semacam pajak yang entah terang atau gelap’ ke Kantor Pos, yang biayanya berkisar antara 5000 s.d 7000 rupiah. Mahalnya…
    7.      Linux itu membodohkan
    Maksudnya?
    Begini, betapa ‘bodoh’nya ‘orang-orang itu’, sudah capek-capek membuat program eh… kok malah diberikan begitu saja kepada orang lain, berikut source codenya pula! Tanpa meminta imbalan apa-apa! Logis nggak sih?
    Melalui tindakan yang ‘bodoh’ itu, para programmer dan mereka yang berkecimpung di dunia open source telah berkontribusi yang tidak sedikit demi kemanusiaan dan perkembangan teknologi informasi untuk masa kini dan masa yang akan datang.
    Melaui ‘kebodohan’ mereka pula, perkembangan software open source akan semakin cepat karena akan ada banyak orang yang turut berpartisipasi dalam mencari bugs yang mungkin ada untuk kemudian diperbaiki dan dioptimasi serta ditingkatkan fitur-fiturnya.
    8.      Linux itu berdosa
    Ya, ‘berdosa’ kepada pengembang software proprietary karena tidak memberikan ‘pemasukan’ ke ‘kantong’ mereka dikarenakan software proprietary buatannya mendapatkan saingan dari software open source yang lebih murah, halal, dan legal dengan fitur yang tidak kalah (bahkan melebihi fitur-fitur yang ada pada software proprietary tersebut)

    9.      Linux itu menyedihkan
    Sangat menyedihkan malah, bagaimana mungkin sistem operasi dengan usia yang relatif muda ini mampu berkembang pesat seperti sekarang ini, bahkan berani menghadapi sistem operasi proprietary yang telah dikembangkan jauh sebelumnya dan memiliki pangsa pasar yang tidak sedikit di seluruh dunia.
    Bila dulu, banyak pihak yang meramalkan IBM OS/2 adalah sistem operasi masa depan, namun kenyataannya sekarang sungguh berbeda, OS/2 telah ‘down’ (bila tidak ingin dikatakan ‘mati’). Mari kita lihat bagaimana perkembangan Linux beserta software-software open source lainnya beberapa tahun kedepan.
    Yup, diatas adalah beberapa alasan yang cukup logis untuk tidak memakai Linux. Sekarang terserah kepada kamu, masih mau memakai 


    Powered By Blogger

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More