Widget by Blogger Buster

Linux Jatirogo

Selamat datang di Sahabat DW. Sebuah blog berisi tulisan amatir seorang siswa dan penggila Open SOurce Software

Sahabat DW

Kenanglah, karena kenangan terciptu untuk dikenang. Sebuah kenangan akan sangat berarti jika dapat merasakan makna dari kenagan yang terkenang itu

Sahabat DW

Andaikan pengalaman dijual di toko-toko tentu pengalaman akan mudah didapatkan, dan tentunya di dunia ini nggak ada orang yg nggak berpengalaman.

Sahabat DW

Sebuah jejak akan hadir setelah kita memilih untuk melakukan sesuatu, baik buruk jejak tergantung pilihan kita

Sahabat DW

Jangan ragu untuk melangkah, karena takdir dan mimpi tidak pernah salah, mereka berjalan di jalan yang memang seharusnya. Mari abadikan semua ada pada kita dengan menulisnya

14 Aug 2013

Seseorang itu . . .

[Orang Baru Dalam Hidupku]

Siapakah dia? Ah, awalnya aku tak terlalu memperhatikan. Namun dia terlalu berlebih menyanjungku. Sanjungan itu termasuk dalam kategori hal yang tak aku sukai. Kurasa dia datang tidak pada waktu yang tepat, karena aku sedang berniat untuk mengosongkan hatiku dari semua renik asmara. Sepertinya aku tahu kalau dia menyukaiku, namun aku tak akan bilang apapun soal hatiku, maaf-maaf saja aku tak mau mengulangi kesalahan. Lebih baik tetap seperti ini saja.

Aku dan kamu seperti hujan dan batu cadas, selamanya tak bisa bersatu, karena aku tak bisa menyesapmu cukuplah aku menemanimu seperti ini saja, seperti air sungai dan batu karang.

12 Aug 2013

Ruang Gerak

 

Pilihan kadang membuat kita menyesal, namun tidak memilih justru akan membuat kita terpuruk, dan tak jarang menjadikan kita sebagai orang yang munafik.

Ok, kemarin hari-hari sulit untukku. Kehilangan salah seorang sahabat terdekatku dan dan kehilangan seseorang yang biasanya aku jadikan sandaran hati. Setidaknya untuk saat ini aku tak akan membhongi mereka tentang apa yang sedang menggelayut di hatiku. Kadang untuk menjelaskan hal yang sepele itu sulitnya minta ampun, dalam keadaan biasa tentunya tak mungkin seperti itu, namun pada keadaan tertentu tentu tak mudah menjelaskan apa yang seharusnya mudah untuk dijelaskan, karena sebuah alasan. Kupikir cukup aku saja yang tahu, karena aku tak mau memaksamu untuk berfikir sama denganku.

Semalam Egays merengek lagi padaku, sungguh itu adalah rengekan sahabatku yang selalu aku rindukan ketika di pondok. Beberapa waktu lalu, rengekan Ega itu memberiku sebuah pelajaran berharga. “Percuma saja merengek atau menggerutu pada hal yang jelas-jelas tidak akan berubah dengan gerutuan itu, sia-sia belaka. Tak usah menagisi hari kemarin, karena kita hidup di hari ini.” Namun Gays, rengekanmu itu sungguh mencandu di tiap hariku untuk saat ini, entah esok atau lusa.

Sekarang, tak ada siapa2 yang mengisi hatiku, biarlah, mengkin memang sebaiknya kosong terlebih dahulu.

“aku tahu ku takkan bisa

menjadi seperti yang engkau minta”

11 Aug 2013

Bermimpi

Bermimpi sungguh menyenangkan, namun saat bangun dari mimpi sungguh kesal rasanya, lantaran saat bangun kita akan sadar bahwa dunia nyata tak semudah itu penaklukannya, tidak semudah di dalam mimpi.
Omong-omong soal mimpi, dalam benakku, mimpi itu ada dua. Pertama mimpi saat kita tidur, dan yang kedua adalah mimpi saat kita berkhayal dalam keadaan terbangun. Sekali lagi, mimpi itu sungguh menyenangkan, namun juga sungguh menyebalkan bila hanya menjadi sebatas mimpi. Ya, hanya menjadi film yang tak sedikitpun bisa mengubah keadaan.
Semenjak menyadari hal itu, aku selalu berusaha untuk mimpi dalam keadaan sadar, dalam keadaan mengingat betapa sulitnya hidup di skenario sungguhan ini.

Aku Pilih Pergi Saja


Bagaimana aku bisa memasuki rumahmu, jika di sana masih ada seseorang yang berharap besar tak ingin keluar dari rumahku. Aku hendak mengetuk pintu rumahmu, namun aku urungkan, sebab dari luar aku masih mendengar candamu dengan seseorang yang di dadanya terdapat bungan mawar berbentuk hati. Aku jadi kian canggung, saat aku tak jadi bertamu di rumahmu, dan hendak melangkahkan kakiku meninggalkan daun pintu yang masih tertutup setengah, kau malah mamanggilku, hanya suaramu, namun kulihat wajahmu masih saja tetap serius dengan orang yang bahkan aku tak mengenalnya. Aku tak peduli, aku lebih memilih pergi.

9 Aug 2013

Cleaning My Heart


,,semua sudah terjadi. Menangis untuk hari kemarin adalah hal bodoh yang harus aku tinggalkan. Menatap hari esok, kupikir jauh lebih berguna daripada hanya diam seperti ini. Harus ada perubahan.
Untuk semuanya saja, maaf aku tak bisa menjadi apa yang kalian inginkan. Untuk sahabatku, maaf aku tak bisa menjadi sahabat terbaikmu, bahkan aku merusak tali persahabatan kita dengan sebuah hal bodoh yang seharusnya tak pernah kuungkapkan, terkadang berbohong memang aku perlukan, semisal untuk hal-hal seperti ini.
Untuk orang yang menyandarkan hatinya pada padaku, aku juga minta maaf, karena aku tak lagi kuasa untuk kau jadikan tempat bersandar. Aku tahu, di luar sana ada ribuan manusia yang jelas-jelas jauh lebih baik dariku, sebab itu, sekarang pergilah! Jangan penjarakan hatimu dalam tubuhku, karena aku bukan tempat yang baik untuk kau jadikan dermaga, terlebih menambatkan jangkar dan berhenti. Carilah apa yang menurutmu baik, kita tetap teman, tapi aku akan mencoba untuk menghapus semua hasrat itu hari ini. Aku tak mau lagi menahanmu, toh aku juga tak kuasa untuk menahanmu.
Temanku sempat berkata padaku, "menulis nama seseorang di setiap sudut ruang nyatamu, adalah hal paling riil yang membuktikan bahwa kau mencoba memaksa dirimu untuk mencintai pemilik nama itu, cukup simpan saja namanya dalam dada, dan biarkan dia tersenyum di sana. Tak perlulah berjanji manja, karena itu adalah akhir dari kebersamaanmu suatu ketika". Maaf hati.
Sering kali aku mengucapkan kata maaf, dan itu justru membuatku terlihat begitu bodoh. Ya, sangat bodoh. Seharusnya kata maaf itu tak perlu tercipta di dunia ini, karena maaf dalam lamunku adalah simbol kebodahan yang telah kau perbuat, dan baru kau sadari hari ini, dan sebelum itu kau tak pernah mau berfikir bahwa ketika sudah melakukan sesuatu kau perlu kata maaf untuk mengulangi semua, berharap orang-orang di sekitarmu mau melupakan kebodohanmu.
Hari ini, aku masih tak mengerti apa yang harus aku perbuat lagi. Aku tak bisa memaksa hati. Dia seolah-olah berjalan sendiri tanpa menuruti apa yang aku instruksikan dari otak. Seenaknya saja.
Hari ini, aku seolah-olah berlagak menjadi orang paling menyesal di dunia karena telah melakukan sebuah kesalahan besar. Namun aku tak tahu bagaimana dengan hari esokku, akankah masih sama atau sudah melupakan semua ini.
Untuk sahabatku, Anin. Tanpa peduli seberapa bencinya dirimu padaku sekarang, sesuai dengan pilihan hati, kamu tetap akan menempati tempat bernama "Ruang Sahabat" dalam hatiku. Meski esok atau seterusnya tak lagi kudengar suara candamu, suara marahmu, suaramu ketika meremehkanku, aku akan tetap menyimpan semua nada yang pernah terlantun dan sempat kita lewati sebagai seorang "teman".
Untuk sahabatku, Anin. Mungkin, bahkan memang aku tak mungkin dapat melebihi dirimu, tapi setidaknya melihat seorang temanku dapat membusurkan senyumnya, itu sudah cukup untukku. Sudah cukup untuk membuatku juga tersenyum, meskipun kamu tidak tahu. Aku yakin kamu tidak akan pernah tahu, karena aku menyembunyikannya sejak aku mulai mengenalmu.
,,ah bukan. Bukan, aku bukan bermaksud untuk memaksamu melupakan kebodohanku tempo hari. Itu semua terserah kamu. Aku selalu percaya, menjadi pemuja rahasia, itu jauh lebih baik. Tersenyum dengan sembunyi-sembunyi saat kamu bahagia itu lebih baik, karena aku memang orang yang gagal dalam banyak hal, termasuk menjadi temanmu.
,,ah bukan. Bukan, aku bukan mengutuki diriku sendiri.
Untuk sahabat diamku, aku akan selalu merindukan merajut kisah bersama dirimu.
Tersenyum untuk sahabatku, meski tak terbalas tak apa, karena ssahabat bukan menggunakan rumus aksi reaksi. Bahkan Enstein sekalipun tak akan sanggup membuat rumus yang pas itu sebuah persahabatan.
Untuk sahabatku, Anin. :-)

Powered By Blogger

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More